Oleh: Nathania Clara Tanojo, Jacqueline Angela Araki, Clarissa Franka Arifin
Pendahuluan
Pengalaman mendapati seseorang yang tiba-tiba terjatuh baik karena pingsan mendadak di tengah keramaian atau nafasnya terhenti dan jantungnya kehilangan kestabilan berdenyut dapat memicu respon primal, yaitu mengubah kepanikan menjadi kebutuhan yang mendesak akan intervensi cepat. Tindakan ini inti dari penanganan gawat darurat. Dalam situasi darurat seperti itu, setiap detik sangat berarti. Sementara di kasus lain, terdapat masyarakat yang mengerumuni korban hanya untuk konten atau ikut-ikutan. Hal-hal tersebut tidak hanya terjadi di film. Ini bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan pada siapa saja.
Sayangnya, skenario tersebut masih sering terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia. Masih sedikit jumlah orang yang belum mengetahui cara melakukan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dengan benar. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan enam partisipan oleh Yari, Yarwin dkk., masih ditemukan keterbatasan pengetahuan masyarakat akan tindakan pertolongan pertama yang efektif dalam situasi kecelakaan.[1] Sebagian besar partisipan menunjukkan pemahaman yang minim terhadap tindakan pertolongan pertama yang tepat dalam keadaan darurat. Padahal, keterampilan dasar seperti Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO), menghentikan perdarahan, mengobati luka bakar, dan menangani choking dapat menjadi penentu antara hidup dan mati dalam situasi darurat.
Salah satu contoh kasus PPGD adalah henti jantung. Sebagian besar orang yang dapat menjadi responden pertama dalam kasus henti jantung di luar rumah sakit adalah orang awam. Sebuah penelitian di Jepang, yang telah melatih penduduknya untuk melakukan PPGD, mengindikasikan bahwa RJPO yang diberikan oleh masyarakat awam terlatih tidak memiliki perbedaan dampak neurologis yang signifikan jika dibandingkan dengan RJPO yang diberikan tenaga medis yang sedang tidak bertugas [2]. Artinya, pertolongan medis oleh orang awam yang memiliki pelatihan memiliki tingkat keberhasilan yang cukup besar dalam keadaan gawat darurat. Dalam kondisi gawat, tenaga medis tidak selalu dapat datang dengan cepat. Dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan prosedur gawat darurat yang benar, kans keselamatan pasien juga dapat meningkat.
PPGD dapat juga dilakukan oleh masyarakat awam asal mereka diberi pelatihan dan edukasi yang lebih memadai.[3] Pengetahuan yang memadai sangat krusial karena cara penanganan korban gawat darurat sangat bergantung pada jenis cedera atau kondisi yang mereka alami. Penolong harus dapat memahami kebutuhan korban dan memberikan pertolongan yang tepat. Bahkan dalam kondisi tidak darurat, pengetahuan pertolongan pertama dapat membantu mengurangi derajat cedera, misalnya seperti
dalam kasus luka bakar.
Peningkatan pengetahuan ini akan sangat berdampak karena dalam beberapa tahun terakhir, angka kecelakaan dan kondisi gawat darurat di Indonesia masih cukup tinggi. Nurhamsyah, dkk. menyatakan bahwa dengan kurangnya pemahaman terhadap kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan keselamatan, perlu dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkannya.[4] Mengedukasi masyarakat dengan lebih efektif sangatlah krusial untuk menghadapi tantangan kesehatan tersebut. Masyarakat yang sadar akan pentingnya pertolongan pertama akan lebih mampu mencegah kematian akibat kegawatdaruratan yang dapat ditangani dalam waktu emas (golden period), yaitu waktu di mana probabilitas pasien untuk selamat lebih tinggi. Untuk menghadapi tantangan tersebut, perlu pendekatan baru yang dapat mempersiapkan generasi yang akan menjadi garda terdepan dalam berbagai aspek kehidupan kelak, yaitu Generasi Alpha.
Dunia ini semakin lama semakin bergantung dengan gawai– alat krusial yang dibawa kemana-mana dan dipakai untuk kurang lebih apapun, mulai dari komunikasi, pencarian informasi, bahkan pembayaran. Solusi yang dikemas dalam gawai akan lebih praktis dalam diintegrasikan ke dalam masyarakat, khususnya generasi Alpha kedepannya. Generasi Alpha sudah terekspos pada dunia digital sejak kecil yang membuat mereka menjadi digital natives. Tidak mengherankan jika upaya berbentuk gamifikasi, yaitu penggunaan desain gim dalam konteks non-gim, dapat berdampak secara signifikan terhadap cara belajar mereka dibandingkan metode-metode pengajaran tradisional. Gamifikasi menjadi wadah untuk meningkatkan ketertarikan dan motivasi belajar. [5]
Pembahasan
Melihat preferensi pembelajaran yang semakin kini semakin terdigitalisasi, kami mengusulkan edukasi PPGD juga diperkenalkan menggunakan strategi gamifikasi. Strategi ini akan berbentuk aplikasi agar bisa diakses di manapun, kapanpun, baik dengan koneksi internet baik maupun buruk. Dalam kondisi tanpa sambungan internet, aplikasi ini akan mengandung beberapa materi PPGD sederhana berbentuk seperti gim. Tentunya sesuai batas tertentu dan tidak mengajarkan tata cara yang menjadi wewenang ahli kepada orang awam, contohnya kasus saat kesalahan kecil dapat berakibat fatal pada korban seperti krikotiroidotomi.
Setelah menyelesaikan tahap awal yang berisi instruksi mengenai dasar-dasar PPGD, seperti penegasan batas-batas yang bisa dilakukan dalam situasi tertentu, pengguna bisa mengakses materi yang dimuat dalam gim edukatif. Materinya antara lain cara menangani luka bakar, sengatan lebah, mimisan, abrasi kulit, dan kelilipan. Materi-materi tersebut berasal dari ahli-ahli di bidangnya. Penyampaiannya akan dikemas dalam visual yang menarik dan bahasa yang mudah dipahami. Pemahaman pengguna akan diuji melalui kuis maupun roleplay sesuai skenario. Sesuai konsep gamifikasi, untuk meningkatkan motivasi belajar, pengguna bisa melakukan personalisasi akun dan meningkatkan rating dalam aplikasi. Pengguna juga dapat mempelajari langkah-langkah penanganan yang memiliki urgensi lebih tinggi seperti RJPO, penghentian pendarahan, dan Manuver Heimlich bila tersedak.
Aplikasi ini menawarkan kepraktisan dengan sumber yang tepercaya. Harapannya, pengetahuan dan pemahaman pengguna semakin meningkat dengan strategi gamifikasi. Kontribusi para profesional dalam bidang PPGD, pengembang aplikasi, desainer UI/UX, Kementerian, dan instansi pertolongan gawat darurat resmi sangat krusial untuk membuat wirausaha sosial ini. Selain memberikan lapangan pekerjaan dalam pengembangan dan pemeliharaan aplikasi, jika disosialisasikan dengan baik, bisa meningkatkan kesadaran masyarakat mulai dari anak-anak seperti generasi alpha. Tidak hanya itu, aplikasi ini juga berpotensi membantu secara langsung dalam situasi gawat darurat. Widget atau fitur berupa panic button yang secara otomatis dari aplikasi dapat diimplementasikan untuk menampilkan hotline emergency yaitu 112 sambil memberikan metronom untuk melakukan RJPO.
Dengan menjadikan pelatihan PPGD sebagai bagian dari proses tumbuh kembang generasi muda, kita dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mereka sejak dini terhadap teknik-teknik pertolongan pertama dalam situasi gawat darurat. Pembawaan materi melalui gim interaktif tidak hanya memperdalam konsep PPGD, tetapi juga sejalan dengan fase tumbuh kembang mereka yang sedang aktif membentuk pola pikir, nilai, dan keterampilan hidup dasar. Pendekatan ini dapat menjadi strategi dalam menyiapkan generasi masa depan yang tanggap dan siap bertindak dalam situasi-situasi ketika nyawa seseorang dipertaruhkan.
Akan tetapi, gagasan ini tentu memiliki kelemahan. Dengan mengemasnya sebagai gim, tingkat keseriusan dari pembelajaran ini dapat berkurang. Selain itu, pembelajaran yang bersifat satu arah dan daring ini juga belum mengakomodasi ruang untuk feedback yang didapatkan melalui pembelajaran PPGD tatap muka. Simulasi daring seperti ini tidak dapat menggantikan pembelajaran PPGD dengan alat peraga asli sehingga belum tentu terjamin kompetensinya.
Meskipun solusi ini mungkin memiliki beberapa keterbatasan, terutama dalam hal keterbatasan interaksi fisik atau praktik langsung, penggunaan gim edukatif PPGD tetap memiliki nilai manfaat yang signifikan, bagi semua kalangan, namun terkhusus dalam konteks melatih Generasi Alpha sebagai generasi masa depan yang siap siaga. Gamifikasi dapat menjadi strategi yang efektif untuk mengenalkan konsep-konsep dasar pertolongan pertama secara menyenangkan dan sesuai dengan gaya belajar mereka yang interaktif serta berbasis visual. Bahkan sebelum anak-anak terlibat dalam pelatihan langsung, aplikasi ini dapat membentuk kerangka berpikir logis dalam menghadapi situasi gawat darurat. Sebaliknya, bagi anak-anak yang sudah mendapat pelatihan, gim ini juga dapat berfungsi sebagai alat pengulangan dan penguatan materi yang telah dipelajari. Kerja sama dengan instansi resmi juga menjadikan aplikasi ini suatu jembatan untuk mendapatkan sertifikasi penolong jika pengguna bersedia mempelajari PPGD lebih dalam lagi di bawah naungan instansi tersebut.
Penutup
Di tengah tantangan pemerataan pendidikan kesehatan di Indonesia, solusi ini menjadi jalur alternatif yang inklusif dan mudah diakses, memungkinkan anak-anak dari berbagai latar belakang untuk mendapatkan pemahaman dasar tentang PPGD. Sekadar bermain untuk memperoleh pengetahuan teoretis tetap jauh lebih baik daripada tidak memiliki pengetahuan sama sekali. Lebih dari itu, dengan pengawasan guru atau pendamping serta integrasi dengan kegiatan praktikum langsung, pendekatan berbasis gim ini dapat menjadi jembatan yang strategis untuk menyiapkan Generasi Alpha sebagai generasi yang cerdas secara digital, tanggap dalam situasi darurat, dan memiliki kepedulian terhadap keselamatan diri maupun orang lain. Maka, meskipun bukan solusi tunggal, gim edukatif PPGD tetap relevan dan berperan penting dalam membangun fondasi kesiapsiagaan sejak dini.
Tentunya, diperlukan kolaborasi yang terstruktur antara pengembang aplikasi, tenaga medis, pendidik, serta instansi terkait seperti Kementrian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan agar usaha untuk mengembangkan proyek sosial ini berhasil menjangkau targetnya. Dengan dukungan regulasi, promosi yang tepat, dan pembaruan konten yang berkelanjutan, metode ini berpotensi menjadi salah satu peluang baru untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pertolongan gawat darurat.
Dengan solusi inovatif yang telah kami rancang, besar harapan agar pendekatan yang kreatif dan mudah diakses dapat benar-benar mempersiapkan dan meningkatkan kesadaran Generasi Alpha terhadap pentingnya pemahaman PPGD. Diharapkan pula agar solusi ini dapat meningkatkan daya tarik pelatihan PPGD melalui pendekatan yang lebih kekinian dan partisipatif akan mendorong lebih banyak anak-anak untuk terlibat secara aktif. Marilah kita membangun generasi masa depan yang tidak hanya peduli terhadap keselamatan sesama, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk bertindak sigap saat dibutuhkan.
Daftar Pustaka:
[1] Yari, Yarwin dkk. Community First-aid Knowledge of Accidents: A Qualitative
Phenomenological Study in Jakarta, Indonesia [Internet]. Acta Med Philipp. 2025 Apr 8
[diakses 15 Oktober 2025]. Tersedia dari:
https://actamedicaphilippina.upm.edu.ph/index.php/acta/article/view/9772
[2] Kobayashi, dkk. Cardiopulmonary resuscitation performed by off-duty medical
professionals versus laypersons and survival from out-of-hospital cardiac arrest among
adult patients. Resuscitation. 2019; 135, 66–72.
[3] Setiawan B. Faktor yang berhubungan dengan keterlambatan penanganan pasien di
ruang IGD RS Premier Surabaya [skripsi]. Surabaya: STIKES Hang Tuah Surabaya;
2023
[4] Nurhamsyah, D. dkk. Peningkatan Peran Masyarakat terkait Pertolongan Pertama
pada Kecelakaan menggunakan Pendekatan Community Health Action Model.
Reswara. 2024; Vol. 5 No. 2, 551-557
[5] Fernando P, Premadasa S. Use of gamification and game-based learning in educating
Generation Alpha: A systematic literature review. Educational Technology & Society.
2024;27(2):114-32. doi:10.30191/ETS.202404_27(2).RP0

Leave a Reply