Hope from the Skies: Drone Medis sebagai Terobosan Pemerataan Kesehatan di Indonesia
Oleh: Darren Wilson Tjiong, Adrian Faza Raditya, Titania Sophia Qelmi
Pendahuluan
Meskipun terjadi kemajuan pesat dalam teknologi medis, masyarakat di daerah terpencil Indonesia masih harus menunggu berjam-jam, bahkan berhari-hari, untuk mendapatkan darah, vaksin, atau obat-obatan darurat yang esensial. Di beberapa wilayah 3T (terluar, tertinggal, dan terdepan), seorang ibu mungkin kehilangan bayinya bukan karena tenaga medis tidak kompeten, tetapi karena bantuan datang terlalu terlambat. Jalan yang terblokir, cuaca ekstrem, dan jarak yang sangat jauh menjadikan akses layanan kesehatan sebagai perlombaan yang seringkali dimenangkan oleh waktu. Menurut Kementerian Kesehatan (2024), waktu respons medis darurat rata-rata di daerah terpencil melebihi enam jam, dibandingkan dengan kurang dari satu jam di kota-kota (1). Ketimpangan yang mencolok ini menunjukkan bagaimana letak geografis masih menentukan kelangsungan hidup di Indonesia. Infrastruktur transportasi yang terbatas, kekurangan tenaga kesehatan, dan kurangnya fasilitas darurat memperlebar kesenjangan kesehatan, mengakibatkan kematian ibu dan bayi yang seharusnya dapat dicegah terus berlanjut hanya karena akses layanan kesehatan tetap tidak merata. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau menjadikan tantangan akses kesehatan semakin kompleks, namun di saat yang sama juga membuka peluang bagi inovasi logistik udara yang mampu menjangkau wilayah terpencil secara cepat dan efisien.
Pembahasan
Di tengah tantangan ini, muncul kebutuhan mendesak akan solusi inovatif, efisien, dan berkelanjutan. Teknologi drone menawarkan salah satu jawaban tersebut. Lebih dari sekadar mesin, drone medis melambangkan harapan baru bahwa setiap nyawa, di mana pun berada, layak mendapatkan kesempatan yang sama untuk diselamatkan. Penundaan dalam distribusi vaksin, produk darah, dan obat-obatan darurat tetap menjadi hambatan utama di wilayah terpencil dan kurang berkembang (2). Medan yang berat, cuaca ekstrem, dan jalan yang tidak dapat diandalkan mengisolasi komunitas, sementara banjir dan longsor mengubah rute pedesaan menjadi penghalang yang tidak dapat dilalui. Setiap penundaan pengiriman menjadi bukti diam ketidakadilan sistem kesehatan di Indonesia. Krisis ini semakin diperparah oleh kekurangan kronis tenaga kesehatan profesional. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa Indonesia hanya memiliki 0,4 dokter per 1.000 penduduk, jauh di bawah rekomendasi global sebesar 1 per 1.000. Hingga 2025, pemerintah berencana meningkatkan angka ini menjadi 0,6, meskipun kemajuan masih tidak merata (3). Di beberapa pulau terpencil, kurang dari satu tenaga kesehatan melayani 10.000 penduduk (4). Dalam kondisi seperti ini, layanan kesehatan lebih menyerupai aspirasi dibanding jaminan. Di Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara Timur, keterbatasan tenaga medis dan infrastruktur membuat masyarakat harus menempuh perjalanan jauh, baik itu menggunakan perahu maupun melalui medan yang curam, hanya untuk mendapatkan perawatan medis dasar (5).
Kenyataan ini menyoroti jurang antara kemajuan nasional dan penderitaan lokal, bertentangan dengan Sustainable Development Goals (SDG) 3 (Good Health and Well-Being). SDG 3 akses obat dan layanan kesehatan universal. Harapan muncul melalui kebijakan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, bagian dari visi Indonesia Emas 2045, yang menekankan transformasi sistem kesehatan dan distribusi tenaga kerja yang adil. Prinsip “No One Left Behind” mendorong pemanfaatan teknologi untuk menjembatani kesenjangan (6).
Dokter, sebagai agen perubahan yang dipercaya, harus memimpin implementasi sistem drone medis di wilayah 3T Indonesia. Keahlian dalam penilaian klinis dan kesehatan digital akan memungkinkan dokter untuk memastikan drone dapat memberikan perawatan yang aman, akurat, dan penuh empati (7). Dengan mengintegrasikan telemedicine, merancang protokol operasional, dan mengawasi data dari sistem pemantauan berbasis Artificial Intelligence (AI), dokter diharapkan dapat menjembatani teknologi dengan kemanusiaan (8). Peran ini mencerminkan konsep baru “Future Alpha Doctor” dimana seorang praktisi yang adaptif, melek data, kolaboratif, dan berakar pada empati, lebih mampu menyeimbangkan peran antara manusia dan teknologi dalam perawatan kesehatan (9).
Dalam konteks global, penggunaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) di negara-negara seperti Rwanda, Ghana, dan Nepal telah membuktikan efektivitasnya. Di Rwanda, drone Zipline mengantarkan darah dan vaksin ke klinik terpencil dalam hitungan menit, mengurangi waktu pengiriman hingga 70% (10). Ghana mencatatpenurunan kekurangan stok vaksin sebanyak 30% dan di Nepal drone memungkinkan obat penyelamat nyawa menjangkau daerah pegunungan (11). Dengan memisahkan akses layanan kesehatan dari kendala geografis, teknologi drone sejalan dengan SDGs 3 dan RPJMN 2025–2029 bertindak sebagai jembatan antara visi dan kenyataan. Hal ini mewakili kemungkinan sistem kesehatan yang lebih tangguh dan inklusif (12).
Dengan permasalahan tersebut, konsep drone medis menjadi sangat krusial terutama untuk daerah 3T. Integrasi sistem pelaksanaan dari drone medis dengan fasilitas kesehatan primer daerah dan platform kesehatan digital menjadi kunci untuk memastikan pelaksanaan drone medis yang efektif dan efisien. Beberapa fungsi sistem drone medis yakni:
● Mengirimkan barang kesehatan obat, vaksin, darah, ataupun barang medis lainnya
● Melakukan evakuasi medis ringan dengan menghubungkan layanan telemedicine dan pengiriman drone; serta
● Memiliki sistem pengawasan epidemi berbasis pemetaan AI melalui deteksi partikel dan data satelit apabila tersedia.
Dalam pelaksanaannya, diperlukan beberapa framework yang penting untuk memaksimalkan kebermanfaatan dari sistem ini. Secara infrastruktur, drone memerlukan stasiun pengisian dan pusat kendali yang idealnya ditempatkan pada puskesmas utama kabupaten. Fasilitas ini termasuk pengisian daya dengan energi terbarukan, perawatan drone, penyimpanan data daerah, dan sumber daya pendukung lainnya. Penempatan tersebut memungkinkan untuk membentuk jaringan operasi nasional yang merata dan mampu untuk menyesuaikan dengan tantangan pada daerah dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Penyimpanan data dalam skala yang kecil memungkinkan untuk menunjang keperluan pemetaan navigasi cuaca berbasis machine learning untuk mengoptimalkan efisiensi dari jarak dan situasi yang akan ditempuh. Kapasitas bawaan drone menjadi hal lain yang perlu diperhatikan. Kualitas dari produk atau barang kesehatan seringkali sangat dipengaruhi oleh faktor suhu yang dapat mempengaruhi kualitas dari produk tersebut. Dengan itu, maka drone dilengkapi dengan fasilitas pendingin kecil, tentu dengan memperhatikan konsumsi daya, jarak tempuh, dan daya simpan energi. Berjalannya sistem tersebut tentu memerlukan kerjasama yang erat dari berbagai pihak pemerintah, akademisi, dan swasta. Penekanan dukungan kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan, TNI AU, dan BPBD akan membantu riset dan perkembangan yang diperlukan untuk membentuk sistem yang efektif. Nantinya, startup drone lokal juga dilibatkan guna memberdayakan masyarakat sekitar.
Dalam mendukung keberlanjutan, penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi aspek yang penting. Pelatihan operator drone medis bagi tenaga kesehatan lokal, terutama di wilayah 3T, menjadi langkah strategis untuk mendorong kemandirian dan keberlanjutan sistem. Tenaga kesehatan yang telah memiliki pemahaman tentang logistik medis akan dibekali dengan kemampuan teknis dalam pengoperasian drone, pemeliharaan dasar, serta keselamatan penerbangan. Selain itu, kolaborasi dengan lembaga pendidikan dan pelatihan yang resmi dapat mendorong sertifikasi nasional yang diakui secara resmi, sehingga mendukung standarisasi kualitas layanan di berbagai daerah. Agar pelaksanaan sistem drone medis berjalan secara transparan, akurat, dan terintegrasi, diperlukan sebuah sistem pemantauan berbasis data yang terhubung dengan platform SATU SEHAT milik Kementerian Kesehatan. Melalui dashboard digital terpadu, aktivitas drone seperti rute pengiriman dan kondisi barang medis dapat dipantau secara real-time. Data yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk riset operasional dan pengembangan kebijakan berbasis bukti, memastikan sistem tetap efektif dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
Implementasi dari proyek pilot dalam skala kecil direncanakan dilakukan pada kota besar untuk menguji ketahanan dan kapabilitas dari prototipe drone sebelum diproduksi dalam skala yang lebih besar. Dasar lokasi pelaksanaan ini yakni pengujian ketahanan yang membuka peluang besar kolaborasi antara startup teknologi lokal, universitas dan tentunya pemerintahan daerah. Tahapan selanjutnya yakni uji lapangan pada daerah sekitar kota besar, sebagai kemudahan logistik dan langkah pengujian awal atas untuk mengetahui situasi lapangan. Uji lapangan selanjutnya dapat dilakukan pada daerah 3T dengan melakukan koreksi dan penyesuaian pada sistem yang telah terbentuk. Secara bertahap, jumlah drone, tenaga operator, dan basis operasi dapat ditingkatkan. Implementasi sistem drone medis yang terintegrasi dengan pelatihan SDM dan pemantauan digital berkelanjutan akan memberikan dampak yang besar terhadap peningkatan akses akses kesehatan di wilayah 3T. Program ini tidak hanya mempercepat distribusi logistik medis dan tanggap darurat, namun juga mendorong kemandirian daerah melalui penguatan kapasitas dan pemberdayaan masyarakat. Model kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah, swasta, akademisi, dan komunitas lokal akan menjaga keberlanjutan sistem ini. Dalam jangka panjang, sistem drone medis diharapkan menjadi bagian integral dari ekosistem kesehatan nasional yang tangguh dan responsif, sejalan dengan visi transformasi digital kesehatan Indonesia.
Penutup
Sistem drone medis terintegrasi yang dikombinasikan dengan SDM yang terampil dan pemantauan digital berkelanjutan akan secara signifikan meningkatkan akses layanan kesehatan di wilayah terpencil Indonesia. Program ini tidak hanya akan mempercepat distribusi logistik medis dan respons darurat, tetapi juga mendorong pemberdayaan lokal dan kemandirian melalui pelatihan dan inovasi. Kelangsungan program ini bergantung pada kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, industri swasta, dan komunitas lokal untuk membentuk ekosistem terpadu antara teknologi dan kepedulian. Dalam jangka panjang, sistem ini dapat menjadi komponen esensial dari jaringan layanan kesehatan Indonesia yang tangguh dan didorong oleh teknologi digital, sejalan dengan visi transformasi negara menuju 2045.
Inovasi bukan hanya tentang menciptakan ratusan teknologi baru, tetapi juga memastikan teknologi tersebut menjangkau mereka yang paling terabaikan. Bagi komunitas di wilayah 3T, kehadiran drone untuk distribusi medis bukan hanya tanda kemajuan, tetapi juga wujud nyata prinsip bahwa setiap nyawa berharga, tanpa kecuali. Kesuksesan inovasi ini hanya dapat dicapai melalui sinergi antara semua pihak yang terlibat. Pemerintah, tenaga medis, sektor swasta, akademisi, dan komunitas lokal harus bekerja sama untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan, mulai dari regulasi yang adaptif, pelatihan teknis, hingga infrastruktur yang andal. Ketika empati dan teknologi bekerja bersama, jarak tidak lagi menjadi penghalang bagi harapan. Kami percaya, suatu hari nanti, Indonesia dapat menjadi bukti bahwa kemanusiaan dapat melambung tinggi bahkan di langit paling terpencil sekalipun. Dari langit Indonesia, kita belajar bahwa kemajuan sejati bukan sekadar terbang tinggi, tetapi menjangkau yang tak terjangkau.
‘When compassion takes flight, hope knows no distance.”
Daftar Pustaka:
[1] Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2024 [Internet]. Jakarta:
Kemenkes; 2024 [dikutip 15 Okt 2025]. Tersedia dari: https://www.kemkes.go.id
[2] Allan D. Unmanned Aerial Vehicles in Healthcare: Now and for the Future –
Investing into Emerging Technology for Rapid Vaccination Delivery in Healthcare.
London: Global HealthTech Press; 2022.
[3] World Health Organization. Global Health Workforce Statistics Database [Internet].
Geneva: WHO; 2023 [dikutip 15 Okt 2025]. Tersedia dari:
[4] Ministry of Health of Indonesia. Healthcare Workforce Statistics [Internet]. Jakarta:
Ministry of Health; 2023 [dikutip 15 Okt 2025]. Tersedia dari:
[5] doctorSHARE. Why It Matters – Lack of Healthcare Services in Indonesia’s Remote
Areas [Internet]. Jakarta: doctorSHARE; 2020 [dikutip 15 Okt 2025]. Tersedia dari:
[6] United Nations Development Programme. Sustainable Development Goal 3: Good
Health and Well-being [Internet]. New York: UNDP; 2023 [dikutip 14 Okt 2025].
Tersedia dari: https://sdgs.un.org/goals
[7] Mehta S, Smith J. The role of physicians in shaping the future of health in the
disruptive era. J Med Internet Res. 2021;23(4):e25815.
[8] Topol E. Deep Medicine: How Artificial Intelligence Can Make Healthcare Human
Again. New York: Basic Books; 2019.
[9] Frontiers in Digital Health. The doctor and patient of tomorrow: exploring the
intersection of artificial intelligence, preventive medicine, and ethical challenges. Front
Digit Health. 2025;5:1588479.
[10] Euliano EM, Sklavounos AA, Wheeler AR, McHugh KJ. Translating diagnostics
and drug delivery technologies to low-resource settings. Sci Transl Med.
2022;14(668):eabn8091.
[11] Zipline Inc. Impact of Drone Delivery on Medical Logistics in Africa [Internet].
California: Zipline Inc.; 2023 [dikutip 14 Okt 2025]. Tersedia dari:
