Ketika Remaja Membutuhkan Pertolongan, Siapa yang Mendengarkan?

Oleh: Difa Aulia 

Sumber: https://cdn.pixabay.com/photo/2014/11/05/09/47/girl-517555_1280.jpg

Tidak semua remaja yang sedang menghadapi masalah berani menceritakannya. Ada yang memilih diam karena takut dianggap berlebihan. Ada pula yang tetap tertawa bersama teman-temannya, meskipun sebenarnya sedang menyimpan banyak tekanan. Dari luar, mereka mungkin terlihat baik-baik saja. Namun, belum tentu demikian dengan apa yang mereka rasakan.

Kita sering meminta remaja untuk lebih kuat menghadapi masalah. Mereka dinasihati agar tidak mudah menyerah dan lebih fokus pada masa depan. Nasihat tersebut memang tidak salah. Namun, kita juga perlu bertanya, apakah lingkungan di sekitar mereka sudah cukup aman untuk membuat mereka berani meminta bantuan?

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa persentase siswa berusia 13–17 tahun di Indonesia yang pernah serius mempertimbangkan bunuh diri dalam 12 bulan sebelumnya meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023 (WHO, 2024). Data ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental remaja bukan persoalan yang bisa dianggap sepele.

Layanan Tersedia, tetapi Apakah Mudah Diakses?

Indonesia telah memiliki berbagai fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas yang menyediakan pelayanan kesehatan peduli remaja. Namun, keberadaan fasilitas belum tentu membuat semua remaja merasa nyaman untuk menggunakannya.

Sebagian remaja mungkin tidak mengetahui tempat untuk berkonsultasi. Ada pula yang takut ceritanya diketahui orang lain atau khawatir mendapat penilaian negatif. Akibatnya, mereka memilih diam meskipun sebenarnya membutuhkan bantuan.

Sebagai mahasiswi kebidanan, saya memandang bahwa pelayanan kesehatan seharusnya tidak hanya berfokus pada pengobatan. Edukasi dan pencegahan juga perlu diperhatikan, termasuk kesehatan mental dan kesehatan reproduksi. Remaja membutuhkan informasi yang benar serta kesempatan untuk bertanya tanpa merasa malu atau dihakimi.

Karena itu, tenaga kesehatan perlu membangun komunikasi yang terbuka dan menghargai privasi. Remaja harus merasa bahwa fasilitas kesehatan merupakan tempat yang aman untuk memperoleh informasi maupun pertolongan.

Jangan Menunggu Sampai Masalah Membesar

Keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan remaja. Orang tua perlu menyediakan ruang bagi anak untuk bercerita tanpa langsung menyalahkan. Terkadang, kesediaan untuk mendengarkan jauh lebih dibutuhkan daripada nasihat panjang.

Sekolah juga perlu menyediakan jalur bantuan yang jelas. Guru tidak harus menggantikan peran psikolog, tetapi perlu mengetahui cara merespons siswa yang sedang mengalami kesulitan dan menghubungkannya dengan tenaga profesional apabila diperlukan.

Sementara itu, puskesmas dapat memperkuat edukasi dan konsultasi melalui kerja sama dengan sekolah serta keluarga. Informasi mengenai layanan harus mudah ditemukan, prosedur konsultasi perlu dijelaskan, dan sistem rujukan harus berjalan dengan baik.

Keberhasilan program kesehatan remaja juga tidak cukup diukur dari banyaknya penyuluhan yang dilakukan. Hal yang lebih penting adalah apakah remaja memahami layanan yang tersedia, merasa aman ketika mengaksesnya, dan memperoleh bantuan yang dibutuhkan.

Kesehatan Remaja Adalah Tanggung Jawab Bersama

Membangun pelayanan kesehatan yang ramah remaja memang membutuhkan perhatian dan kerja sama berbagai pihak. Namun, membiarkan masalah berkembang hingga menjadi lebih berat juga membawa konsekuensi.

Kita tidak bisa hanya berharap remaja tumbuh menjadi generasi yang tangguh. Kita juga harus menciptakan lingkungan yang membuat mereka berani mengakui kesulitan dan mencari bantuan tanpa rasa takut.

Kesehatan remaja bukan urusan nanti, ketika mereka sudah dewasa atau ketika masalahnya terlanjur besar. Mereka membutuhkan perhatian hari ini. Sebab, generasi yang kuat bukanlah generasi yang tidak pernah mengalami kesulitan, melainkan generasi yang tahu bahwa mereka tidak harus menghadapinya sendirian.