Di Antara Pasien dan Waktu yang Tak Pernah Cukup

Rumah Sakit Universitas Airlangga Sisi Kampus C Tahun 2023
Sumber: Dok. Pribadi

Oleh: Radfo

Baru tahun ketiga aku menjalani pendidikan kedokteran, masih beberapa tahun lagi untuk menulis gelar “dr.” di depan nama, entah berapa lama lagi hingga huruf  “Sp.” menyusul di belakangnya. Namun, begitu kembali menginjakkan kaki di rumah sakit pendidikan ini, semua ambisi terasa mengecil. Suara pasien yang memanggil, bidan yang menjawab, dokter muda yang berlari kecil membawa berkas; semuanya berpadu jadi pemandangan yang dulu akrab, entah kenapa kini terasa asing. Aku lupa betapa sibuknya bagian rumah sakit ini. Betapa cepat ritmenya, seolah setiap detik harus ditebus dengan diagnosa baru, dengan input data di SIRS, dengan senyum sopan yang harus tetap terpasang bahkan ketika nafas sudah habis. Dua jam di ruangan itu terasa seperti menonton potongan masa depan—masa depan yang tidak berkilau, tetapi nyata.

Pasien datang silih berganti, membawa cerita masing-masing. Seorang ibu hamil 36 minggu merebah gelisah di kasur periksa, perutnya tampak tegang ketika dokter muda mengukur tinggi fundus—33 sentimeter, katanya, sambil menekan lembut di sisi kanan untuk mendengar denyut jantung janin yang agak samar. Di ruang sebelah, seorang ibu sembilan hari nifas datang dengan keluhan benjolan di area genital. Setelah pemeriksaan awal, kami—dokter PPDS, dokter muda, dan aku sebagai mahasiswa pre-klinik—menduga kemungkinan kista bartholin, meski hasilnya belum pasti dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan nifas menunjukkan uterus sudah tidak teraba, tanda pemulihan berjalan baik. Ibu itu tampak lega, meski matanya masih menyimpan sedikit cemas.

Di meja pemeriksaan lain, layar USG menampilkan gambar abu-abu yang berdenyut pelan. Pasien dengan bukaan satu, diukur ketebalan cairan ketuban dan lingkar kepala janin: AFI, BPD, HC, AC, FL, huruf-huruf yang tampak teknis tetapi menyimpan debar kehidupan dibaliknya. Seseorang menyebut “MCF doppler,” dan aku berpikir betapa asingnya semua singkatan ini bagi pasien yang hanya ingin tahu satu hal sederhana: apakah bayinya baik-baik saja.

Lalu, datanglah tekanan yang tidak tertulis di panduan manapun: suara konsulen senior yang ingin cepat, konsulen junior yang menahan diri dan helaan napas panjang yang menjadi bahasa universal. “Delok en iki talaaa, wifine lemot ngene…” katanya, separuh bercanda, separuh menahan frustrasi. Lalu, ada kalimat lanjutan yang lebih lembut: “Aku sih sabar… seniorku iki seng ogak.” Mungkin begitulah rantai tekanan diwariskan—dari satu generasi tenaga kesehatan ke generasi berikutnya—tidak melalui mata kuliah, tetapi lewat intonasi dan kebiasaan yang tak pernah sempat dipertanyakan.

Pasien menunggu lama, lalu mengeluh. Mereka sebenarnya memiliki hak untuk marah. Tetapi mereka terkadang lupa bahwa dibalik meja itu, ada nakes yang sedang berpacu dengan belasan rekam medis, diagnosis, dan sistem input data yang tak kenal belas kasihan. Di layar komputer, angka dan kode penyakit terus mengalir, seolah setiap nafas dan keluhan bisa diterjemahkan menjadi angka di spreadsheet.

Di sela kekacauan itu, ada satu cerita yang melintas di tengah sibuknya pemeriksaan. Seorang pasien dengan ketuban pecah pada usia kehamilan 19 minggu datang ke Poli Obgyn. Gemelli, perdarahan, hingga akhirnya abortus. Cerita itu disampaikan dengan nada datar oleh kakak DM. Justru di situlah letak tragisnya, ketenangan yang muncul karena sudah terlalu sering menyaksikan kehilangan.

Lalu ada cerita dari ruang USG. Prosedur transvaginal dilakukan tanpa sempat mengingatkan pasien untuk menarik napas terlebih dahulu. Dokternya lupa, mungkin karena terburu-buru. Pasien tampak terkejut, sementara temanku yang mengamati ikut membeku. Saat itu aku menyadari, ketergesa-gesaan adalah penyakit yang paling mudah menular di rumah sakit.

Namun di tengah semua itu, ada hal yang membuat hari itu tidak hanya melelahkan, tetapi juga bermakna. Kakak-kakak senior yang bersedia menjelaskan, dokter yang mau berbagi logika klinis di antara jadwal yang padat, serta bidan dan perawat yang bergerak tanpa banyak bicara, tetapi tahu persis siapa yang membutuhkan bantuan. Mereka seperti roda kecil di dalam mesin besar yang nyaris kehilangan pelumas, tetapi masih berputar dengan sisa niat baik.

Dua jam berlalu begitu saja. Aku berdiri di pojok ruangan, setengah bingung, setengah kagum. Semua orang tampak terburu-buru, tetapi juga terlatih dalam kekacauan. Semua berbicara tentang efisiensi, tetapi yang tersisa justru ketegangan dan solidaritas yang aneh—semacam rasa bahwa kami sama-sama lelah, tetapi harus tetap berjalan.

Mungkin beginilah wajah masa depan yang sesungguhnya, bukan yang tampak glamor dengan jas putih dan stetoskop di leher, melainkan yang berdebu dengan tumpukan kartu pasien serta notifikasi sistem yang terus berbunyi. Di sanalah seni bertahan hidup sebagai tenaga kesehatan diuji, bukan pada seberapa cepat membaca hasil, melainkan pada seberapa kuat mempertahankan empati agar tidak hilang di tengah kebisingan.

Rumah sakit pendidikan mengajarkan hal-hal yang tidak tertulis dalam silabus. Tentang bagaimana kesabaran perlahan terkikis oleh rutinitas yang tak memberi ruang untuk bernapas. Tentang bagaimana setiap “Maaf ya, Bu, mohon tunggu sebentar” sebenarnya adalah bentuk kecil dari kemanusiaan yang masih berusaha bertahan.

Dua jam itu mungkin tampak singkat, tetapi di dalamnya terkandung miniatur dari dunia yang akan kutinggali kelak. Sebuah dunia di mana pengetahuan, kelelahan, dan empati berdesakan dalam ruang yang sama, seperti pasien-pasien di ruang tunggu yang tak pernah benar-benar sepi.

Aku melangkah keluar dari ruang pemeriksaan dengan kepala penuh bunyi. Di luar, siang menggantung berat di langit rumah sakit. Aku menuruni tangga menuju kantin, satu-satunya tempat yang masih terasa manusiawi di antara ruangan-ruangan yang menuntut ketelitian tanpa henti. Bau kopi saset bercampur dengan desinfektan, denting sendok beradu dengan desis napas lelah para dokter muda. Di sana, waktu terasa melambat, seolah enggan melangkah sejauh ritme ruangan tempat aku baru saja berdiri.

Aku terduduk di pojok kantin, menatap permukaan meja yang dingin dan bercak kopi yang sudah mengering. Dari tempatku, kulihat beberapa kakak tingkat yang baru beristirahat jaga. Di wajah mereka, ada ketenangan yang janggal: semacam damai yang lahir dari tak punya pilihan selain terus berjalan. Aku tahu, cepat atau lambat, aku juga akan sampai di titik itu. Tapi di sela hiruk-pikuk yang tak memberi jeda, terselip ketakutan yang sulit disebutkan—takut kehilangan sesuatu yang tak pernah tertulis dalam kurikulum mana pun: rasa heran, rasa iba, dan keyakinan bahwa menjadi dokter bukanlah tentang kuasa. Maka, di antara hiruk pikuk yang tak pernah berhenti, masihkah sempat kita mendengar detak hati sendiri?