Jejak Pengabdian Dr. Soetomo: Dari Ilmu Menuju Perjuangan Bangsa
Sumber: Wikipedia
Oleh: Aiiii dan Anthony
Lahir dengan nama Soebroto pada 30 Juli 1888 di Desa Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur, siapa sangka anak dari keluarga priyayi sederhana ini kelak akan mengukir sejarah sebagai pelopor kebangkitan bangsa? Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi agama dan pendidikan. Ayahnya, Raden Suwaji, adalah mantri kesehatan yang juga bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sementara ibunya, R.A. Soeprapti, dengan penuh kasih membesarkan anak-anaknya dalam naungan nilai-nilai luhur. Dari rumah sederhana itulah karakter Soebroto dibentuk menjadi anak yang cerdas, tekun, dan haus akan ilmu.
Langkah awalnya menuju dunia kedokteran dimulai dari bangku Europeesche Lagere School (ELS), lalu diterima di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) pada tahun 1903, sekolah kedokteran bagi pribumi di Batavia. Namun, STOVIA bukan sekadar tempat belajar, di sanalah semangat pergerakan pada diri Soebroto mulai tumbuh. Ia bersama teman-temannya, menggagas lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 yang merupakan sebuah tonggak penting dalam sejarah Indonesia yang menandai lahirnya gerakan nasional modern.
Setelah lulus dan resmi menyandang gelar dokter pada 1911, Dr. Soetomo mengabdikan diri di berbagai daerah seperti Semarang, Tuban, dan Malang. Ia bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga menyapa penderitaan rakyat secara langsung. Ia melihat dengan mata kepala sendiri betapa buruknya kondisi sosial dan kesehatan masyarakat. Kehausannya akan ilmu membawanya ke Belanda untuk melanjutkan studi di Universitas Amsterdam. Di negeri asing itu, pandangannya tentang nasionalisme semakin matang. Ia tak hanya belajar, tapi juga merenung, menyusun gagasan tentang bagaimana ilmu dari Barat dapat berpadu dengan jiwa bangsa yang merdeka. Ketika kembali ke tanah air pada tahun 1923, ia tidak datang dengan tangan kosong. Ia hadir membawa gagasan besar, kemudian menjadi dosen di NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) Surabaya yang merupakan cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Selain itu, Dr Soetomo juga mendirikan Indonesische Studieclub pada tahun 1924, yang kemudian melahirkan partai Parindra di tahun 1935.
Dr. Soetomo adalah sosok yang memberi kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, tidak hanya sebagai pendiri Boedi Oetomo, tetapi juga sebagai dokter, pengajar, dan pemimpin yang menginspirasi. Ia mengabdikan diri sebagai tenaga medis di berbagai daerah dengan pendekatan yang humanis, menjadikan profesi dokter sebagai bentuk pengabdian nyata kepada rakyat. Sebagai pengajar di NIAS, ia mencetak generasi intelektual yang tak hanya terampil secara keilmuan, tetapi juga memiliki semangat nasionalisme dan tanggung jawab sosial. Melalui organisasi seperti Boedi Oetomo, Indonesian Study Club, dan Parindra, ia turut membangun kesadaran kolektif serta memperkuat landasan perjuangan bangsa menuju kemerdekaan.
Dalam perjalanannya, Dr. Soetomo menghadapi berbagai tantangan, mulai dari diskriminasi sistem pendidikan kolonial hingga tekanan atas keterlibatannya dalam aktivitas politik. Sebagai pribumi di tengah dominasi Belanda, ia harus berjuang keras untuk mendapatkan akses pendidikan dan menyuarakan perubahan. Ketika ia memadukan peran sebagai dokter dan aktivis, banyak tekanan yang datang dari pemerintah kolonial yang curiga terhadap gerakan kebangsaan. Selain itu, sekembalinya dari studi di Belanda, ia juga dihadapkan pada tantangan untuk menyampaikan gagasan-gagasan pembaruan kepada masyarakat yang belum sepenuhnya terbuka terhadap ide-ide modern.
Kisah hidup Dr. Soetomo mengajarkan bahwa perjuangan tidak harus selalu dilakukan dengan senjata, tetapi bisa melalui ilmu, kepedulian, dan keteladanan. Ia membuktikan bahwa perubahan besar dapat tumbuh dari langkah kecil yang dijalani dengan niat tulus dan keberanian untuk bertindak. Sebagai dokter, pendidik, dan pemimpin, ia menunjukkan bahwa peran sehari-hari bisa menjadi jalan perjuangan yang bermakna bagi bangsa.
Dr. Soetomo adalah sosok yang membuktikan bahwa integritas, keberanian, dan kepedulian adalah nilai-nilai kunci dalam menghadapi tantangan zaman. Di tengah arus modernitas yang serba cepat dan kompetitif, keteladanan beliau dalam mengabdi melalui ilmu pengetahuan dan pengorganisasian masyarakat tetap relevan dan menginspirasi. Semangatnya menunjukkan bahwa kontribusi nyata bagi bangsa tidak harus datang dari panggung besar, tetapi dapat dimulai dari ruang praktik, ruang kelas, dan tindakan sederhana yang dilandasi niat tulus untuk membawa perubahan.
