Sterilitas yang Retak

Dokumentasi Hasil Karya Sendiri : Seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga mengenakan jas laboratorium saat berada di Gedung Instalasi Hemodialisis RSUD Dr. Soetomo.

Oleh: Radfo

Pada awal perkuliahan, jas lab putih terasa seperti jubah penobatan. Kainnya masih kaku, baunya segar, dan setiap lipatannya menyimpan rasa bangga yang sulit dijelaskan. Memakainya seolah memasuki dunia baru, dunia yang selama ini hanya kita tatap dari balik pagar kampus. Namun waktu berjalan cepat. Jas lab yang dahulu putih bersih kini tergantung lusuh di balik pintu kos. Ada noda kopi di lengannya, bercak formalin di ujungnya, dan sedikit tinta hitam di sakunya, jejak tulisan yang dibuat tergesa sebelum praktikum dimulai.

Entah sejak kapan jas lab itu berhenti menjadi simbol. Kini ia sekadar syarat administratif setiap kali masuk laboratorium, bukti bahwa kita hadir, bukan bahwa kita memahami makna hadir. Noda-noda kecil di kainnya bukan sekadar kelalaian, melainkan bukti bahwa sterilitas hanya teori yang indah di antara hidup yang terlalu sibuk untuk sempat bersih. Jas lab yang seharusnya mencegah kontaminasi justru menjadi saksi diam kontaminasi yang lain, antara ambisi dan kelelahan, antara cita-cita dan kenyataan.

Di ruang kuliah, ironi itu terus berulang. Kita hafal enam langkah mencuci tangan sesuai anjuran Tramed, kadang tujuh jika dosennya masih berpegang pada panduan WHO. Namun di antara langkah-langkah itu, tidak satu pun yang mengajarkan cara mencuci tubuh dari letih, atau mencuci pikiran dari cemas. Ada yang datang dengan jas lab bersih namun mata sembap, ada yang wangi alkohol tetapi belum sempat mandi dua hari. Semuanya berlalu begitu saja, seolah tubuh tidak lagi punya hak untuk dirawat.

Aku pun begitu. Terlalu sibuk sampai lupa kapan terakhir kali merasa bersih. Alkohol di meja lab menipu hidungku seolah kebersihan sudah cukup. Padahal tubuhku sendiri sedang kotor oleh kantuk, kopi basi, dan jam tidur yang berantakan. Ironis, bukan? Kami belajar tentang asepsis dan imunologi, tetapi gagal memahami cara menjaga tubuh sendiri tetap hidup. Kami calon tenaga medis, namun sering kali justru menjadi pasien pertama dari sistem yang kami perjuangkan.

Dan di luar diri kami, ironi itu menjelma menjadi bangunan. Fakultas kedokteran yang tampak megah dari luar ternyata rapuh di dalam. Di rumah sakit tempat kami belajar, karat di gagang pintu menyapa tangan kami sebelum menyentuh stetoskop. Dindingnya tua dan berdebu, udara lembap bercampur bau alkohol serta kertas laporan yang lama tidak tersentuh. Di ruang-ruang seperti itu, sterilitas terasa seperti ilusi yang sopan. Ia menampakkan diri, tetapi tidak pernah benar-benar ada. Kami belajar tentang kebersihan luka di ruang yang berdebu, membahas pencegahan infeksi di antara meja yang bergoyang, menulis laporan di atas tumpukan debu halus yang tidak sempat diseka.

Kadang aku berpikir, gedung tua itu tidak jauh berbeda dengan kami. Sama-sama berdiri di bawah cahaya neon yang pucat, sama-sama retak tetapi tetap bekerja. Mungkin di fakultas ini, sterilitas bukan lagi tentang kebersihan yang mutlak, melainkan tentang cara bertahan di tengah kekacauan yang perlahan menjadi keseharian. Di tempat yang paling menjunjung kebersihan, kami belajar bahwa yang paling sulit dibersihkan ternyata adalah hidup itu sendiri.