Kebebasan Bersuara Tanpa Nama: Menganalisis Anonimitas dan Kebebasan Berpendapat di Unair Menfess

Kebebasan Bersuara Tanpa Nama:
Menganalisis Anonimitas dan Kebebasan Berpendapat di Unair Menfess

Munculnya Menfess di Era Digital

Menurut kalian, apakah kebebasan berpendapat itu? Bagi sebagian orang, ia adalah hak fundamental untuk menyampaikan gagasan dan menyampaikan nurani tanpa rasa takut. Namun, di era informasi yang bergerak begitu cepat, cara kita mengutarakan pendapat telah bertransformasi secara drastis melalui media digital.

Menjamurnya menfess, singkatan dari mention confess, baik di X (Twitter) maupun Instagram merupakan sebuah representasi dari perubahan cara kita berkomunikasi di era digital. Ruang ini menawarkan proses yang sederhana namun khas: siapa saja dapat men-submit pesan melalui tautan, lalu sistem akan menyiarkannya ke publik secara anonim di platform yang telah dirincikan. Di ruang virtual yang anonim ini tidak ada lagi batasan prodi, fakultas, dan kelas. Semua bisa mengutarakan pendapatnya, mulai dari mahasiswa baru, mahasiswa lama, hingga ke dosen sekalipun. Lebih lanjut lagi, suara mahasiswa baru memiliki kesempatan engagement dan potensi daya ledak yang setara dengan opini mahasiswa lama, sehingga di mata menfess, semua bisa tampil secara setara di panggung digital.

Pendatang Baru yang Menggejolakkan Kampus

Munculnya akun-akun menfess kampus tidak hanya terjadi di Unair saja. Di kampus-kampus lain juga mulai bermunculan akun-akun menfess yang terlihat juga mirip-mirip secara estetika dan format postingan seperti ITB Menfess, Menfess Unesa, dan kampus-kampus lain.

Dalam hal akun Unair Menfess, kini akun tersebut bukan lagi sebuah pendatang baru yang menghadirkan ruang alternatif untuk mahasiswa bisa saling berpendapat. Dengan unggahan postingan yang menyentuh 1500 postingan per hari Jumat (11/09), Unair Menfess telah menjelma menjadi sebuah pusat berekspresi seluruh kalangan mahasiswa kampus ini. Jika kita lihat dan membaca isi-isi menfess yang ada di dalamnya, terdapat berbagai macam pertanyaan seputar akademik, kuliner, kehidupan mahasiswa, hingga hal-hal yang berbau romansa.

Namun, tidak semua 1500 postingan tersebut berisi hal-hal di atas. Di sela-selanya, beberapa postingan tersebut juga menyimpan kritik-kritik tajam mengenai perilaku mahasiswa lain, sindiran terhadap budaya atau acara organisasi tertentu, hingga luapan amarah baik terhadap orang maupun sistem itu sendiri. Dikarenakan tidak ada wajah yang terlihat, orang-orang mulai berani mengutarakan hal-hal yang selama ini dianggap tidak baik atau kontroversial untuk dibicarakan secara terbuka. Hal ini pada akhirnya menjadikan Unair Menfess semacam titik pusat di mana percikan api isu sekecil apa pun bisa dengan cepat memicu ‘kebakaran’ yang lebih besar. Kolom komentar pun berubah menjadi arena perdebatan dengan berbagai macam opini, membuat lingkungan digital kampus menjadi bergejolak dan sulit ditebak dibandingkan di dunia nyata.

Melepas Topeng Sosial dan Memakai Topeng Anonim

Sadar atau tidak, di dunia nyata hampir semua dari kita mengenakan ‘topeng sosial’. Topeng ini dibentuk oleh norma kesopanan, ekspektasi lingkungan, hingga oleh self-image yang kita bentuk sendiri. Ketika seseorang memutuskan untuk mengirim pesan di sebuah menfess secara anonim, sebuah perubahan perilaku mungkin terjadi. Hal ini bisa dialami karena saat kita berlindung di balik ‘topeng’ anonim, rasa takut akan sanksi sosial, teguran dari orang lain, dan rusaknya hubungan pertemanan seketika memudar. Filter-filter yang selama ini kita pakai di topeng sosial kita, seolah lepas dan topeng anonim memberikan kita kebebasan untuk menyuarakan isi-isi pikiran yang berkecamuk di kepala.

Bagi sebagian orang, ‘kebebasan’ yang diberikan oleh topeng anonim ini melahirkan keberanian semu. Mereka yang biasanya pasif dan menghindari konflik di bangku kuliah, berubah menjadi sosok yang vokal, konfrontatif, dan kritis di dunia maya. Namun, tanpa adanya inhibisi sosial, batasan antara kebebasan berpendapat dan agresi secara verbal bisa menjadi sangat kabur. Emosi terpendam yang seharusnya bisa dikelola menjadi kritik yang konstruktif, bisa dengan mudah berubah ataupun diinterpretasikan sebagai keluhan harmful, sindiran yang sarkas, hingga ujaran yang merendahkan.

Dinamika yang terjadi di Unair Menfess ini menjadi salah satu bukti bahwa kebebasan mutlak di dunia maya seringkali menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, ruang ini bisa menjadi ruang aman untuk menggaungkan suara-suara yang selama ini teredam oleh hierarki dan tatanan sosial. Namun di sisi lain, ia juga menguak sifat-sifat yang tersembunyi dalam diri kita di kehidupan sehari-hari. Kita tidak bisa serta-merta menyalahkan platform-nya, karena platform ini sejatinya hanyalah ‘perantara’ kosong yang merefleksikan realita penggunanya. Fenomena ini tidak lagi sekedar tentang cara kita berkomunikasi di dunia maya, namun mengantarkan kita untuk merenungkan kembali nilai integritas diri.

Pada Akhirnya, Siapakah Diri Kita Tanpa Nama?

Pertanyaan di atas ini tertinggal sebagai ruang refleksi yang akhirnya harus kita jawab masing-masing. Mengesampingkan riuhnya linimasa Unair Menfess, ketiadaan identitas seolah mengupas norma sosial yang ada dan memperlihatkan bentuk asli karakter kita. Anonimitas menguak dan memperlihatkan apa isi paling jujur dari pikiran kita. Jika kesantunan yang kita perlihatkan adalah sekedar cara untuk menjaga reputasi, maka apa yang kita sampaikan di ruang berekspresi anonim seperti Unair Menfess adalah bukti sifat kita sendiri yang paling jujur. Dan oleh karena itu, secara tidak langsung ia juga menguji integritas kita sendiri. Sebab bukti terkuat dari integritas bukanlah apa yang kita lakukan saat mata orang tertuju pada kita, melainkan bagaimana kita merawat kata-kata dan juga bertindak bahkan saat tak ada satu pun orang yang tahu siapa kita.