Musibah Menghampiri RSUD Dr Soetomo, Surabaya
Musibah Menghampiri RSUD Dr Soetomo, Surabaya
Oleh: Kera Nada
Pada Jumat, 15 Mei 2026, terjadi kebakaran pada Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) RSUD Dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur. Kebakaran dimulai dari ruang farmasi seluas 4 x 3 meter pada lantai lima Gedung PPJT, menurut Kepala Bidang Pemadaman DPKP Kota Surabaya pada CNN Indonesia. Kebakaran diduga disebabkan oleh korsleting listrik kabel lemari es farmasi. Kebakaran ini memiliki dampak hingga ke seluruh lantai dan ruangan-ruangan di Gedung PPJT, tempat perawatan pasien.
Asap tebal yang muncul membuat petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) harus mengevakuasi pasien ICU di lantai 6, pada Surya.co.id, menurut Kepala Bidang Pemadaman DPKP Surabaya. Petugas memecahkan beberapa kaca dan menggunakan blower untuk mengeluarkan asap. Saat kejadian, setidaknya ada 18 unit (13 unit tempur dan 5 unit rescue) mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan ke lokasi termasuk unit Bronto Skylift untuk menjangkau ketinggian lantai.
Menurut Kepala Instalasi Hukum, Humas, dan Pemasaran RSUD Dr Soetomo, melalui CNN Indonesia, sebanyak 44 pasien berhasil dievakuasi. Proses evakuasi dilakukan secara terukur sesuai kondisi klinis masing-masing pasien dan diawasi oleh tenaga medis. Proses perawatan, pengobatan, dan program terapi pasien yang berpindah lokasi tetap berjalan sesuai rencana dengan tim dokter dan keperawatan yang sama.
Sedihnya, satu pasien dari ICU lantai 6 dinyatakan meninggal dunia oleh Tim Medis IGD RSUD Dr Soetomo, pasien adalah pria berusia 46 tahun bernama Sutaji. Direktur Utama RSUD dr Soetomo terus menegaskan pada beberapa portal berita bahwa kematian pasien tersebut murni disebabkan oleh penyakit diderita, bukan dampak kebakaran maupun paparan asap. Dirinya menambahkan bahwa kondisinya sudah disokong oleh tiga organ yaitu paru-paru, jantung, dan ginjal serta cuci darah yang sedang berlangsung sambil melakukan evakuasi. Asap pun tidak memiliki peran dalam kematiannya karena kondisinya sudah dibantu mesin.
Istri dari pasien yang meninggal saat kebakaran bersaksi bahwa suaminya adalah pasien yang terakhir dievakuasi. Salah satu anggota tim evakuasi RSUD Dr Soetomo mengakui dalam tayangan Headline News Metro TV, Jum’at 15 Mei 2026 bahwa pasien kritis yang di ICU membutuhkan berbagai alat medis lengkap yang tidak bisa sembarangan dilepaskan. Berdasarkan kesaksian sang istri pada Surya.co.id, kondisi suaminya lemah ketika turun dari lantai enam. Tidak lama setelah sampai di lantai dasar untuk dipindahkan ke Ruang Resusitasi IGD, suaminya dinyatakan meninggal dunia. Padahal, beberapa jam sebelumnya, suaminya masih memiliki kesadaran.
Berbeda dengan pernyataan Penanggungjawab Evakuasi Pasien RSUD Dr Soetomo dan dokter spesialis bedah torak dan kardiovaskular, pada Surya.co.id, yang menyatakan bahwa kondisi pasien yang meninggal dunia sudah dalam keadaan memburuk sebelum kejadian kebakaran. Kondisi pasien saat kejadian tidak mengalami keracunan dari gas dan masih tersambung dengan ventilator yang menyala serta sirkuitnya tertutup sehingga tidak ada pengaruh yang fatal dari asap. Dokter yang bertanggung jawab mengevakuasi pasien pun mengamati bahwa asap pada lantai enam tidak sebanyak asap pada lantai lima. Kepala Anestesi Ruang IGD RSUD Dr Soetomo Surabaya menceritakan upayanya untuk resusitasi pasien hingga ke ruang resusitasi di IGD. Ketika di ruang resusitasi, pasien dinyatakan meninggal dunia setelah dilakukan pijat jantung, pemberian oksigen, dan tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan.
Api yang membakar berhasil dikendalikan dan dipadamkan sehingga tidak meluas, pelayanan rumah sakit terus berjalan dengan mempertimbangkan area yang terdampak. RSUD Dr Soetomo berkomitmen agar kejadian yang sama tidak terulang. Manajemen RSUD Dr Soetomo terus bersikeras bahwa kebakaran berhasil diminimalisir dampaknya berkat kesigapan petugas rumah sakit, sistem proteksi internal gedung, DPKP, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya. Empat petugas rumah sakit yang membantu proses evakuasi mengalami sesak napas akibat terpapar asap.
Direktur Utama RSUD Dr Soetomo juga menambahkan. melalui Antara, bahwa simulasi dan pengecekan alat keselamatan kebakaran telah dilakukan secara rutin sebagai bagian dari mitigasi. Namun, Wakil Direktur Pelayanan Medik & Keperawatan RSUD Dr Soetomo mengakui bahwa tekanan hidran indoor dan outdoor masih kurang optimal. Koordinator Red Code RSUD Dr Soetomo, menambahkan juga pada CNN Indonesia, mengenai tekanan kedua hidran yang kurang kuat untuk mencapai api yang berada di sisi belakang lantai 5 Gedung PPJT.
