Sumber: Unsplash
Oleh: Alicia
Guru merupakan seseorang yang bekerja keras demi kemajuan bangsa sehingga pekerjaan ini dianggap sebagai pekerjaan yang sangat mulia. Namun, gaji guru di Indonesia sangat tidak sepadan dengan usaha yang dikeluarkan. Mereka bekerja mulai dari pagi hingga sore, bahkan terkadang harus bekerja kembali ketika tiba di rumah. Usaha dan kerja keras mereka untuk mencerdaskan anak bangsa kurang diperhatikan, bahkan terasa seperti tidak dihargai.
Opini ini menjadi kuat ketika wanita yang sering dianggap sebagai bentuk wanita berkarir dan berpendidikan tinggi, Sri Mulyani, mengeluarkan statement buruk mengenai para guru yang telah berjasa besar demi pendidikan negara Indonesia. Statement ini pun memperoleh banyak kecaman rakyat Indonesia.
Berdasarkan informasi dari Kementerian Komunikasi dan Digital, statement Sri Mulyani dalam Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di ITB yang mengatakan bahwa “Guru adalah beban negara.” merupakan cuplikan video hoaks yang beredar secara luas dan cepat di antara masyarakat. Meskipun video tersebut merupakan video hoaks, terdapat statement dari Sri Mulyani yang juga menyakiti perasaan masyarakat. Berdasarkan video yang di-upload oleh ITB bertajuk “Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2025” pada menit 57.20 hingga 57.53, terdapat perkataan yang secara gamblang mengatakan bahwa gaji guru yang kecil merupakan tantangan bagi negara. Kemudian, beliau juga mengatakan, “Apakah semua harus keuangan negara atau adakah partisipasi dari masyarakat?”
Perkataan ini sangat menyakiti perasaan masyarakat, baik yang berprofesi sebagai guru, maupun yang menghargai jasa para tenaga didik. Secara implisit, para guru dianggap sebagai beban dalam keuangan negara. Padahal, guru PNS hanya mendapatkan gaji sebesar Rp1.685.700 sampai Rp6.373.200 per bulan dan penggajian ini pun tergantung oleh status golongan, sedangkan guru non-PNS atau biasa disebut honorer hanya mendapatkan gaji sebesar Rp300.000 hingga Rp2.000.000 per bulan. Gaji mereka berbanding terbalik dengan jasanya yang sangat besar untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Gaji mereka berada jauh di bawah UMR, padahal para guru juga membutuhkan sandang pangan untuk hidup, tetapi mengapa gajinya tidak dinaikkan seperti gaji DPR yang dinaikkan sebesar dua kali lipat dari gaji sebelumnya? Dengan ini, guru dapat dikategorikan sebagai pahlawan berjasa besar yang tidak dihargai oleh negara.
Fakta bahwa guru tidak dihargai di Indonesia membuat banyak generasi muda enggan untuk berprofesi menjadi seorang guru. Potret guru yang memburuk membuat anak muda yang bercita-cita untuk mengajar berhenti menggapai cita-citanya. Beberapa warga juga berperan penting dalam pemberian stigma buruk, beberapa dari mereka mengucapkan kata-kata yang tidak menghargai dan bahkan merendahkan profesi guru. Sehingga, tidak mengagetkan ketika para generasi muda takut dalam memperjuangkan cita-citanya karena generasi muda adalah generasi yang sangat mudah mengikuti perkataan orang lain dan merasa minder ketika mendengar ucapan buruk dari orang lain.
Cemooh warga kecil muncul dari sikap para petinggi yang lebih dulu meremehkan pekerjaan guru. Para petinggi yang tidak berusaha menaikkan gaji guru membuat warga meremehkan pekerjaan mulia tersebut. Para petinggi itu lupa bahwa guru merupakan pihak yang membuat mereka menjadi orang dengan kepentingan besar untuk negara. Tidak sedikit guru merasa sedih karena perasaan mereka untuk dihargai tak tervalidasi. Guru pun merupakan profesi yang rentan mengalami stres karena pekerjaan, sehingga bila kesedihan dan rasa stres ini bercampur, sangat mungkin jika guru mengalami gangguan depresi.
Tidak seharusnya guru diperlakukan seperti ini, baik oleh masyarakat, maupun oleh pemerintah. Sebagai manusia, guru harus mendapatkan haknya untuk hidup dengan layak. Selain sebagai manusia, guru juga berhak mendapatkan gaji yang layak sebagai tenaga profesi guru. Mereka telah mendedikasikan tenaga dan hidup mereka demi mencerdaskan anak bangsa, para guru telah menanam benih investasi bangsa demi kemajuan Indonesia emas 2045. Namun, apakah ini jawaban yang layak atas semua usaha mereka?
Daftar Pustaka:
- BBC News. (2025). Gaji dan tunjangan anggota DPR lebih Rp100 juta per bulan – ‘Tidak patut saat masyarakat kesulitan ekonomi’. https://www.bbc.com/indonesia/articles/cqle4p2gdnzo
- Kementerian Komunikasi dan Digital. (2025). [HOAKS] Video Sri Mulyani Sebut Guru sebagai Beban Negara. https://www.komdigi.go.id/berita/berita-hoaks/detail/hoaks-video-sri-mulyani-sebut-guru-sebagai-beban-negara
- Negara Indonesia. (2024). Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 11 Tahun 2024. https://peraturan.bpk.go.id/Details/276756/perpres-no-11-tahun-2024
- Safitri, Roosyidah, et al. (2024). Perilaku Fear of Missing Out (FoMO) Pada Gaya Hidup Generasi Z di Media Sosial. https://proceeding.unesa.ac.id/index.php/sniis/article/download/3849/1174/17171
- Stapleton, P. (2019). Teachers are more depressed and anxious than the average Australian. The Conversation. https://theconversation.com/teachers-are-more-depressed-and-anxious-than-the-average-australian-117267

Leave a Reply