Desakan Asap Tebal Karhutla, Masyarakat Ingin Kepedulian
Desakan Asap Tebal Karhutla, Masyarakat Ingin Kepedulian
Oleh: Zala Dana
Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) masih terus berlanjut. Kemenkes RI mencatat 306.309 kasus ISPA per 18 Oktober 2026. Hal ini menunjukkan bahwa dampak Karhutla masih terus dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Kondisi ini tentunya memerlukan perhatian khusus dari pemerintah Indonesia. Karhutla dapat memicu terjadinya ISPA karena partikel kecil dan debu asap tebalnya dapat terhirup oleh manusia. Paparan terus menerus partikel-partikel tersebut dapat memicu iritasi pada saluran pernapasan. Orang dengan penyakit pernapasan tentu dapat diperburuk kondisinya akibat paparan berulang tersebut. Selain itu, kelompok-kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil juga perlu diperhatikan.
Alih-alih menunjukkan rasa empati dan peduli terhadap tingginya kasus ISPA akibat Karhutla, respons beberapa pejabat dirasa tidak sesuai. “Saya masih berasa enjoy-enjoy saja selama beraktivitas,” ucap salah satu pejabat Indonesia. Kalimat tersebut seakan-akan menunjukkan bahwa kasus ISPA dan Karhutla belum mendapatkan perhatian penuh. “Roda kehidupan masyarakat masih normal dan aman,” ucap pejabat lainnya. Kalimat tersebut sangat berkebalikan dengan fakta yang berada di lapangan. Banyak petani merasa kesulitan untuk melaksanakan pekerjaannya akibat diselimuti oleh asap tebal Karhutla. Selain itu, balita juga rentan terkena ISPA akibat asap tebal Karhutla. Sebanyak 62.400 balita berusia 0-5 tahun terkena ISPA per 12 Oktober 2026. Hal ini dapat terjadi karena balita masih belum memiliki imunitas tubuh yang baik untuk melindungi dirinya sendiri.
Masyarakat tentu memiliki harapan besar terhadap pemerintah agar dapat menangani kasus Karhutla sesegera mungkin. Dampak karhutla sudah cukup besar terhadap kesehatan, mobilitas, dan aktivitas masyarakat. Haruskah menunggu asap tebal Karhutla sampai di Ibukota Negara baru pemerintah turun tangan?
