Seperti Chiikawa, Kita Harus Tetap Berjalan
Seperti Chiikawa, Kita Harus Tetap Berjalan
Oleh: Himawan Rizqi
Karakter Kecil di Dunia yang Besar
Belakangan ini khazanah dunia maya tengah digemparkan dengan kehadiran entitas mungil, berwajah lucu, dan bertubuh bulat yang datang dari negeri matahari terbit atau Jepang. Chiikawa, singkatan dari “Nanka Chiisakute Kawaii Yatsu” yang secara harfiah berarti “sesuatu yang kecil dan imut”. Dunia Chiikawa berlatar di sebuah hutan yang asri dan damai, dan ceritanya berputar di antara tiga tokoh sentral yaitu Chiikawa, Hachiware, dan Usagi.
Chiikawa digambarkan sebagai makhluk kecil, bulat, berwarna putih yang memiliki sifat lembut dan gampang menangis. Ia berkomunikasi secara non-verbal, mengeluarkan suara imut seperti “Iyaaa!” dan “Yadaa!”. Ia didampingi oleh kedua temannya yaitu Hachiware, seekor kucing berwarna biru yang komunikatif, kalem, dan sangat suportif serta Usagi, seekor kelinci kuning yang jahil dan sangat aktif.
Sekilas Chiikawa tampak seperti karakter lucu biasa yang memenuhi linimasa dunia maya. Tubuhnya mungil, ekspresinya polos, dan tingkah lakunya menggemaskan. Namun jika kita melihat dunia dan cerita yang ada di dalam animasinya secara seksama, maka akan terlihat bahwa Chiikawa dan dunianya menyimpan suatu hal yang sejatinya jauh lebih dekat dengan realitas dibanding yang terlihat di atas permukaan.
Di balik visual pastel dan cerita singkatnya, cerita Chiikawa dipenuhi kecemasan-kecemasan kecil yang terasa familiar. Takut salah, bingung menjalani hidup, hingga rasa lelah dan khawatir yang datang diam-diam. Beberapa episodenya menggambarkan hal itu, dimana Chiikawa mengikuti ujian mencabut rumput bersama Hachiware, namun Chiikawa tidak lulus. Walaupun begitu, ia tetap berusaha dan belajar lagi sehingga akhirnya bisa lulus. Bisa juga beranjak ke dalam episode lain, dimana ia dan teman-temannya bertemu dengan seekor monster. Chiikawa yang ketakutan tetap berusaha untuk mengusir monsternya walaupun teman-temannya sudah kalah dan badannya sangat gemetar. Bahkan dalam sebagian episodenya, Chiikawa terlihat menangis karena tekanan sederhana yang terasa terlalu besar untuk dirinya. Dan anehnya justru di situlah banyak orang merasa terwakili.
Kenapa Semua Orang Tiba-Tiba Terobsesi dengan Chiikawa?
Chiikawa lahir di Twitter pada tahun 2020, ketika penciptanya yang bernama Nagano membagikan komik singkat dalam format gambar kepada masyarakat luas. Lambat laun, mulai bermunculan tokoh-tokoh lain seperti Hachiware, Usagi, Momonga, dan Kuri-Manju. Popularitas Chiikawa mulai meledak di Jepang pada tahun 2022 ketika adaptasi animenya diumumkan dan semakin menyebar luas ke seluruh dunia pada tahun 2024 dengan bantuan dari media sosial layaknya Instagram dan TikTok. Di tengah hiruk pikuk dunia dan ritme hidup yang semakin cepat, Chiikawa dengan cepat menjadi junjungan berbagai kalangan umur, mulai dari milenial sampai ke Gen Z.
Fenomena meledaknya Chiikawa muncul di tengah generasi yang hidup dalam tekanan sosial tinggi dan budaya produktivitas yang tidak pernah benar-benar berhenti. Di saat semua orang berlomba menjadi versi terbaik dirinya, Chiikawa hadir sebagai sesuatu yang jauh lebih sederhana: menawarkan kenyamanan.
Generasi muda hari ini sangat akrab dengan istilah burnout, overthinking, dan rasa lelah mental yang terus datang bahkan saat tidak melakukan apa-apa. Karena itu, banyak orang mulai mencari comfort media dengan preferensi mereka masing-masing. Melansir dari Grady, Eden dan Wolfers (2025), comfort media merupakan sebuah media yang familiar dan bernuansa positif, sehingga memberikan perasaan nyaman kepada penikmat / pengonsumsi media tersebut. Penggunaan visual yang lembut, lagu yang menenangkan, serta jalan cerita yang mudah dicerna menjadikan Chiikawa salah satu comfort media yang pas.
Ditambah lagi, desain karakter Chiikawa secara alami memancing rasa sayang. Dalam psikologi fenomena ini dikenal sebagai baby schema effect, ketertarikan manusia terhadap bentuk kecil, bulat, dan polos yang memunculkan insting protektif. Maka tidak heran jika banyak orang merasa terikat secara emosional dengan karakter-karakter ini.
Chiikawa dan Generasi yang Diam-Diam Lelah
Boleh jadi alasan terbesar mengapa Chiikawa begitu dekat dengan anak muda hari ini adalah karena ia terasa nyata dan blak-blakan secara emosional. Banyak generasi milenial dan Gen Z tumbuh dengan tekanan untuk selalu berkembang, selalu produktif, dan selalu terlihat baik-baik saja. Kondisi ini juga semakin diperparah ketika mereka dihadapkan oleh standar hidup di berbagai laman dunia maya, termasuk media sosial.
Media sosial membuat semua orang tampaknya meraih kesuksesan lebih cepat dan menjalani kehidupan yang lebih bahagia. Namun dibalik itu, diam-diam muncul kecemasan baik secara individual maupun kolektif yang sering tidak dibicarakan secara langsung. Takut tertinggal, takut gagal, takut tidak memenuhi ekspektasi. Dalam psikologi modern, kondisi ini sering dikaitkan dengan high-functioning anxiety, dimana seseorang terlihat baik-baik saja dari luar dan tetap bisa menjalani kehidupan sebagai salah satu anggota dari masyarakat, tetapi terus menyimpan dan memendam tekanan mental.
Chiikawa terasa relatable karena ia tidak menyembunyikan rasa takut itu. Ia tidak diceritakan sebagai sebagai karakter yang serba bisa dan selalu berhasil. Ia sering takut, sering panik, dan gagal dalam beberapa hal. Namun meski begitu ia tetap bangkit, berdiri, memantapkan hati dan mencoba lagi keesokan harinya. Selain itu, di dunia Chiikawa tidak ada tuntutan untuk menjadi hebat atau meraih suatu impian layaknya anime-anime shounen seperti One Piece, Naruto, ataupun anime aksi populer pada umumnya. Karakter-karakternya hanya mencoba menjalani hidup sehari-hari, meski seringkali takut dan kewalahan. Di tengah dunia maya yang ramai dan melelahkan, Chiikawa terasa seperti oase kecil untuk bernafas sebentar dan melepas segala tuntutan.
Pesan sederhana inilah yang membuat banyak orang merasa bahwa hidup mungkin memang melelahkan, tetapi kita tetap harus berjalan seperti Chiikawa. Bagi banyak anak muda, melihat karakter kecil yang tetap berjalan meski gemetar terasa jauh lebih menenangkan daripada melihat sosok yang selalu sempurna.
Pada akhirnya, Chiikawa bukan hanya sebuah fenomena kultur pop tentang karakter lucu. Ia adalah cerminan emosional generasi muda saat ini. Karakter yang menegaskan bahwa menjadi cemas, lelah, dan tidak sempurna adalah hal yang manusiawi. Mungkin, di tengah dunia yang menuntut kesempurnaan, menjalani hidup pelan-pelan pun sudah lebih dari cukup.
N.B. Chiikawa mengarah pada nama karakter sedangkan Chiikawa mengarah pada judul animasi.
