Menyalakan Harapan di Tanah Papua: Kisah Pengabdian dr. Amira Abdat, Sp.OG
Sumber: Dok. Pribadi dr. Amira
Oleh: Caroline Abelia, Ayesha Early, Erinda Fairuz
Di sudut Timur Indonesia, Fakfak, Papua Barat, seorang dokter perempuan memilih jalan yang tak biasa. Beliau meninggalkan kenyamanan kota besar dan menukar hiruk pikuk metropolitan dengan ketenangan pesisir Papua. Seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Amira Ali Abdat, Sp.OG., M.Ked.Klin, memilih menapaki perjalanan panjang dalam pengabdian di daerah yang sering diabaikan dalam perkembangan kesehatan Indonesia.
Dr. Amira lahir dan dibesarkan di Bogor. Beliau kemudian memulai langkahnya dengan menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Trisakti. Setelah mendapatkan gelar dokter, perjalanan dimulai dengan menjejakkan kaki di Fakfak, Papua Barat untuk mengabdi. Bagi beberapa orang, Fakfak mungkin tampak sebagai tempat yang jauh dan banyak memiliki kekurangan. Namun, justru di sanalah makna sejati dari profesi dokter ditemukan. Beliau menyadari bahwa menjadi dokter bukan hanya tentang menyembuhkan, melainkan juga tentang hadir dengan ketulusan dan mendengarkan dengan empati.

Sumber: Dok. Pribadi dr. Amira
Sejak tahun 2020, dr. Amira bertugas di RSUD Fakfak, satu-satunya rumah sakit di wilayah itu. Ketika pertama kali sampai di sana, dr. Amira mengerti bahwa keberhasilan dalam pelayanan medis tidak hanya bergantung pada pengetahuan, tetapi juga pada kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat. Silaturahmi aktif dibangun mulai rumah ke rumah lewat perbincangan dengan para penduduk, dan membangun hubungan dengan tokoh masyarakat setempat. Untuk mencapai wilayah-wilayah terpencil, beliau harus melalui perjalanan yang penuh tantangan, menggunakan kapal kecil menyusuri danau yang belum terjamin keselamatannya. Meskipun demikian, hal itu tidak meruntuhkan semangatnya untuk terus memperjuangkan kesehatan warga Papua. Beliau hadir bukan sekadar untuk menjalankan tugas, tetapi untuk menyentuh kehidupan dengan ilmu, empati, dan semangat yang tidak pernah padam.

Sumber: Dok. Pribadi dr. Amira
Di Fakfak, banyak ibu lebih memilih melahirkan di rumah daripada ke rumah sakit, karena jarak dan risiko perjalanan yang tinggi. Melihat kondisi itu, dr. Amira memutuskan untuk terjun langsung ke lapangan mengunjungi rumah-rumah warga, memeriksa ibu hamil, dan memberi penyuluhan tentang pentingnya persalinan aman. Beliau percaya bahwa perempuan di daerah terpencil berhak mendapatkan layanan medis yang sama layaknya mereka yang hidup di kota besar.
Tak berhenti sampai di sana, ketekunan dr. Amira membawa beliau untuk berkesempatan meraih beasiswa Kementerian Kesehatan RI untuk menempuh pendidikan spesialis obstetri dan ginekologi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, lalu melanjutkan ke subspesialis onkologi ginekologi di kampus yang sama pada tahun 2025. Selain itu, dr. Amira juga membawa semangat edukasi ke ranah digital. Melalui akun TikTok-nya yang diikuti lebih dari 2,2 juta orang, beliau mengubah media sosial menjadi ruang belajar yang ringan tetapi bermakna dalam menyampaikan isu kesehatan reproduksi perempuan, peran dokter di daerah, hingga edukasi obstetri dalam bahasa yang mudah dicerna oleh orang awam.
Tak heran, deretan penghargaan nasional pun mengalir. Beliau dianugerahi Merdeka Awards Sosok Inspiratif Indonesia (2023), Tiktok Awards Changemaker of the Year (2024), Liputan 6 SCTV Awards bidang Kesehatan (2024), serta Sosok Inspiratif Kartini dari Kemendikbud RI (2024). Namun, dibalik popularitasnya, beliau tetap rendah hati. “Tak perlu menjadi sempurna, cukuplah berguna bagi sesama”. Kalimat sederhana itu menjadi semboyan hidupnya.

Sumber: Dok. Pribadi dr. Amira
Sebagai pendiri Tim Kemanusiaan Gerakan Jemput Bola, dr. Amira kerap terjun langsung ke masyarakat, memberikan edukasi kesehatan, dan membantu mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Beliau juga aktif sebagai narasumber nasional dan internasional, berbagi tentang pengalaman menjadi dokter spesialis di daerah terpencil, mulai dari PIT POGI 2023, seminar HIV/AIDS di Bintuni, hingga webinar internasional tentang penanganan persalinan dengan trauma minimal. Kini, dengan amanah baru sebagai pengurus pusat POGI bidang komunikasi digital (2025–2028), dr. Amira membawa semangat Papua ke kancah nasional.
Perjalanan dr. Amira Abdat bukan kisah tentang gelar atau ketenaran. Namun, kisah tentang keberanian seorang perempuan yang memilih jalan sulit agar orang lain mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik, karena sejatinya, pengabdian tidak selalu lahir dari tempat nyaman, tetapi dari panggilan hati yang tulus untuk melayani.
