Lolos Pendanaan PKM, Mahasiswa UNAIR Teliti Buah Merah Papua untuk Terapi Osteoartritis
Lolos Pendanaan PKM, Mahasiswa UNAIR Teliti Buah Merah Papua untuk Terapi Osteoartritis
Oleh: Anindtata
Tim Osteosome Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) melalui penelitian yang mengangkat potensi buah merah Papua (Pandanus conoideus) sebagai kandidat terapi osteoartritis. Penelitian tersebut berfokus pada pemanfaatan bahan alam Indonesia untuk mengembangkan alternatif terapi yang tidak hanya mengurangi gejala, tetapi juga berpotensi menargetkan mekanisme penyakit secara lebih komprehensif.
Tim PKM diketuai oleh Bayu Cahyo Bintoro dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dengan anggota Intan Asmi dan Muhammad Darryl dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM), Anindita Azkia Fauzana dari Fakultas Kedokteran (FK), serta Barika Zoyscia dari Fakultas Farmasi (FF). Kolaborasi lintas disiplin tersebut menggabungkan keahlian di bidang kedokteran, farmasi, teknik, dan kesehatan untuk mengembangkan formulasi terapi berbasis sumber daya hayati Indonesia.
Bayu menjelaskan bahwa penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya prevalensi osteoartritis, terutama pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia. Hingga saat ini, sebagian besar terapi yang tersedia masih berorientasi pada pengendalian nyeri dan inflamasi, sementara proses degenerasi tulang rawan terus berlangsung. Di sisi lain, penggunaan obat antiinflamasi jangka panjang juga berpotensi menimbulkan efek samping sehingga diperlukan alternatif terapi yang lebih aman dan efektif.
Melalui penelitian ini, tim memanfaatkan buah merah Papua karena diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti karotenoid, tokoferol, asam lemak, serta antioksidan alami. Kandungan tersebut berpotensi menghambat stres oksidatif dan jalur inflamasi yang berperan dalam perkembangan osteoartritis. Selain memberikan peluang dalam pengembangan terapi, pemanfaatan buah merah Papua juga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah biodiversitas Indonesia sebagai sumber bahan baku produk kesehatan.
Saat ini, penelitian memasuki tahap persiapan setelah memperoleh pendanaan PKM. Beberapa kegiatan yang tengah dilakukan meliputi penyelesaian administrasi penelitian, pengurusan izin etik hewan coba, serta karakterisasi bahan baku. Tahap berikutnya akan difokuskan pada pengujian formulasi menggunakan model hewan osteoartritis untuk mengevaluasi efektivitas kandidat terapi melalui analisis biomarker inflamasi dan perubahan histopatologi jaringan kartilago.
Seluruh hasil penelitian nantinya akan dianalisis secara statistik dan disusun menjadi laporan kemajuan serta publikasi ilmiah sebagai luaran Program Kreativitas Mahasiswa. Tim berharap penelitian ini dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan terapi osteoartritis berbasis bahan alam Indonesia sekaligus membuka peluang kolaborasi lanjutan dengan peneliti dan industri farmasi agar hasil riset dapat dikembangkan menuju tahap hilirisasi.
“Kami berharap penelitian ini tidak berhenti pada tahap PKM saja. Ke depan, kami ingin terus mengembangkan potensi buah merah Papua agar dapat menjadi dasar pengembangan terapi osteoartritis yang memiliki bukti ilmiah kuat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutup Bayu.
