Sudahkah Membaca Lagi Bulan Ini?
C2O Library & Collabtive
Sumber: Dok. Pribadi
Oleh: Alyssa & Abel
2025 hampir mencapai ujung, mungkinkah wishlist tahunanmu mengenai jumlah buku yang akan dibaca terpenuhi? Atau jangan-jangan daftar itu bahkan tidak pernah ada?
Seiring bertambahnya usia semester, membaca sering kali jadi hal yang terlupakan. Kita semua sibuk, dan memang, tak ada yang benar-benar “seimbang” dalam hidup—termasuk dalam urusan membaca. Bahkan, tulisan ini pun sempat tertunda empat minggu sejak ide diterbitkan.
Mengapa Kita Berhenti Membaca?
Semakin kita tumbuh dewasa, hidup terasa semakin sibuk. Contohnya saja jika kamu mahasiswa kedokteran—24 jam sehari seolah tak pernah cukup karena untuk membagi waktu antara belajar blok baru, latihan skill medis, praktikum, penelitian, ikut acara angkatan, volunteer, sampai aktif di organisasi. Kebayang kan padatnya? Mungkin kamu masih sempat membaca, tapi biasanya hanya karena tugas resensi atau kewajiban lainnya. Selebihnya, waktu dan energi sudah terpakai untuk hal lain.
Namun, bukan cuma soal waktu. Kemajuan teknologi menciptakan situasi paradoks: informasi semakin mudah dan cepat, tetapi otak kita justru semakin malas, terutama untuk fokus. Pernah dengar istilah brain rot atau “pembusukan otak”? Sederhananya, brain rot adalah kondisi ketika kemampuan berpikir kritis, konsentrasi, fokus, dan daya ingat menurun karena terlalu sering mengonsumsi konten dangkal. Akibatnya, otak jadi mudah bosan dan cepat teralihkan, dan waktu luang pun lebih sering dihabiskan dengan scrolling tanpa henti daripada membaca buku yang menuntut energi lebih banyak. Nah, ternyata hal ini juga didukung sama kondisi sosial di sekitar kita, obrolan tentang konten yang lagi tren lebih sering terdengar daripada percakapan tentang isi buku.
Buku Fiksi dan Non-Fiksi
Secara umum, buku dikelompokkan menjadi dua: fiksi dan nonfiksi. Keduanya memiliki karakteristik, tujuan, dan gaya penulisan yang berbeda, sehingga bisa disesuaikan dengan minat dan kebutuhan pembaca. Buku fiksi berisi cerita khayalan atau imajinatif yang bertujuan untuk menghibur dan mengajak pembaca masuk ke cerita serta merasakan emosi para tokoh. Contohnya seperti cerpen, novel, komik, dan cerita bergambar. Sebaliknya, cerita dalam buku nonfiksi mengandung kenyataan atau dengan kata lain dibuat berdasarkan fakta dan data yang ada. Jenis tulisan ini banyak digunakan dalam konteks edukatif maupun profesional. Contohnya mencakup karya ilmiah, esai, biografi, hingga skripsi atau laporan penelitian.
Menariknya, studi menunjukkan bahwa sering membaca fiksi dapat melatih kemampuan kognisi-sosial, meningkatkan empati, serta mengasah kepekaan terhadap keadaan orang lain. Dengan kata lain, fiksi mengajarkan kita untuk memahami, sementara nonfiksi mengajarkan kita untuk berpikir.
Pentingnya tetap Membaca Buku
Membaca di era sekarang bukan lagi pilihan, dan “tidak suka membaca” tidak berlaku sebagai pembelaan. Banyak studi membuktikan bahwa membaca buku dapat meningkatkan kreativitas dan kapasitas kita dalam belajar melalui peningkatan aktivitas otak, fungsi kognitif, dan fungsi memori. Selain itu, bagi kesehatan mental, membaca dapat menurunkan stres dan menciptakan rasa senang yang nyaman.
Buku dapat membuat kita merasakan bagaimana rasanya memakai sepatu orang lain, memahami kisah yang mungkin tak pernah kita jalani sendiri. Banyak yang mempertanyakan tulisan yang ditulis hanya oleh satu orang, tetapi bukan kah justru itu, karena ditulis secara personal, kita bisa memahami perspektif manusia dengan lebih jujur dan dalam?
Tips Disiplin dalam Membaca
- Temukan makna dan tujuan. Membaca memang tidak langsung menjamin hal besar, tetapi proses berpikir di dalamnya membuatmu bertumbuh dalam hidup
- Buku adalah teman tumbuh. Mulai dari yang kamu senangi, karena membaca seharusnya membuatmu betah, bukan terbebani.
- Membaca = ruang istirahat. Jadikan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan. Ubah konsep berpikir “aku harus membaca” menjadi “aku ingin membaca”
- Manfaatkan digital. Jika waktu terbatas, gunakan e-book atau aplikasi baca untuk mempermudah akses.
- Bangun dan gabung dengan komunitas Temukan orang-orang yang membuat kamu, buku, dan membaca menjadi hidup kembali.
- Berkunjung ke kafe buku. Banyak kafe yang menjelma menjadi perpustakaan mini. Dengan suasana nyaman, rak buku yang beragam, serta lingkungan yang mendukung fokus, kafe buku bisa jadi tempat ideal untuk menyelami dunia pengetahuan tanpa distraksi
Pesan Penulis
Entah sudah berapa banyak, atau baru berapa banyak buku yang kita baca hingga saat ini, penulis berharap bahwa setelah ini kita bisa berproses melalui tulisan-tulisan ajaib yang sudah dikemas dalam bentuk baik bernama buku.
Semakin banyak menyelami kalimat, mungkin terasa semakin kita tidak tahu apa-apa. Namun, justru di sanalah kita temukan makna dari membaca—rasa ingin tahu yang tak pernah selesai, yang dirawat perlahan, satu demi satu halaman.
