SIGAP-TB: Langkah Sinergis Dokter Muda FK UNAIR dan Aparat untuk Eliminasi Tuberkulosis di Banyuwangi
SIGAP-TB: Langkah Sinergis Dokter Muda FK UNAIR dan Aparat untuk Eliminasi Tuberkulosis di Banyuwangi
Oleh: Kelompok Puskesmas Pesanggaran
Masalah kesehatan masyarakat tidak akan pernah bisa diselesaikan jika hanya mengandalkan sektor kesehatan sendirian. Menyadari pentingnya kolaborasi lintas sektor yang nyata, Dokter Muda Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) sukses menginisiasi dan meluncurkan program SIGAP-TB (Sistem Integrasi Gerak Aparat dan Puskesmas untuk TB) di Desa Sumbermulyo, Wilayah Kerja Puskesmas Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.
Kegiatan yang berlangsung intensif pada periode Juni 2026 ini merupakan bagian dari rangkaian program Work With Community (WWC) dalam Kepaniteraan Klinik Community Medicine. Program ini hadir sebagai wujud nyata kontribusi dan pengabdian para calon dokter dalam mendukung akselerasi eliminasi Tuberkulosis (TB) langsung dari akar rumput.
Menyingkap Tabir Permasalahan TB di Desa Sumbermulyo
Indonesia saat ini masih berada di posisi kedua dunia dalam beban kasus TB global, sebuah fakta yang menegaskan bahwa penyakit infeksi menular ini masih menjadi ancaman serius. Tantangan ini juga dirasakan di tingkat wilayah kerja Puskesmas Pesanggaran, di mana penemuan kasus belum mencapai target maksimal dan angka kepatuhan pengobatan pasien masih perlu ditingkatkan agar terhindar dari risiko TB Resisten Obat (TB-RO).
Untuk memetakan masalah secara objektif, para Dokter Muda FK UNAIR terlebih dahulu melakukan survei lapangan dan wawancara menggunakan kuesioner kepada 44 responden warga Desa Sumbermulyo pada tanggal 4 Juni 2026. Hasil yang ditemukan di lapangan cukup mengejutkan dan membuka mata:
- Pengetahuan Masih Kategori Sedang: Sebanyak 77,27% responden memiliki tingkat pemahaman yang biasa saja/sedang mengenai TB, dan hanya 13,64% yang memiliki pengetahuan baik. Warga umumnya masih keliru atau bingung mengenai penyebab, mekanisme penularan, serta durasi pengobatan TB yang membutuhkan waktu minimal 6 bulan.
- Persepsi Negatif yang Tinggi: Mayoritas responden (59,09%) menunjukkan persepsi yang negatif terhadap penyakit TB. Kondisi ini memicu lahirnya stigma sosial di masyarakat.
Dampaknya, kesenjangan pemahaman dan tingginya stigma ini membuat warga yang mengalami gejala batuk persisten cenderung menutup diri, takut memeriksakan diri ke fasyankes, atau bahkan tidak patuh minum obat karena merasa malu. Hal inilah yang menjadi mata rantai tersembunyi penularan TB di komunitas.
Lokakarya Komunitas: Merumuskan Solusi Berbasis Lintas Sektor
Merespons temuan tersebut, para Dokter Muda FK UNAIR tidak tinggal diam. Pada tanggal 9 Juni 2026, bertempat di Balai Desa Sumbermulyo, digelar sebuah Lokakarya Komunitas yang menjadi wadah diskusi tingkat tinggi.
Uniknya, lokakarya ini tidak hanya mengundang pihak medis, melainkan mempertemukan seluruh stakeholder penting di wilayah tersebut melalui metode Nominal Group Technique (NGT) Delbecq. Ruangan balai desa dipenuhi oleh perwakilan dari Puskesmas Pesanggaran, perangkat desa dan dusun, kader kesehatan, hingga aparat keamanan kewilayahan yaitu Babinsa (TNI) dan Bhabinkamtibmas (Polri). Semua pihak duduk bersama, menyisihkan sekat birokrasi, demi membedah akar masalah dan menyepakati solusi taktis yang bisa diterapkan secara berkelanjutan.
Dari rembuk bersama tersebut, lahirlah sebuah inovasi program berupa penyusunan dan sosialisasi SOP Kolaborasi Desa-Puskesmas untuk Penanggulangan TB yang dinamakan SIGAP-TB. Keberhasilan lokakarya ini pun dikunci secara legal melalui penandatanganan Nota Kesepakatan Lintas Sektor oleh Kepala Puskesmas, Kepala Desa, Perwakilan Babinsa/Bhabinkamtibmas, serta koordinator kader.
Mengenal SOP SIGAP-TB: Menjadikan Aparat dan Kader sebagai Ujung Tombak
SOP SIGAP-TB dirancang khusus sebagai panduan teknis yang aplikatif di lapangan untuk mengintegrasikan gerak aktif seluruh elemen desa. Melalui sistem integrasi ini, peran masing-masing sektor dibagi secara presisi:
| Sektor Terkait | Peran Strategis dalam Program SIGAP-TB |
| Kader Kesehatan | Melakukan skrining aktif di posyandu atau kunjungan rumah, memberikan edukasi berbasis booklet, serta menjadi Pengawas Menelan Obat (PMO). |
| Aparat Kewilayahan (Babinsa & Bhabinkamtibmas) | Mendampingi petugas kesehatan dalam investigasi kontak erat dan memberikan pendekatan persuasif jika ada pasien yang enggan berobat atau putus obat. |
| Perangkat Desa & Dusun | Memberikan dukungan kebijakan, menggerakkan massa untuk sosialisasi, serta memfasilitasi pelaporan kasus berbasis wilayah. |
| Puskesmas Pesanggaran | Menjadi pusat konfirmasi diagnosis melalui Tes Cepat Molekuler (TCM), menyuplai logistik obat, dan melakukan monitoring berkala. |
Dengan adanya SOP ini, penemuan kasus baru tidak lagi bersifat pasif (menunggu pasien datang ke puskesmas), melainkan aktif menjemput bola ke lingkungan rumah warga.
Antusiasme Tinggi demi Desa Bebas Tuberkulosis
Pelaksanaan seluruh rangkaian program SIGAP-TB ini berjalan dengan sangat lancar dan memicu antusiasme yang luar biasa dari seluruh peserta. Para kader kesehatan dan tokoh masyarakat aktif berdiskusi serta siap mengimplementasikan SOP yang telah disepakati. Komitmen yang kuat dari aparat TNI dan Polri juga memberikan rasa optimisme baru bahwa penanggulangan TB di Desa Sumbermulyo akan berjalan jauh lebih efektif, humanis, dan terstruktur.
Bagi para Dokter Muda FK UNAIR, turun langsung ke lapangan melalui program Work With Community Memberikan pelajaran yang sangat berharga. Mereka belajar bahwa menyembuhkan pasien tidak hanya sebatas menuliskan resep obat di dalam ruang periksa, melainkan juga harus mampu merangkul komunitas, meruntuhkan stigma sosial, dan menggerakkan dinamika sosial masyarakat. Melalui SIGAP-TB, sebuah fondasi kolaborasi telah diletakkan, membawa harapan besar bagi terwujudnya Kabupaten Banyuwangi yang sehat dan bebas dari Tuberkulosis.
