Implementasi PARTUS (Pemenuhan Asupan Sayur Terpadu untuk Ibu Sehat): Strategi Bidan dalam Merawat Harapan dan Membangun Generasi Berkualitas

Oleh: Neysilla Elsa Eka Saputri, Ingrid Puja Riftanaya, Reynata Laras Herliana

Pendahuluan

Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan gizi yang berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) (Diah Ulfa Hidayati, Fitria Yulastini and Evalina Fajriani, 2022). Salah satu investasi penting untuk mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing adalah dengan memastikan pemenuhan gizi yang optimal bagi perempuan sejak masa prakonsepsi, kehamilan, hingga pascapersalinan. Pemenuhan gizi yang baik sejak awal akan menjadi pondasi penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak di masa mendatang, terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) masa krusial yang dimulai sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Kecukupan gizi ibu hamil menjadi faktor utama dalam mendukung tumbuh kembang janin (Kusumadewi et al., 2024).

Namun, kenyataannya banyak perempuan di Indonesia yang masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari pola makan yang tidak seimbang, keterbatasan akses terhadap makanan bergizi, hingga kondisi sosial ekonomi dan pendidikan yang rendah (Adharyan et al., 2025). Akibatnya, asupan zat gizi makro dan mikro tidak terpenuhi dengan baik. Salah satu dampaknya adalah tingginya angka anemia defisiensi besi pada ibu hamil. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, tercatat 27,7% ibu hamil di Indonesia masih mengalami anemia, yang dapat meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan seperti perdarahan, bayi berat lahir rendah (BBLR), hingga gangguan perkembangan otak dan imunitas bayi (Gunardi, 2021).

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah ini, seperti pemberian tablet tambah darah, suplementasi vitamin A pascapersalinan, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dengan kekurangan gizi, serta konseling gizi di fasilitas kesehatan (Gunardi, 2021). Meskipun demikian, sebagian program tersebut masih bersifat satu arah dan belum sepenuhnya menumbuhkan perubahan perilaku makan yang berkelanjutan. Program yang menitik beratkan pada penyampaian informasi tanpa pelibatan aktif peserta seringkali kurang efektif dalam membentuk kebiasaan gizi yang baik.

Khusus di wilayah pedesaan, permasalahan gizi menjadi lebih kompleks karena kurangnya intervensi berbasis perilaku dan budaya makan lokal. Sayuran yang sebenarnya melimpah di lingkungan sekitar seringkali belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber nutrisi harian (UNICEF, 2020). Di sisi lain, kegiatan Posyandu yang seharusnya menjadi pusat pemberdayaan gizi masyarakat masih berfokus pada penimbangan dan imunisasi anak, sementara edukasi gizi untuk ibu hamil umumnya dilakukan secara formal dan monoton. Kurangnya inovasi dalam penyuluhan membuat banyak ibu belum memiliki pemahaman mendalam tentang pentingnya konsumsi sayur serta cara mengolahnya agar tetap bergizi dan menarik untuk dikonsumsi (Adharyan et al., 2025).

Berdasarkan permasalahan di atas, penulis menarik analisis solusi yang dapat diterapkan melalui inovasi PARTUS (Pemenuhan Asupan Sayur Terpadu untuk Ibu Sehat). Gagasan ini merupakan sebuah pendekatan terpadu yang dirancang untuk meningkatkan konsumsi sayur pada ibu hamil. Harapan dari adanya gagasan ide PARTUS dapat mendorong perubahan perilaku makan ibu hamil secara berkelanjutan. Inovasi ini diharapkan menjadi langkah kecil yang bermakna dalam merawat harapan dan membangun generasi berkualitas di mulai dari piring ibu hamil, menuju lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan siap menyongsong masa depan bangsa. Selain itu gagasan ide PARTUS sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan ke-2 (Tanpa Kelaparan) dan tujuan ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan status gizi ibu dan janin secara berkelanjutan. Selain itu, melalui kolaborasi lintas sektor dan pemberdayaan komunitas lokal, program ini turut mendukung SDGs ke-11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan) serta SDGs ke-17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Rumusan Masalah

  1. Mengapa intervensi gizi berbasis perilaku dan kebiasaan makan masyarakat pedesaan masih kurang efektif dalam meningkatkan konsumsi sayur pada ibu hamil?
  2. Apa faktor penyebab rendahnya pemanfaatan sayuran lokal yang sebenarnya melimpah di lingkungan sekitar sebagai sumber utama nutrisi bagi ibu hamil?
  3. Mengapa Posyandu belum berfungsi secara optimal sebagai pusat pemberdayaan ibu hamil dalam praktik gizi seimbang?
  4. Bagaimana merancang pendekatan edukatif yang menarik, aplikatif, dan terjangkau untuk mendorong perubahan perilaku makan sehat pada ibu hamil di tingkat komunitas?

Pembahasan

Pemenuhan gizi ibu hamil merupakan aspek penting dalam menentukan kualitas kesehatan ibu dan janin (Maslikhah et al., 2023). Salah satu komponen gizi yang sering terabaikan adalah konsumsi sayur, padahal sayur juga berperan penting dalam menyediakan vitamin, mineral, dan serat yang mendukung perkembangan janin serta menjaga kondisi tubuh ibu selama kehamilan. Menurut Hanani, Suyatno, dan Pradigdo (2016), kurangnya konsumsi sayur dan buah pada ibu hamil dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, baik bagi ibu maupun janin. Pada ibu hamil, kekurangan sayur dan buah dapat menyebabkan pendarahan, anemia, ketuban pecah dini, hipokalsemia, risiko neural tube defect, dan keterlambatan pertumbuhan anak. Selain itu, berdasarkan penelitian dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, konsumsi buah dan sayur yang tidak konsisten selama kehamilan memiliki hubungan dengan meningkatnya risiko gejala asma pada anak usia 1–8 tahun.

Permasalahan ini juga diperkuat oleh data dari Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 yang menunjukkan bahwa lebih dari 96% masyarakat Indonesia masih kurang dalam mengonsumsi sayur dan buah (Badan Pangan Nasional, 2023). Angka ini menggambarkan permasalahan dalam upaya mewujudkan pola makan bergizi seimbang di Indonesia, khususnya di kalangan ibu hamil yang membutuhkan asupan nutrisi lebih tinggi. Meskipun berbagai program kesehatan seperti Posyandu dan kelas ibu hamil telah rutin dilaksanakan, tingkat konsumsi sayur pada ibu hamil masih tergolong rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan utama bukan hanya pada aspek ketersediaan bahan pangan, melainkan pada kurangnya efektivitas edukasi gizi yang diberikan (Fadmiyanor et al., 2024). Pesan gizi yang disampaikan seringkali belum dikaitkan dengan pengalaman personal ibu, sehingga tidak menimbulkan kesadaran mendalam untuk berubah. Akibatnya, meskipun ibu hamil sudah mengetahui manfaat sayur, hal tersebut belum cukup kuat untuk mendorong perubahan perilaku makan secara konsisten. Selain itu, kegiatan penyuluhan di Posyandu biasanya dilakukan tanpa tindak lanjut berupa evaluasi terhadap perubahan perilaku ibu hamil. Edukasi berhenti pada tahap mengetahui, belum sampai pada tahap melakukan. Media edukasi yang digunakan pun masih terbatas pada leaflet atau ceramah, belum memanfaatkan teknologi atau metode interaktif yang dapat menarik perhatian ibu muda di era digital. Kurangnya integrasi antara edukasi dan praktik langsung. Misalnya, setelah penyuluhan mengenai pentingnya sayur, tidak ada tindak lanjut berupa kegiatan praktek memilih, mengolah, dan menyajikan sayur yang sesuai dengan kondisi ekonomi dan selera keluarga. Akibatnya, informasi yang diterima ibu tidak dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata.

Di sisi lain, terdapat ibu hamil yang telah memiliki kesadaran akan pentingnya konsumsi sayur, namun tidak memiliki target konsumsi sayur harian yang jelas. Sehingga asupan nutrisi dari sayur tidak optimal karena kurang mencapai kadar yang dibutuhkan. Berdasarkan rekomendasi WHO, konsumsi sayur dan buah minimal sebanyak 5 porsi (400 gram) per hari untuk orang dewasa, termasuk ibu hamil (World Health Organization, 2020). Sayuran yang kaya akan vitamin, seperti vitamin C, A, B9 (folat); mineral, seperti zat besi, kalsium, kalium; serat, dan antioksidan sangat krusial selama kehamilan. Apabila porsi minimal ini tidak tercapai dan kandungan sayuran tidak diterima oleh tubuh, dampaknya meliputi risiko anemia pada ibu karena kurangnya asupan zat besi dan asam folat, cacat tabung saraf janin (Neural Tube Defects) akibat defisiensi vitamin B9 atau asam folat, meningkatkan masalah pencernaan ibu akibat kurang asupan serat yang bermanifestasi pada sembelit dan wasir, serta risiko gangguan tumbuh kembang janin akibat kurang asupan vitamin dan mineral pada ibu sehingga janin berpotensi mengalami Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Posyandu belum berfungsi optimal sebagai pusat pemberdayaan gizi ibu hamil karena peranannya sering terfokus pada pencatatan dan layanan dasar tanpa integrasi sistemik antara edukasi, praktik, dan pemantauan berkelanjutan. Selain itu, keterbatasan sumber daya termasuk kapasitas kader, dukungan regulasi, dan infrastruktur digital menghambat transformasi Posyandu menjadi ruang pembelajaran interaktif yang mampu menggerakkan perubahan perilaku. Oleh karena itu, diperlukan penguatan tata kelola (regulasi dan alokasi sumber daya), peningkatan kapasitas kader dan bidan melalui pelatihan, serta pemanfaatan alat digital yang terintegrasi untuk monitoring dan evaluasi agar Posyandu berfungsi sebagai pusat pemberdayaan gizi berbasis komunitas (Faza, 2022).

Pendekatan edukatif yang efektif untuk mendorong perubahan kebiasaan makan pada ibu hamil harus bersifat kontekstual, aplikatif, dan berbasis pengalaman menggabungkan pendidikan gizi yang disesuaikan dengan ketersediaan pangan lokal, demonstrasi memasak, serta pendampingan rumah tangga karena bukti dari uji coba terkontrol menunjukkan bahwa intervensi edukasi yang mengkombinasikan sesi teori, praktik memasak, dan konseling rumah tangga dapat meningkatkan perilaku diet dan beberapa indikator kelahiran (Kamudoni, 2024). Oleh karena itu, desain program PARTUS yang mengintegrasikan kegiatan Warung Sayur Sahabat Ibu, Kartu Checkpoint, dan Praktik Memasak Sayur Bersama Bidan dinilai berpotensi efektif dalam membentuk kebiasaan makan sehat yang berkelanjutan bagi ibu hamil.’

Solusi
Berdasarkan analisis permasalahan yang telah dipaparkan, diperlukan sebuah terobosan inovatif yang bersifat edukatif dan aplikatif bagi ibu hamil. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah program “Warung Sayur Sahabat Ibu”. Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi antara Posyandu, kader kesehatan, dan pedagang sayur setempat untuk menyediakan paket sayur bergizi seimbang yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi ibu hamil berdasarkan usia kehamilan. Setiap paket dikemas dalam bentuk “Kotak Gizi Pintar”, berisi sayuran segar dan lengkap dengan panduan resep serta cara pengolahan sayur yang mudah diterapkan di rumah. Kotak ini juga dilengkapi QR code yang dapat dipindai untuk menonton video singkat berisi tips memasak sehat dan pentingnya konsumsi sayur selama kehamilan.

Program intervensi ini berlangsung selama tiga bulan, dengan pemberian paket sayur setiap hari satu kali kepada ibu hamil melalui Posyandu. Selama pelaksanaan program, kader kesehatan berperan dalam memberikan edukasi langsung dan pemantauan konsumsi sayur harian, sekaligus melakukan pendampingan agar ibu mampu mengolah dan mengkonsumsi sayur secara konsisten. Diharapkan, melalui intervensi yang dilakukan secara berkelanjutan, ibu hamil dapat terbiasa mengkonsumsi sayur setiap hari, memahami manfaatnya bagi kesehatan ibu dan janin, serta menumbuhkan kebiasaan makan sehat yang berlanjut setelah melahirkan. Sebagai bentuk apresiasi dan motivasi, setiap partisipasi aktif ibu akan diberikan stiker poin sehat yang dapat ditukar dengan hadiah sederhana seperti alat masak, wadah bekal, atau apron.

Kartu checkpoint disebut juga kartu monitoring atau kartu apresiasi merupakan komponen kunci dalam program “Warung Sayur Sahabat Ibu”. Kartu ini berfungsi sebagai alat pemantauan konsistensi, edukasi, dan motivasi ibu hamil. Mekanisme kartu dirancang untuk memastikan ibu hamil tidak hanya menerima “Kotak Gizi Pintar” tetapi juga mengolah dan mengkonsumsi isinya secara rutin selama periode intervensi yakni tiga bulan dengan tetap dipantau oleh tenaga kesehatan setempat, misalnya bidan dibantu oleh kader. Kartu ini dirancang menyerupai kalender atau kartu absensi mingguan yang berbentuk kartu saku atau booklet kecil. Berisi nama ibu hamil, usia kehamilan, periode minggu dan bulan intervensi dengan 31 kolom harian. Setiap harinya, setelah mendapatkan paket sayur dan mengkonsumsinya, kolom harian dapat ditempelkan stiker poin sehat yang didapat dari bidan setelah mendapat paket sayur dan mengkonsumsi olahan sayur tersebut. Setiap stiker poin setara dengan 1 poin apresiasi. Selanjutnya, stiker yang terkumpul pada setiap bulannya kan diakumulasikan untuk dapat ditukarkan dengan hadiah sederhana. Namun, pada level berkelanjutan yakni 90 stiker (3 bulan), dapat ditukarkan dengan hadiah utama atau sertifikat apresiasi atas keberhasilan menyelesaikan intervensi selama 3 bulan penuh. Harapannya masa intervensi ini juga berhasil menumbuhkan kebiasaan baik bagi ibu untuk memasak makanan yang bernutrisi bagi dirinya dan janin yang dikandung hingga pasca melahirkan.

Sebagai bentuk penguatan intervensi gizi, program PARTUS juga menghadirkan kegiatan “Praktik Memasak Sayur Bersama Bidan di Posyandu.” Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada ibu hamil dalam mengolah sayuran dari Kotak Gizi Pintar menjadi menu sehat yang sesuai dengan kebutuhan gizi selama kehamilan. Edukasi ini dilaksanakan dua minggu sekali di Posyandu dengan pendampingan langsung oleh bidan dan kader kesehatan. Melalui kegiatan ini, ibu hamil tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang pentingnya konsumsi sayur, tetapi juga menjadi terampil dalam mengolah makanan bergizi secara benar dan higienis. Selain itu, kegiatan ini mendorong terciptanya interaksi positif serta dukungan sosial antar ibu hamil, sehingga muncul motivasi bersama untuk menerapkan pola makan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Program ini sekaligus menjadi upaya optimalisasi fungsi Posyandu sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan ibu hamil dalam praktik gizi seimbang, menjadikan Posyandu bukan hanya tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga ruang pembelajaran yang mendorong kemandirian dan keberlanjutan kebiasaan makan sehat di lingkungan keluarga. Dengan ketiga program tersebut, PARTUS menjadi wujud nyata komitmen bidan dalam mendampingi ibu hamil memenuhi gizi seimbang, menumbuhkan kebiasaan makan sehat, dan membangun fondasi generasi sehat sejak dalam kandungan.

Penutup

Simpulan
Inovasi PARTUS (Pemenuhan Asupan Sayur Terpadu untuk Ibu Sehat) menjadi jawaban atas tantangan konsumsi sayuran pada ibu hamil yang belum optimal sesuai kebutuhan, meskipun lingkungan desa yang melimpah bahan pangan. Melalui program edukatif, aplikatif, dan partisipatif, PARTUS mampu meningkatkan kesadaran gizi dan kebiasaan makan ibu hamil, mencegah risiko anemia dan KEK, menekan risiko stunting dan BBLR, serta menciptakan budaya makan sehat dan cinta sayur mulai tingkat keluarga hingga masyarakat luas. Dengan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, meliputi bidan, kader, pedagang sayur, dan pemerintah, PARTUS menjadi program inovatif yang tidak hanya menargetkan perbaikan gizi, tetapi juga menumbuhkan gaya hidup sehat jangka panjang. Dengan demikian, program PARTUS ini sangat potensial untuk diimplementasikan dalam kebijakan pemerintah dan menjadi pelopor upaya pencegahan stunting di Indonesia.

Saran

  1. Dinas kesehatan atau pemerintah daerah membuat kebijakan dan pengawasan pelaksanaan program seperti menyediakan dukungan kebijakan dan pendanaan
  2. Bisa juga berkolaborasi dengan pihak swasta maupun sponsor untuk mendukung finansial dan logistik memberikan dana tambahan, serta menjalin kemitraan dengan posyandu untuk memperluas program ke daerah lain
  3. Bidan dan Kader saling bekerjasama untuk keberlangsungan pelaksanaan program dan pemberian edukasi secara berkala
  4. Bekerja sama dengan local heroes ataupun pedagang sayur untuk penyediaan bahan pangan untuk “Kotak Gizi Pintar” guna menyediakan sayuran segar segar seusai kebutuhan gizi ibu hamil dan pendistribusian juga merata

Daftar Pustaka:
Adharyan C, Dewi V, Kristiana E, Laili F. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian anemia
pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Baringin tahun 2025. Indonesian
Journal of Science. 2025;182–192.
Badan Pangan Nasional. Gugah kesadaran masyarakat pentingnya sayur dan buah demi capai
pola makan bergizi seimbang [Internet]. Jakarta: Badan Pangan Nasional; 2023
[cited 2025 Oct 19]. Available from:
https://badanpangan.go.id/blog/post/gugah-kesadaran-masyarakat-pentingnya-say
ur-dan-buah-demi-capai-pola-makan-bergizi-seimbang
Fadmiyanor I, Alyensi F, Aryani Y, Susanti A. Peran pendidikan gizi dalam meningkatkan
kesadaran ibu hamil terhadap pencegahan stunting di Klinik Pratama Taman Sari
Kota Pekanbaru. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran.
2024;7:15004–15006. Available from:
http://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp
Faza A, Rinawan FR, Mutyara K, Purnama WG, Ferdian D, Susanti AI, Didah D, Indraswari
N, Fatimah SN. Posyandu Application in Indonesia: From Health Informatics
Data Quality Bridging Bottom-Up and Top-Down Policy Implementation.
Informatics. 2022;9(4):74. doi:10.3390/informatics9040074. Available from:
https://www.mdpi.com/2227-9709/9/4/74
Gunardi H. Optimalisasi 1000 hari pertama kehidupan: nutrisi, kasih sayang, stimulasi, dan
imunisasi merupakan langkah awal mewujudkan generasi penerus yang unggul.
eJournal Kedokteran Indonesia. 2021;9(1):1. doi:10.23886/ejki.9.2.1
Hanani Z, Suyatno S, Pradigdo SF. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi sayur dan
buah pada ibu hamil di Indonesia (berdasarkan data Riskesdas 2013). Jurnal
Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. 2016;4(1):257–266
Hidayati DU, Yulastini F, Fajriani E. Pengaruh edukasi 1000 hari pertama kehidupan (HPK)
terhadap pengetahuan dan sikap wanita usia subur (WUS). Holistic Nursing and
Health Science. 2022;5(2):169–177. doi:10.14710/hnhs.5.2.2022.169-177
Kamudoni PR, Kaunda L, et al. Context-Tailored Food-Based Nutrition Education and
Counseling for Pregnant Women to Improve Birth Outcomes: A
Cluster-Randomized Controlled Trial in Rural Malawi. Nutrients.
2024;16(8):1536. doi:10.3390/nu16081536. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC11626795/
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, United Nations Children’s Fund. Gizi ibu di
Indonesia: Analisis lanskap dan rekomendasi. Jakarta: UNICEF; 2023.
Kusumadewi RR, Kamidah K, Yuliaswati E, Yuntafiatul Y. Pengaruh kelas ibu hamil
terhadap pencegahan stunting. Avicenna Journal of Health Research. 2024;7(2).
doi:10.36419/avicenna.v7i2.1206
Maslikhah, Prajayanti H, Baroroh I. Pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya gizi pada
masa kehamilan. Jurnal Kesehatan Mercusuar. 2023;6(1):1–7.
doi:10.36984/jkm.v6i1.331
UNICEF. Improving young children’s diets during the complementary feeding period
[Internet]. New York: UNICEF; 2020 [cited 2025 Oct 15]. Available from:
https://www.unicef.org/reports/improving-young-childrensdiets-during-compleme
ntaryfeeding
World Health Organization. Healthy Diet [Internet]. World Health Organization. 2020.
Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet