PROVA: INOVASI PATCH TRANSDERMAL BIODEGRADABLE DENGAN KOMBINASI PROFILAKSIS ANTI-MALARIA DAN VITAMIN B SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN MALARIA DI DAERAH 3T
Oleh: Winda Chairunnur Hamid, Ayesha Zahira Afhamy, Ratu Salsabila
Pendahuluan
Indonesia sebagai negara di garis khatulistiwa menjadikannya rumah bagi berbagai penyakit tropis, salah satunya adalah malaria. Malaria adalah penyakit infeksi akibat parasit yang ditularkan dari satu manusia ke lainnya melalui gigitan nyamuk Anopheles sp. Konsep utama permasalahan malaria di Indonesia terletak pada tidak meratanya fasilitas kesehatan, wilayah geografis, dan perilaku masyarakat menurut Bodya D.P., et al. dalam Treatment‑seeking behavior for malaria among communities in Indonesia: a systematic review (1). Sampai saat ini, malaria masih menjadi perhatian terutama pada wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) khususnya daerah timur seperti Papua dan Nusa Tenggara.
Dalam website Kemenkes, Indonesia serius eliminasi malaria: 79% wilayah sudah bebas, target nasional tuntas 2030, sebagaimana disebutkan oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 79% provinsi di Indonesia telah mencapai status malaria-free (2). Namun, dikutip dari CNBC Indonesia dalam artikel Kemenkes: 95% kasus malaria di Indonesia terjadi di wilayah ini, masih terjadi peningkatan angka kasus yang tinggi terutama di daerah Papua yang menyumbang 95% dari beban malaria nasional (3). Di antara tahun 2011–2022, dikutip dari review Ery Setiawan, et al. dalam Malaria morbidity, mortality and associated costs in Indonesia: analysis of the National Health Insurance claim, terdapat penurunan angka kasus untuk wilayah non-timur, tetapi di saat bersamaan terjadi peningkatan angka kasus di Papua (4).
Upaya eliminasi malaria di Indonesia menjadi prioritas sektor kesehatan sebagaimana diamanatkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020–2024 dengan target Indonesia Bebas Malaria 2030 (4). Dikutip dari Herdiana, et al. dalam Shrinking the malaria map in Indonesia: progress of subnational control, elimination, and future strategies, target ini dicapai dengan menggunakan strategi eliminasi subnasional, yaitu distrik/provinsi secara bertahap disertifikasi bebas malaria daripada mencoba menghilangkan semua tempat sekaligus (5).
Namun, efektivitas dari upaya tersebut masih mengalami hambatan. Mulai dari distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata serta masih rendahnya pengetahuan masyarakat dan kepatuhan dalam berobat menjadikannya suatu kendala dalam keberlangsungan strategi tersebut. Kondisi geografis, sosio-ekonomi, lingkungan, dan logistik juga berpengaruh dalam usaha mengeliminasi malaria secara nasional dikutip dari review Ery Setiawan, et al. (4).
Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan seperti bagaimana mengefektifkan pencegahan malaria di daerah 3T yang terkendala kepatuhan rendah, ketersediaan fasilitas terbatas, dan hambatan distribusi melalui metode inovasi yang lebih tahan lama, praktis, dan ramah lingkungan. Maka dari itu, PROVA (Profilaksis and Vitamin Anti-malaria) hadir untuk membantu dalam upaya pencegahan malaria demi Indonesia Bebas Malaria 2030. PROVA merupakan patch biodegradable berisi profilaksis malaria dan vitamin B1 di dalam microneedle yang dilapisi lapisan pelindung untuk perjalanan dan lapisan pengusir nyamuk dari bahan herbal. Hal ini menjadikannya inovasi yang cocok untuk menurunkan angka malaria di daerah 3T.
Pembahasan
PROVA adalah patch transdermal berisi profilaksis malaria dan vitamin B1 untuk menurunkan prevalensi malaria di Indonesia terutama di daerah 3T yang menjadi endemik malaria seperti beberapa daerah di Papua. Selain itu, PROVA terbuat dari biopolimer alami yang dapat mendukung isu sustainability. PROVA dilengkapi nanocoating agar tetap stabil di daerah 3T dan dilapisi ekstrak repellent herbal untuk mengurangi gigitan nyamuk. Pada umumnya, pencegahan dan pengendalian malaria dapat dilakukan dengan upaya pengendalian vektor dan penatalaksanaan tepat untuk kasus malaria. Namun, PROVA diciptakan sebagai inovasi baru dalam mengatasi permasalahan malaria di Indonesia guna menciptakan efisiensi dalam mewujudkan pemerataan kesehatan di Indonesia.
Bahan yang digunakan pada produk PROVA adalah profilaksis malaria (doksisiklin) dan vitamin B1 (thiamine). Doksisiklin bekerja dengan menghambat translasi ribosom 70s dalam ribosom organel apikoplas subunit 30s menurut Okada, et al. di Doxycycline has distinct apicoplast specific mechanisms of antimalarial activity (6). Penggunaan doksisiklin juga direkomendasikan oleh Buku Tatalaksana Kasus Malaria Kemenkes untuk mencegah malaria dengan dosis 100 mg doksisiklin per hari sebagai kemoprofilaksis. Doksisiklin dikonsumsi 1 hari sebelum bepergian ke daerah endemik sampai 4 minggu setelah kembali (tidak lebih dari 12 minggu) dan tidak diberikan pada ibu hamil dan anak di bawah 8 tahun (7). Sementara itu, menurut artikel dari Imam F., et al. dalam Identification and Characterization of Thiamine Analogs With Antiplasmodial Activity, thiamine dan analognya seperti oksitiamin dapat diubah oleh tiamin pirofosfokinase parasit menjadi metabolit toksik yang menyebabkan kematian parasit (8).
Untuk memastikan kesesuaian PROVA sebagai inovasi yang ditujukan kepada daerah 3T, PROVA terbuat dari bahan yang terdegradasi alami serta dilapisi protective layer dan repellent eksternal. Polimer yang dimanfaatkan PROVA terbuat dari matriks kitosan yang bersifat eco-friendly, antibakteri, antitoksin, dan analgesik sesuai dengan studi dari Nindita S., et al. dalam Preparation and Physicochemical Properties of Transdermal Patch Bases using Chitosan Matrix (9). Sebagai protective layer, PROVA dilapisi nanopartikel silika yang diproduksi dari ampas tebu. Nanopartikel silika dari ampas tebu yang amorf, sesuai dengan penelitian Amira, et al. dalam Bioharvesting and Improvement of Nanosilica Yield from Bagasse by Irradiated Curvularia spicifera, bersifat biokompatibel (10). Selain itu, nanosilika tebu ini juga memiliki struktur mesoporous, menurut hasil penelitian Donanta, et al. dalam Synthesis of Mesoporous Silica from Sugarcane Bagasse as Adsorbent for Colorants Using Cationic and Non-Ionic Surfactants (11). Struktur ini memerangkap obat di dalam pori-pori sehingga terlindungi dari lingkungan serta melepas obat secara bertahap dan terkontrol berdasarkan hasil temuan Chengcheng, et al. dalam Applications and Biocompatibility of Mesoporous Silica Nanocarriers in the Field of Medicine (12).
Selain itu, pelapis pelindungnya juga dilengkapi minyak nimba (neem oil) dan minyak serai wangi (citronella oil) sebagai repellent nyamuk eksternal. Minyak nimba, Menurut penelitian dari Soumendranath C., et al. di Neem-Based Products as Potential Eco-Friendly Mosquito Control Agents over Conventional Eco-Friendly Mosquito Control Agents over Conventional Ecotoxic Chemical Pesticides-A review, memiliki banyak zat kimia aktif seperti seperti azadirachtin A, nimbin, salannin, dan banyak lagi yang membuat suatu spesies sulit mengembangkan resistensi (13). Sementara itu, menurut penelitian dari Rd. Halim, et al. di The Effect of Citronella Oil as Anti-mosquito Spray, minyak nimba adalah bahan yang efektif sebagai semprotan pembasmi nyamuk yang ramah lingkungan (14).
Target PROVA adalah kepada semua orang yang akan bepergian ke daerah 3T berisiko tinggi penyebaran malaria, penduduk yang tinggal disana, kelompok kerja risiko tinggi, dan kelompok khusus. Sesuai dengan target, pemilihan ide ini berlandaskan dari kepraktisan yang menjadikannya cocok untuk profilaksis lapangan. Cara penggunaan PROVA juga mempertimbangkan target dari produk ini. PROVA, seperti yang ditampilkan di gambar 1, digunakan di kulit kering, bersih, tidak berbulu, tidak luka/lecet, dan tidak banyak bergerak. Setelah mencuci tangan dan membuka kemasan steril, lepaskan perekat dan tempelkan di tempat yang dipilih, tekan selama lebih kurang 30 detik, dan dibiarkan selama 24 jam. Setelah 24 jam, patch dicabut dan dibuang sesuai protokol, kemudian dipasang di lokasi yang lain untuk mencegah iritasi. Mekanisme dan alur kerja PROVA setelah pemasangan ditampilkan pada gambar 2.
Pihak yang terlibat dalam pembuatan PROVA bisa dijelaskan dari konsep model hexa helix yang terdiri dari akademisi, industri, pemerintah, media, komunitas, dan LSM/NGO (Lembaga Swadaya Masyarakat/ Non-Governmental Organization). Peran klasifikasi tersebut memiliki penting dalam pengembangan PROVA guna menurunkan prevalensi malaria di daerah 3T berdensitas tinggi dan mewujudkan pemerataan kesehatan di Indonesia.
PROVA memiliki beberapa kelebihan sebagai suatu inovasi. PROVA bekerja ganda sebagai pencegahan farmakologis dan protektif eksternal. Selain itu, PROVA memberikan penghantaran obat tanpa suntikan serta menghindari risiko infeksi silang, nyeri, dan ketidakpatuhan pasien. Desainnya ringan, tahan panas, dan praktis sehingga cocok untuk daerah 3T yang juga sebagai endemik malaria. PROVA terbuat dari polimer alami sehingga mudah terurai dan mengurangi limbah medis. PROVA juga cost-effective untuk program nasional pencegahan malaria karena mengurangi kebutuhan biaya obat oral, tenaga medis, dan logistik untuk distribusinya.
Namun, PROVA memiliki kekurangan yaitu biaya awal produksi dan riset tinggi. Hal ini bisa diselesaikan dengan melakukan kemitraan dengan universitas dan lembaga pemerintah untuk menekan biaya produksi serta menggunakan bahan lokal agar biaya material lebih rendah. Selain itu, skala produksinya juga terbatas dan belum efisien. Untuk ini, bisa dikembangkan pilot batch standard untuk validasi sebelum produksi massal. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi dari beberapa pihak untuk menyukseskan pengembangan PROVA.
Penutup
Peningkatan prevalensi malaria dari tahun ke tahun menjadi tren di Indonesia, terlebih di daerah endemik malaria yang tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Hal ini didukung oleh berbagai faktor seperti fasilitas kesehatan, wilayah geografis, dan perilaku masyarakat yang kurang berinisiatif.
Dengan demikian, PROVA (Profilaksis and Vitamin Anti-malaria), yaitu sebuah kombinasi profilaksis anti-malaria (doksisiklin) dan vitamin B (thiamine) diinovasikan sebagai upaya untuk menurunkan prevalensi malaria pada daerah 3T. PROVA dikemas dalam bentuk patch transdermal yang biodegradable dan berbahan dasar alami. PROVA juga dilengkapi dengan anti-nyamuk yang mengandung bahan alami sebagai pelapis patch seperti minyak serai wangi (citronella oil) dan minyak nimba (neem oil).
Oleh karena itu, PROVA dapat menjadi inovasi pencegahan efisien dan ramah lingkungan serta nyaman digunakan pada masyarakat yang berkunjung maupun tinggal di daerah endemik. Sebagai upaya strategis untuk merealisasikan tujuan tersebut, sebaiknya PROVA dapat melibatkan pihak dari berbagai instansi untuk perancangan dan implementasinya. Penulis berharap inovasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut dan dilakukan penerapan pada masyarakat daerah 3T sebagai upaya mewujudkan pemerataan kesehatan di Indonesia dan tujuan Indonesia Bebas Malaria 2030.
Daftar Pustaka:
[1] Philothra BD, Alona I, Situmorang E, Limbardon P, Salsalina VG. Treatment‑seeking
behavior for malaria among communities in Indonesia: a systematic review. Narra J.
2023;3(3):e428.
[2] Kementerian Kesehatan RI. Indonesia serius eliminasi malaria: 79% wilayah sudah
bebas, target nasional tuntas 2030 [Internet]. Jakarta: Kemenkes; 2025 [dikutip 5
Oktober 2025] Tersedia dari:
https://kemkes.go.id/id/indonesia-serius-eliminasi-malaria-79-wilayah-sudah-bebas-targ
et-nasional-tuntas-2030#:~:text=%E2%80%9CSaat%20ini%20Indonesia%20telah%20b
erhasil,2030%2C%E2%80%9D%20kata%20Menkes%20Budi
[3] Hasibuan L. Kemenkes: 95% kasus malaria di Indonesia terjadi di wilayah ini
[Internet]. CNBC Indonesia; 2025 [dikutip 5 Oktober 2025] Tersedia dari:
https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20250425110830-33-628690/kemenkes-95-ka
sus-malaria-di-indonesia-terjadi-di-wilayah-ini
[4] Setiawan E, Devine A, Prameswary HD, Baird JK, Price R, Thriemer K. Malaria
morbidity, mortality and associated costs in Indonesia: analysis of the National Health
Insurance claim dataset. BMJ Global Health. 2025;10(5):e018255–5.
[5] Herdiana H, Prameswari HD, Puspadewi RT, Fajariyani SB, Diptyanusa A,
Theodora M, et al. Shrinking the malaria map in Indonesia: progress of subnational
control, elimination, and future strategies. BMC Medicine. 2025;23(512):1-21.
[6] Okada M, Guo P, Nalder SA, Sigala PA. Doxycycline has distinct apicoplast specific
mechanisms of antimalarial activity. eLife. 2022;9:e60246.
[7] Kementerian Kesehatan RI. Buku Tatalaksana Kasus Malaria [Internet]. Jakarta:
Kemenkes; 2023 [dikutip 16 Oktober 2025]. Tersedia dari:
https://malaria.kemkes.go.id/sites/default/files/2024-02/X_Cetak%20Buku%20Saku%2
0talak%20Des%202023F.pdf
[8] Fathoni I, Ho TCS, Chan AHY, Leeper FJ, Matuschewski K, Saliba KJ.
Identification and Characterization of Thiamine Analogs with Antiplasmodial Activity.
Antimicrobial Agents and Chemotherapy. 2024; 68(12):e01096-24.
[9] Susanto A, Haninda FD, Ermawati DE, Rohmani S, Sasongko H, Zulpadly MF, et
al. Preparation and Physicochemical Properties of Transdermal Patch Bases using
Chitosan Matrix. International Journal of Advanced Multidisciplinary Research and
Studies. 2023; 3(5):1333-1338
[10] Zaki AG, Yousef SA, Hasanien YA. Bioharvesting and improvement of nano-silica
yield from bagasse by irradiated Curvularia spicifera. BMC Microbiology. 2025;25(1).
[11] Dhaneswara D, Tsania A, Fatriansyah JF, Federico A, Ulfiati R, Muslih R, et al.
Synthesis of Mesoporous Silica from Sugarcane Bagasse as Adsorbent for Colorants
Using Cationic and Non-Ionic Surfactants. International Journal of Technology.
2024;15(2):373.
[12] Zhang C, Xie H, Zhang Z, Wen B, Cao H, Bai Y, et al. Applications and
Biocompatibility of Mesoporous Silica Nanocarriers in the Field of Medicine. Frontiers
in Pharmacology. 2022;13.
[13] Chatterjee S, Bag S, Biswal D, Sarkar Paria D, Bandyopadhyay R, Sarkar B, et al.
Neem-based products as potential eco-friendly mosquito control agents over
conventional eco-toxic chemical pesticides-A review. Acta Tropica. 2023;240:106858.
[14] Halim RD, Lesmana O, Sitepu FY. The effect of citronella oil as anti-mosquito
spray. International Journal of Mosquito Research. 2025;8(5):44–7.
