Karhutla Meluas di Pulau Jawa, Ratusan Hektare Kawasan Konservasi Hangus
Gambar dilansir dari: https://firemaptoday.com/id/kebakaran-harian/2026-10-16 (16 Oktober 2026)
Oleh: AB
Gelombang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah kawasan pegunungan di Pulau Jawa. Memasuki pertengahan hingga akhir Oktober 2026, kebakaran terjadi di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Gunung Lawu di Jawa Tengah serta Gunung Arjuno dan Ringgit di Jawa Timur. Kebakaran tersebut mengancam kawasan hutan dan konservasi serta menyulitkan upaya pemadaman akibat kondisi medan dan cuaca.
Berdasarkan laporan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karanganyar, Sugiharjo pada tulisan Kompas.com pada Jumat (23/10/2026), kebakaran di lereng Gunung Lawu telah menghanguskan sekitar 875 hektare lahan. Meskipun jumlah titik api mulai berkurang, upaya pemadaman masih menghadapi kendala. Dalam laporan sebelumnya, BNPB mencatat luas lahan terbakar di lereng Gunung Lawu mencapai 200 hektare hingga 17 Oktober 2026. Perbedaan angka tersebut menunjukkan perkembangan luas kebakaran berdasarkan waktu pelaporan yang berbeda.
Selain Gunung Lawu, kebakaran hutan juga melanda kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, yang mencakup wilayah pegunungan Arjuno dan Ringgit di Jawa Timur. Dilansir dari pemberitaan Kompas.com pada 19 Oktober 2026, kebakaran di kawasan tersebut belum sepenuhnya padam dan puluhan titik api masih terpantau. Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini, menyampaikan bahwa pemadaman masih dilakukan melalui jalur darat.
“Untuk apinya belum padam. Pemadamannya ditempuh dengan jalur darat,” ujar Agustiningtyas Marini, sebagaimana dikutip dari pemberitaan mengenai kebakaran Gunung Arjuno-Ringgit pada 19 Oktober 2026.
Skala kebakaran di Jawa Timur juga tercermin dalam data resmi BNPB. Berdasarkan laporan pada 23 Oktober 2026, kebakaran hutan dan lahan telah berdampak pada 26 kabupaten/kota dengan total 184 kejadian. Luas lahan terbakar mencapai 11.449 hektare, dengan 77,05% diantaranya merupakan kawasan hutan konservasi. Data tersebut menunjukkan besarnya dampak karhutla terhadap kawasan hutan yang memiliki fungsi penting bagi kelestarian lingkungan.
Dalam penanganannya, BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan masyarakat sekitar terus memperkuat koordinasi untuk memadamkan kebakaran. Pada 23 Oktober 2026, BNPB mengumumkan penambahan satu helikopter untuk mendukung operasi water bombing serta satu pesawat untuk mendukung operasi modifikasi cuaca di Jawa Timur. Selain upaya pemadaman, pencegahan kebakaran juga menjadi perhatian. BNPB menghimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar. Aktivitas pembakaran yang tidak terkendali dapat memperbesar risiko kebakaran, terutama ketika kondisi vegetasi kering dan angin kencang mendukung penyebaran api.
Dalam hal penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah terjadi di berbagai wilayah Indonesia, koordinasi antara pemerintah, petugas lapangan, pengelola kawasan konservasi, dan masyarakat diperlukan untuk menekan risiko kebakaran berulang serta meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
