Peran Bidan dalam Mengawal 1000 Hari Pertama Kehidupan Menuju Generasi Emas Indonesia

Oleh: Kadek Yuliani, Kadek Dian Monika, Ni Luh Luzy Puspita Dewi

Pendahuluan

Kehidupan merupakan sebuah perjalanan panjang yang dimulai ketika tangisan pertama bayi mulai terdengar menggema di dunia. Mulai dari detik pertama seorang bayi bernafas sebuah rangkaian waktu mulai berjalan sebagai penanda bahwa sebuah kehidupan akan berlangsung, waktu yang tidak hanya dihitung dari detik dan menit tetapi oleh cinta perjuangan serta harapan. Dalam sebuah perjalanan kehidupan akan diawali dengan masa seribu hari pertama kehidupan (periode emas). Pada masa inilah otak bayi akan mengalami perkembangan yang pesat, membangun fondasi demi fondasi yang kelak akan menentukan sebuah arah dari kehidupannya. Menurut para ahli, fase 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan sebuah masa penentu kualitas dari setiap generasi yang mendatang. Karena pada fase ini merupakan fase singkat yang tidak akan terulang kembali dimasa mendatang dimana pada fase ini gizi, kasih sayang, stimulasi yang akan sangat mempengaruhi kesehatan, kecerdasan dan daya tahan tubuh untuk seumur hidup (1)1000 HPK merupakan sebuah periode percepatan tumbuh kembang anak (gold period) yang dimulai sejak bayi dalam kandungan selama 280 hari masa kehamilan sampai masa balita selama 720 hari atau sekitar 2 tahun. Masa ini merupakan masa emas dari tumbuh kembang anak, oleh karena itu optimalnya tumbuh kembang anak pada masa ini akan sangat menentukan masa depannya (1)

Meskipun 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi sebuah periode yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, justru tantangan nyata masih sering dihadapi di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 mencatat bahwa prevalensi stunting sebesar 19,8%, yang sedikit mengalami penurunan dari angka 21,6% pada tahun 2022, hal ini masih jauh dari target nasional yaitu di angka 14% (Kemenkes RI, 2024). Dari data tersebut menunjukkan bahwa pentingnya
intervensi gizi di masa emas kehidupan anak masih sangat dibutuhkan, termasuk dalam hal pemenuhan nutrisi melalui pemberian ASI eksklusif juga belum sepenuhnya optimal. Hasil penelitian global menunjukkan bahwa, bayi yang tidak disusui memiliki risiko 14 kali lebih tinggi meninggal dunia sebelum usia 1 tahun dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI eksklusif (UNICEF, 2024) Di Indonesia sendiri, meski pemberian ASI eksklusif meningkat dari 52% pada tahun 2017 menjadi 68% pada tahun 2023, hanya 27% bayi mendapatkan ASI dalam satu jam pertama, sekitar 20% mendapat cairan atau makanan lain dalam tiga hari pertama, dan hanya 14% melakukan skin to skin minimal satu jam pertama segera setelah lahir (UNICEF, 2024) Selain itu, cakupan imunisasi bayi juga menjadi perhatian yang serius, menurut WHO tahun 2023 melaporkan bahwa, sekitar 14,5 juta anak di dunia tidak mendapatkan imunisasi dasar, dan negara Indonesia
menempati peringkat keenam dengan 1.356.367 anak belum mendapat imunisasi dasar pada tahun 2019–2023. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor termasuk penolakan orang tua terhadap suntikan ganda (38%), jadwal pemberian imunisasi tidak sesuai (18%), kekhawatiran efek samping pemberian imunisasi (12%), serta kurangnya informasi dan penyebaran hoaks. Dalam hal ini, cangkupan imunisasi yang belum merata dan optimal dapat meningkatkan risiko penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan optimal selama 1000 Hari Pertama Kehidupan.

Fakta-fakta ini menegaskan bahwa, meski ada kemajuan, intervensi terpadu selama 1000 HPK tetap sangat diperlukan. Pemenuhan gizi, pemberian ASI eksklusif, stimulasi awal, kontak kulit ke kulit, dan imunisasi lengkap menjadi fondasi bagi anak untuk tumbuh sehat dan cerdas. Di sinilah peran bidan sangat penting dalam mengawal setiap tahap 1000 Hari Pertama Kehidupan agar potensi anak sebagai generasi emas Indonesia dapat sepenuhnya tercapai.

Pembahasan

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat serius yang terjadi di Indonesia. Stunting merupakan kondisi kesehatan balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Menurut WHO, Anak dikatakan stunting jika tinggi badan terhadap usianya kurang dari dua simpangan baku (SD) di bawah median standar pertumbuhan anak. Dampak kronis dari stunting pada anak dapat menyebabkan kapasitas belajar yang kurang optimal, meningkatkan risiko obesitas, dan mengurangi tingkat produktivitas. Dampak jangka pendek dari stunting meliputi penurunan kemampuan kognitif, motorik, dan verbal serta peningkatan risiko kematian perinatal dan neonatal. Pemberian ASI eksklusif pada bayi sangatlah penting, ASI adalah sumber gizi alami yang paling ideal karena mengandung protein, lemak, vitamin, dan
antibodi yang dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan optimal. Kandungan kolostrum di awal menyusui juga berfungsi sebagai “imunisasi pertama” yang melindungi bayi dari infeksi saluran pencernaan dan pernapasan. Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang mendapat ASI eksklusif selama enam bulan pertama memiliki risiko lebih rendah terhadap diare, infeksi telinga, dan penyakit kronis di masa depan. Selain itu, ASI juga membantu perkembangan kognitif anak dan memperkuat hubungan emosional antara ibu
dan bayi (2)

Berdasarkan data WHO tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 14,5 juta anak di dunia tidak mendapatkan imunisasi dasar. Pemberian imunisasi pada bayi dapat memberikan perlindungan tubuh dari penyakit berbahaya seperti difteri, tetanus, batuk rejan, polio, hepatitis B, dan campak, yang dapat menyebabkan komplikasi serius atau kematian. Selain itu, Pemberian stimulasi tumbuh kembang juga memiliki peran yang
sangat penting dalam proses perkembangan anak terutama pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode ini merupakan masa emas perkembangan otak dan sistem saraf pada anak, dimana jika diberikan stimulasi sensorik, stimulasi motorik dan sosialemosional secara dini, ini akan mempengaruhi kemampuan anak di masa mendatang. Menurut Putri dan Rahmadani (2023), stimulasi yang diberikan sejak dini seperti halnya berbicara,bermain, dan melakukan interkasi sosial dapat membatu perkembangan bahasa, kognitif, serta motorik anak. Anak yang mendapat stimulasi terarah memiliki skor perkembangan yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak mendapatkan stimulasi rutin (3)

Pemberian stimulasi yang dilakukan secara konsisten oleh orang tua akan berpengaruh positif terhadap perkembangan motorik halus dan kasar pada anak usia 6-24 bulan. Anak yang diberikan stimulasi aktif melalui permainan edukatif menunjukan kemampuan koordinasi yang lebih baik dan terdapat peningkatan keterampilan adaptif dibandingkan dengan yang tidak memperoleh stimulasi (4) Penelitian yang dilakukan
oleh Kusumawati dan Nuraini (2023) menemukan bahwa sebagain orang tua masih mempercayai mitos bahwa MPASI sebaiknya diberikan sebelum bayi berusia enam bulan atau harus hambar tanpa bumbu. Padahal ini dapat menghambat adaptasi terhadap rasa dan menurunkan asupan gizi penting seperti zat besi dan protein. MPASI yang baik semestinya mengikuti prinsip gizi seimbang dan tetap memperhatikan kesiapan dari bayi untuk menerima makanan padat. MPASI idealnya diberikan tepat pada usia enam bulan dengan tekstrur makanan bertahap dari lembut ke padat menyesuaikan dengan bayi. Pemberian makan terlalu dini tentunya memberikan resiko obesitas, gangguan pencernaan, dan infeksi saluran cerna karena sistem enzim bayi belum sepenuhnya siap. Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak, bidan tentunya memiliki peran yang tidak dapat terpisahkan dari keberhasilan program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Bidan dalam pencegahan stunting memiliki peran yang sangat besar karena bidan merupakan tenaga kesehAtan yang paling dekat dengan ibu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode 1000 HPK bidan bertugas untuk melakukan deteksi dini terhadap resiko stunting melalui pemantauan status gizi ibu hamil,
pemberian suplemen zat gizi, serta edukasi mengenai pola makanan bergizi seimbang. Bidan berperan dalam memberikan penyuluhan kepada ibu terkait pentingnya pemberian MPASI setelah 6 bulan dalam mencukupi kebutuhan gizi dan nutri dari bayi (5)

Hasil penelitian oleh Sari dkk (2023) dalam Amerta Nutrition Journal menegaskan bahwa keterlibatan bidan dalam intervensi gizi spesifik-seperti pemberian zat besi, vitamin A, serta edukasi perilaku hidup bersih dan sehat-memberikan dampak signifikan terhadap penurunan prevalensi stunting. Hal ini menunjukkan bahwa upaya bidan harus dilakukan secara berkesinambungan dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun
untuk memperoleh hasil yang optimal (6) Penelitian oleh Rahman (2023) dalam Wellness and Healthy Magazine menjelaskan bahwa keberhasilan pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada aspek klinis, tetapi juga memerlukan kolaborasi lintas sektor antara bidan, kader posyandu, dan keluarga. Dukungan emosional dan sosial dari keluarga terbukti meningkatkan kepatuhan ibu terhadap anjuran gizi dan perilaku sehat yang disampaikan oleh bidan. Melalui deteksi dini risiko, pemantauan tumbuh kembang, edukasi gizi, serta kolaborasi lintas sektor, bidan menjadi garda terdepan dalam menurunkan angka kejadian stunting di Indonesia. Bidan berperan dalam mendukung keberhasilan program pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, pemberian imunisasi dasar lengkap dan pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sebagai bagian penting dari intervensi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Penutup

Simpulan
Seribu hari pertama kehidupan adalah sebuah perjalanan awal yang menentukan arah masa depan seorang anak. Pada masa ini, segala bentuk kasih sayang, perhatian, dan pemenuhan kebutuhan gizi menjadi pondasi penting bagi tumbuh kembang yang optimal. Namun, berbagai tantangan seperti stunting, rendahnya pemberian ASI eksklusif, serta masih terbatasnya cakupan imunisasi menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk melahirkan generasi sehat belum sepenuhnya tercapai. Dalam perjalanan ini, bidan hadir sebagai sosok yang tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga pendamping yang memahami, menuntun, dan menguatkan ibu dalam setiap tahap kehidupan anaknya. Melalui edukasi, deteksi dini, dan dukungan berkelanjutan, bidan menjadi bagian penting dari upaya besar mewujudkan generasi emas Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Saran

  1. Bagi Bidan, diharapkan untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kompetensi terkait pemberian edukasi pentingnya ASI eksklusif, imunisasi lengkap, dan stimulasi tumbuh kembang anak, serta memperluas pendekatan melalui komunikasi yang efektif dengan keluarga.
  2. Bagi Pemerintah dan lembaga kesehatan, perlu memperkuat dan mengoptimalkan program 1000 HPK melalui adanya pelatihan yang berkesinambungan, penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai, serta
    pemberian kampanye kesehatan yang komprehensif terkait pentingnya 1000 HPK untuk generasi emas Indonesia.
  3. Bagi Keluarga dan masyarakat, dalam hal ini diharapkan untuk lebih aktif dalam mencari sumber informasi melalui sumber yang terpercaya, mendukung ibu dalam pemberian ASI eksklusif, mengikuti jadwal pemberian imunisasi, serta memberikan pendidikan dan stimulasi positif sejak dini.

Daftar Pustaka:
[1] Gunardi H. Optimalisasi 1000 Hari Pertama Kehidupan: Nutrisi, Kasih Sayang,
Stimulasi, dan Imunisasi Merupakan Langkah Awal Mewujudkan Generasi
Penerus yang Unggul. 2021;9(1).
[2] Maharani M, Khumairoh R. Literature review: Peran bidan terhadap keberhasilan
pemberian ASI Eksklusif. Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan. 2023 Jun
18;4(2):280.
[3] Alifia Sitta Ramadhani WAYSK. Bentuk-bentuk Stimulasi Pada Anak Dalam
Perkembangan Motorik Anak Usia Dini di RA [Internet]. Vol. 4. Sumatera Utara;
2022 Jun [cited 2025 Oct 15]. Available from:
https://doi.org/10.31004/jpdk.v4i3.5080
[4] Farida Utamaningtyas. PENGARUH PEMBERIAN STIMULASI TERHADAP
PERKEMBANGAN ANAK UMUR 12-24 BULAN DI DESA LEMBU,
BANCAK. Jurnal Kebidanan [Internet]. 2019 [cited 2025 Oct 15];11:105–201.
Available from: http : //www. ejurnal.stikeseub.ac.id
[5] Rahadiyanti A. Pemberdayaan Ibu pada 1000 Hari Pertama Kehidupan untuk
Generasi Lebih Baik. JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat).
2022 Jun 3;6(1):139.
[6] Nathalia A, Meldawati, Wahdah R. Posyandu cadres roles and complete basic
immunization coverage in Muara Teweh Community Health Center. Health
Sciences International Journal. 2025 Aug 31;3(2):195–208.