Sumber: atestlaws.com
Oleh: rfvfra
Menjadi mahasiswa sering kali dianggap sebagai masa paling indah dalam hidup. Namun di balik kebebasan dan semangat menimba ilmu itu, tersimpan berbagai tekanan yang tidak sedikit. Tugas kuliah yang menumpuk, ujian bertubi-tubi, serta tuntutan organisasi sering membuat mahasiswa berada di ambang stres. Tak jarang, kondisi ini berdampak pada kesehatan mental, bahkan menurunkan motivasi belajar mahasiswa.
Fenomena stres di kalangan mahasiswa bukan lagi hal baru. Berdasarkan berbagai penelitian psikologi dan banyaknya berita yang beredar, sebagian besar mahasiswa mengalami stres akademik dalam berbagai tingkatan. Stres yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan gangguan konsentrasi, kelelahan emosional, hingga burnout. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana cara mengelola stres dan menerapkan teknik relaksasi yang efektif agar kehidupan akademik tetap seimbang.
Stres pada mahasiswa umumnya disebabkan oleh kombinasi antara tekanan akademik, sosial, dan pribadi. Tugas yang menumpuk dengan tenggat waktu ketat, ekspektasi tinggi dari diri sendiri maupun keluarga, serta persaingan akademik seringkali menjadi sumber utama. Selain itu, adaptasi terhadap lingkungan baru dan kesulitan mengatur waktu juga memperburuk keadaan.
Dalam menghadapi stres, manajemen menjadi kunci utama. Mahasiswa perlu mengenali sumber stres mereka terlebih dahulu agar dapat menentukan langkah yang tepat. Strategi seperti membuat jadwal belajar yang realistis, membagi waktu antara belajar dan istirahat, serta menerapkan prinsip work-life balance dapat membantu mengurangi tekanan. Selain itu, teknik relaksasi terbukti ampuh untuk menenangkan pikiran. Contohnya adalah latihan pernapasan dalam deep breathing, meditasi, yoga, atau olahraga ringan seperti jalan santai dan bersepeda. Aktivitas-aktivitas tersebut membantu menurunkan kadar hormon stres (kortisol) dalam tubuh dan memperbaiki suasana hati.
Manusia memiliki fase dalam kehidupan, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan pada fase terakhir adalah lansia (lanjut usia). Remaja merupakan fase paling penting dalam kehidupan manusia di mana remaja menggambarkan fase kehidupan yang menjadi masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa remaja banyak sekali perkembangan yang akan terjadi, baik itu perkembangan dari segi biologis, psikologis, dan sosial yang membuat remaja memiliki banyak potensi untuk perubahan kehidupan.
Stres adalah kondisi tidak nyaman yang timbul akibat lingkungan sekitar. Itu merupakan satu faktor utama munculnya masalah sosial dan kesehatan. Stres yang berkelanjutan juga dapat berdampak pada masalah kesehatan jiwa. Tak kalah penting, menjaga pola hidup sehat juga berpengaruh besar terhadap kestabilan mental. Tidur yang cukup, asupan gizi seimbang, serta menghindari konsumsi kafein atau rokok berlebih adalah langkah sederhana namun efektif. Mahasiswa juga sebaiknya menghindari kebiasaan menunda-nunda tugas dan melatih kemampuan berpikir positif agar tidak terjebak dalam tekanan yang terus menumpuk.
Selain upaya individu, dukungan sosial pun memiliki peran penting. Mahasiswa perlu membangun hubungan yang baik dengan teman, dosen, maupun keluarga. Bercerita dan berbagi perasaan dapat menjadi bentuk pelepasan emosional yang sehat. Kampus juga diharapkan menyediakan layanan konseling untuk membantu mahasiswa yang mengalami tekanan mental berat.
Schafer (2000) mengemukakan manajemen stress sebagai suatu kemampuan individu untuk mengelola stres yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Meichenbaum dan Jaremko (dalam Taylor, 1995) ada tiga tahap dalam program manejemen stres yaitu:
- Tahap pertama, partisipan manajemen stres belajar mengenal stres dan bagaimana mengenali sumber stres yang muncul dalam kehidupannya.
- Tahap kedua, partisipan mendapatkan dan mempraktekkan keterampilan coping terhadap stres.
- Tahap ketiga, partisipan mempraktekkan teknik manajemen stres pada suatu peristiwa dan dilihat keefektifannya.
Pada akhirnya, stres adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa, tetapi bukan berarti tidak bisa dikendalikan. Dengan menerapkan manajemen stres yang tepat dan teknik relaksasi yang teratur, mahasiswa dapat menjaga keseimbangan antara tanggung jawab akademik dan kesehatan mental. Mahasiswa yang mampu mengelola stres bukan hanya menjadi pribadi yang kuat, tetapi juga cerdas secara emosional dan siap menghadapi tantangan masa depan dengan tenang dan percaya diri.Stres pada mahasiswa dapat dikelola dengan mengenali sumber stres, menerapkan manajemen stres yang efektif, dan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, dan olahraga ringan, serta menjaga pola hidup sehat dan dukungan sosial yang baik. Dengan demikian, mahasiswa dapat menjaga keseimbangan antara tanggung jawab akademik dan kesehatan mental.
Daftar Pustaka:
- Idris I, Pandang A. Efektivitas Problem Focused Coping Dalam Mengatasi Stress Belajar Siswa Pada Pelajaran Matematika. J Psikol Pendidik Dan Konseling J Kaji Psikol Pendidik Dan Bimbing Konseling [Internet]. 25 Juni 2018 [dikutip 13 Maret 2020];4(1):63–8. Tersedia pada: https://ojs.unm.ac.id/JPPK/article/view/5896
- Mawaddah N, Titiani E. Efektifitas Group Discussion Therapy Dalam Menurunkan Stres Remaja di MTs Pesantren Al-Amin Mojokerto. Medica Majapahit [Internet]. 17 Oktober 2016 [dikutip 3 November 2020];8(2):21–30. Tersedia pada: http://103.38.103.27/lppm/index.php/MM/art icle/view/112
- Prameswari V. Apa itu Stres dan Bagaimana Cara Mengatasinya? [Internet]. Zenius. 2017 [dikutip 12 Maret 2020]. Tersedia pada: https://www.zenius.net/blog/16996/mengatas i-stres
- Taylor, S.E. 1995. Health Psychology. Singapore: McGraw-Hill Book Co.
- Willy T. Stres [Internet]. Alodokter. 2019 [dikutip 13 Maret 2020]. Tersedia pada: https://www.alodokter.com/stres

Leave a Reply