Oleh: Syavira Dwi
Setiap kali kita menggunakan antibiotik tanpa indikasi jelas, atau meresepkannya “demi aman”, kita sedang memberikan peluang bakteri untuk berevolusi. Resistensi antibiotik bukan sekadar fenomena laboratorium, melainkan hasil dari kebiasaan sehari-hari yang salah kaprah, baik di meja praktek dokter maupun di laci obat rumah kita.
Resistensi antibiotik kini menjadi krisis global yang sering luput dari perhatian publik. WHO menilai bahwa sekitar 1,27 juta orang meninggal karena infeksi bakteri resisten obat setiap tahun. Jika tren ini terus berlanjut, dunia berpotensi kehilangan 10 juta jiwa setiap tahun pada 2050, angka yang lebih tinggi dibandingkan korban kanker.
Program antibiotic stewardship adalah upaya terstruktur untuk memastikan antibiotik digunakan tepat indikasi, tepat dosis, dan tepat durasi. Tujuannya sederhana: mencegah resistensi terjadi.
Namun, di lapangan, penerapan prinsip ini tidak selalu mudah.
Di rumah sakit, dokter sering berada di posisi sulit: pasien dan keluarga mendesak agar “langsung diberi antibiotik”, sementara hasil kultur bakteri belum tersedia. Di layanan primer, pemberian antibiotik masih dianggap sebagai solusi cepat untuk demam, pilek, ataupun batuk. Padahal, sebagian besar disebabkan oleh virus dan tidak memerlukan obat antibiotik.
Dokter tentu paham bahaya dari resistensi, tetapi sistem sering tidak mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Pemeriksaan mikrobiologi terbatas, waktu konsultasi sempit, dan tekanan pasien tinggi.
Akibatnya, antibiotik sering diberikan empiris tanpa konfirmasi penyebab infeksi.
Selain itu, beberapa rumah sakit belum memiliki tim pengawas antibiotik yang aktif meninjau pola peresepan. Padahal, studi menunjukkan bahwa kehadiran tim stewardship dapat menurunkan penggunaan antibiotik hingga 30% tanpa meningkatkan angka kematian.
Menegakkan stewardship bukan berarti membatasi dokter, melainkan untuk memberi mereka panduan dan dukungan klinis agar keputusan yang diambil lebih akurat dan bertanggung jawab.
Di sisi lain, resistensi antibiotik juga tumbuh subur karena kebiasaan masyarakat. Antibiotik masih mudah dibeli tanpa resep, terutama di daerah. Banyak juga pasien berhenti mengonsumsi obat begitu merasa “sudah baikan”, menyimpan sisanya, lalu meminumnya lagi di lain waktu.
Kebiasaan ini terlihat sepele, tetapi berdampak besar.
Begitu bakteri terpapar antibiotik dalam dosis yang tidak mematikan, mereka dapat belajar bertahan dan menjadi kebal di masa depan.
Masalahnya bukan semata pada akses, tapi pada pemahaman. Masyarakat perlu tahu bahwa tidak semua infeksi memerlukan antibiotik. Edukasi publik yang konsisten dan mudah dipahami menjadi kunci perubahan. Selain sektor kesehatan, sektor lain seperti pertanian dan peternakan turut memberikan andil.
Antibiotic stewardship adalah tanggung jawab bersama.
Tenaga medis perlu konsisten menerapkan prinsip berbasis bukti, sementara pemerintah dan rumah sakit wajib menyediakan dukungan berupa pelatihan, audit resep, dan akses laboratorium yang memadai.
Masyarakat pun harus diajak menjadi bagian dari solusi: berhenti membeli antibiotik bebas, mengikuti dosis dan durasi yang diresepkan, serta tidak menekan dokter untuk memberikan “obat cepat sembuh”.
Jika kita gagal menjaga antibiotik hari ini, generasi berikutnya mungkin akan hidup di dunia di mana luka kecil kembali bisa mematikan.
Dan ketika saat itu tiba, sejarah akan mencatat: bukan bakteri yang mengalahkan manusia, melainkan manusia yang mengkhianati penemuannya sendiri.
Referensi:
- Kemkes.go.id. (2024). Kematian Akibat AMR Diperkirakan Capai 10 Juta Orang pada 2050, Kemenkes dan WHO Launching Strategi Nasional. Available at: https://kemkes.go.id/id/kematian-akibat-amr-diperkirakan-capai-10-juta-orang-pada-2050-kemenkes-dan-who-launching-strategi-nasional [Accessed 9 Aug. 2025].
- Majumder, M.A.A., Rahman, S., Cohall, D., Bharatha, A., Singh, K., Haque, M. and Gittens-St Hilaire, M. (2020). Antimicrobial stewardship: Fighting antimicrobial resistance and protecting global public health. Infection and Drug Resistance, 13(1), pp.4713–4738. doi:https://doi.org/10.2147/idr.s290835.
- Ramasco, F., Méndez, R., Suarez de la Rica, A., González de Castro, R. and Maseda, E. (2024). Sepsis Stewardship: The Puzzle of Antibiotic Therapy in the Context of Individualization of Decision Making. Journal of Personalized Medicine, 14(1), p.106. doi:https://doi.org/10.3390/jpm14010106.
- WHO policy guidance on integrated antimicrobial stewardship activities. (2021). World Health Organization.
- WHO policy guidance on integrated antimicrobial stewardship activities. (2021). World Health Organization.

Leave a Reply