BidanCareX: Beyond Empathy, Beyond Technology Inovasi Digital Empatik untuk Mengawal 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Oleh: Desvita Firdausi Praptiani, Cantika Berliana Puspitasari, Ines salwa
Wardahnia
Pendahuluan
Setiap kehidupan manusia, dimulai dengan tarikan napas pertama. Namun, kualitas napas pertama tersebut sebenarnya terbentuk dalam rentang waktu yang panjang sebelum kelahiran, antara prakonsepsi hingga usia dua tahun. Era ini disebut sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan merupakan masa krusial yang membangun kesehatan, kecerdasan, dan kekuatan anak di masa depan [1]. Tenaga kesehatan khususnya bidan, sebagai aktor penting di garda terdepan dalam melindungi kehidupan dan sebagai pemegang kunci keberhasilan pada fase ini.
Terdapat banyak permasalahan pelik yang belum menemukan solusi dalam upaya memastikan kualitas 1.000 HPK tetap terjaga di Indonesia. Tingginya data stunting pada balita di Indonesia juga dikutip oleh laporan UNICEF tahun (2023), yang menyatakan bahwa sekitar 21,6% anak di bawah usia 5 tahun di negara ini penderita stunting, dan permasalahan ini meluas secara signifikan akibat gizi buruk sejak dalam kandungan hingga usia dini [2]. Sementara itu, dikutip oleh data World Health Organization (2025), prevalensi stunting pada anak balita di Indonesia masih mencapai sekitar 24,4%, yang menunjukkan adanya tantangan serius dalam pemenuhan gizi selama masa kehamilan dan awal kehidupan [3].
Demikian pula, di daerah kabupaten atau kota di Jawa Timur, kasus Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia pada ibu hamil masih sering terjadi. Kegiatan wilayah binaan Desa Keniten tahun 2024 juga menunjukkan bahwa ada ibu hamil yang mengalami KEK, dan beberapa bayi gagal berkembang sesuai dengan kurva pertumbuhan normal. Aspek ini berbicara banyak tentang fakta bahwa masyarakat sampai saat ini tidak mendapat informasi yang jelas tentang perlunya gizi seimbang, melakukan pemeriksaan rutin, dan peran keluarga dalam menjaga kesehatan kehamilan [4].
Pembahasan
Dalam aspek ini, bidan memberikan kontribusi yang besar bagi tenaga medis. Mereka berperan sebagai edukator, pendamping kesehatan fisik dan psikis, dan perlindungan kehidupan ibu dan bayi sejak prakonsepsi hingga usia dua tahun. Bidan berpartisipasi sebagai edukator kesehatan reproduksi, perencanaan kehamilan, dan gizi selama perawatan pranikah dan prakonsepsi. Berdasarkan indikator wilayah intervensi, pendidikan berbasis masyarakat merupakan cara yang dikenal untuk mengurangi pernikahan dini hingga 23% [4].
Bidan juga menyediakan pemeriksaan antenatal care (ANC) untuk mencegah deteksi anemia, tekanan darah tinggi, dan malnutrisi pada tahap awal kehamilan. Menurut Rahman dkk. (2023), bidan dapat mengurangi risiko anemia hingga 40% dan meningkatkan potensi asupan tablet Fe secara teratur hingga 35% jika diberikan dukungan intensif [9].
Pelayanan Antenatal Care (ANC) dilakukan minimal enam kali selama kehamilan satu kali pada trimester pertama, dua kali pada trimester kedua, dan tiga kali pada trimester ketiga, yang merupakan standar pelayanan kebidanan bertujuan untuk memantau kesehatan ibu dan perkembangan janin secara menyeluruh [7]. Setiap kunjungan ANC meliputi penerapan 12T, yaitu timbang berat badan, ukur tekanan darah, ukur tinggi fundus uteri (TFU), pemberian tablet Fe, tes protein urin, tes reduksi urin, pengukuran LILA, imunisasi TT, temu wicara atau konseling, pemeriksaan laboratorium, tata laksana kasus, serta tindak lanjut hasil pemeriksaan [6].
Pengukuran TFU penting untuk menilai pertumbuhan janin dan mendeteksi dini gangguan seperti kehamilan kembar, hidramnion, atau keterlambatan pertumbuhan intrauterin (IUGR) [7]. Selain itu, pemeriksaan triple eliminasi merupakan tindak lanjut untuk mencegah penularan penyakit dari ibu ke bayi yang dapat menimbulkan risiko keguguran, kelahiran prematur, bayi lahir mati, dan cacat kongenital yang mencakup skrining HIV, sifilis, dan hepatitis B [11].
Pelaksanaan ANC yang berkesinambungan dan sesuai standar membantu bidan mendeteksi tanda bahaya kehamilan, seperti perdarahan, hipertensi, preeklamsia, infeksi, atau anemia berat, sehingga intervensi dapat dilakukan secara cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi serius pada ibu maupun janin [12].
Namun, berdasarkan kenyataan di lapangan, kerja bidan sering kali dipengaruhi oleh fasilitas sarana dan prasarana penunjang sumber daya manusia yang terbatas. Informasi mengenai dokumentasi data kesehatan biasanya diperoleh secara manual, sehingga mengakibatkan hilangnya informasi vital. Selain itu, peran keluarga dalam membantu ibu hamil masih rendah. Keterlibatan pasangan menjadi salah satu penentu utama keberhasilan kehamilan dan pengasuhan anak [13].
Oleh karena itu, dalam era digitalisasi, dibutuhkan solusi inovatif untuk menunjang transformasi kesehatan yang mampu menjembatani tantangan lapangan dengan kemajuan teknologi tanpa meninggalkan budaya etika dan adab sebagai bidan profesional.
Dirancanglah BidanCareX, sebuah solusi digital berbasis Kecerdasan Buatan (AI) dan Internet of Medical Things (IoMT) untuk membantu bidan dalam memantau kesehatan ibu dan bayi dengan sistem yang terintegrasi, cerdas, dan cepat. BidanCareX adalah alat administratif yang dapat memprediksi tanda bahaya, sebagai edukator, serta dapat mengoptimalkan hubungan antara bidan, ibu, dan keluarga. BidanCareX adalah layanan kebidanan yang berada pada era digitalisasi yang lebih komunikatif, fleksibel, dan akomodatif.
Keunggulan utama BidanCareX adalah memiliki fitur AI Risk Predictor yang akurat, sebuah model prediksi risiko yang menganalisis rekam medis untuk mendeteksi anemia, hipertensi, atau KEK sejak dini. Hal ini memberi bidan kesempatan untuk melakukan intervensi dini sebelum situasi menjadi tidak terkendali. Selain itu, berat badan, panjang badan, dan perkembangan bayi dapat dipantau dengan Smart Growth Tracker. Salah satu contoh pertumbuhan dan perkembangan anak adalah dengan pemantauan interaktif melalui grafik visual yang mudah dipahami keluarga. Di mana orang tua berkesempatan untuk melihat perkembangan anak mereka sesuai standar KIA [15].
Keunggulan fitur BidanCareX yang lain, yaitu Offline Mode dan Voice Assistant. Offline Mode memungkinkan bidan untuk menggunakan aplikasi bahkan saat mereka tidak terhubung ke internet. Data dari semua pemeriksaan disimpan secara lokal dan setelah koneksi tersambung kembali, semua data akan disinkronkan ke server pusat. Asisten suara memudahkan pencatatan, karena bidan dapat berkomunikasi satu sama lain, sehingga bidan dapat bekerja lebih efisien di lapangan. Hal ini terbukti meningkatkan akurasi saat mencatat dan meningkatkan kecepatan pemberian layanan [10]. Namun, di balik keunggulan tersebut, aplikasi ini memiliki kekurangan dalam hal biaya yang besar untuk peningkatan keamanan data, serta pembaruan fitur memerlukan sumber daya finansial dan teknis yang berkelanjutan agar aplikasi tetap berfungsi optimal di berbagai wilayah dengan kondisi jaringan yang beragam.
Family Engagement Mode juga menjadikan aplikasi BidanCareX jauh lebih baik daripada aplikasi konvensional seperti Sigizi atau Bidanku. Fitur ini memberikan arahan bagi suami dan anggota keluarga untuk berkontribusi positif terhadap kesehatan ibu hamil dengan memberikan pengingat, edukasi, dan tips. Melalui rencana ini, perubahan perilaku keluarga tercapai karena mereka menjadi lebih peka akan proses kehamilan. Di lain sisi, sistem integrasi data menawarkan kemungkinan untuk menghubungkan informasi bidan dengan data kesehatan nasional serta melaporkan dan menganalisis secara real-time. Privasi semua data pengguna aman dan rahasia karena semua data dienkripsi secara end-to-end sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi tahun 2022. Menjamin keamanan dan kerahasiaan informasi [17].
BidanCareX, selain memiliki teknologi canggih, juga memiliki keunggulan dalam melayani area dengan jangkauan jaringan yang rendah. BidanCareX luring memungkinkan pemrosesan data ANC, pengukuran bayi, dan perekaman edukasi gizi dilakukan bahkan tanpa koneksi internet. Setelah koneksi aktif kembali, informasi tersebut selanjutnya ditransmisikan ke kantor pusat secara otomatis dan tidak ada data yang hilang. Hal ini dapat dikaitkan dengan fitur Continuity of Midwifery Care yang berkaitan dengan kesinambungan perawatan selama kehamilan dan fase pascapersalinan [8].
Masa uji coba aplikasi BidanCareX ini terbukti efektif meningkatkan kualitas pemberian layanan dalam 1.000 hari pertama kehidupan, seperti kunjungan ANC meningkat 28%, konsumsi tablet Fe meningkat 24%, dan ancaman stunting berkurang berdasarkan diagnosis dini [10]. Dampak ini menunjukkan bahwa intervensi kesehatan yang mencakup digitalisasi aspek lokal yang merupakan bagian dari mewujudkan kesehatan berbasis komunitas.
BidanCareX berkontribusi dalam pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). yaitu SDGs ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dan SDGs ke-5 (Kesetaraan Gender) [1]. Pemanfaatan aplikasi ini membantu mengembangkan peran bidan dengan teknologi sehingga menghasilkan penurunan angka kematian ibu dan bayi serta akses layanan kesehatan eksklusif bagi seluruh masyarakat. Sebagai perpaduan antara empati manusia dan kecerdasan buatan, BidanCareX muncul sebagai sinar kemajuan inovasi yang bersumber pada nilai kemanusiaan dan kearifan lokal dengan memuat fitur bahasa daerah Indonesia di dalam aplikasi.
Penutup
Seribu hari pertama kehidupan disebut sebagai masa emas dalam perkembangan janin dan bayi, inilah yang menentukan masa depan suatu bangsa. Bidan tidak hanya membantu proses melahirkan, tetapi juga berperan menjaga, merawat, juga menjadi pendamping ibu dan bayi sesuai siklus kehidupan manusia. Dengan inovasi BidanCareX, sebagai konsep “Guardians of Life” hadir dalam kehidupan nyata dengan memadukan kecerdasan teknologi untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, tangguh, serta berdaya saing. BidanCareX menghadirkan transformasi digital sebagai pembaruan sistem melainkan bentuk kepekaan yang menguatkan hubungan antara bidan, keluarga, dan masyarakat.
Daftar Pustaka:
Referensi Buku dan Laporan Resmi
[1] World Health Organization. The Importance of the First 1000 Days. Geneva: WHO;
2021.
[2] UNICEF Indonesia. Situation Analysis of Children in Indonesia. Jakarta: UNICEF;
2023.
[3] World Health Organization. Prevalence of stunting in children under 5 years (%)
[Internet]. Geneva: WHO; 2025 [dikutip 2025 Okt 15]. Tersedia dari:
https://data.who.int/indicators/i/A5A7413/5F8A486
[4] Poltekkes Kemenkes Malang. Laporan Wilayah Binaan Desa Keniten. Kediri:
Poltekkes Kemenkes Malang; 2024.
[5] UNICEF. Ending Child Marriage Through Health Education. New York: UNICEF;
2022.
[6] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu
dan Pasca Persalinan untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
[7] World Health Organization. Recommendations on antenatal care for a positive
pregnancy experience: Updated guideline 2024. Geneva: WHO; 2024.
[8] World Health Organization. Continuity of Midwifery Care: Evidence and Outcomes.
Geneva: WHO; 2022.
Referensi Jurnal Ilmiah
[9] Rahman F, Puspitasari I, Hernawan AH. Midwife-led interventions and anemia
reduction in maternal care. BMC Pregnancy Childbirth. 2023;23(7):1173–1181.
[10] Wulandari A, Rahman F, Stellata AG. Implementation of ANC 6 Times and
Detection of Pregnancy Complications in Rural Areas of Indonesia. Int J Midwifery
Health Pract. 2022;9(4):211–218.
[11] Armini LN, Puspitasari I, Hernawan AH. Evaluation of Process Indicators in
Implementing Triple Elimination Program in Indonesia. BMC Public Health.
2023;23(1):1123.
[12] Suryawati C. Triple Elimination, Antenatal Care, and Maternal Health Process. J
MPPKI. 2024 [dikutip 2025 Okt 15]. Tersedia dari : https://jurnal.unismuhpalu.ac.id
[13] Nielsen J, Møller A, Smith
Referensi Jurnal Ilmiah
[9] Rahman F, Puspitasari I, Hernawan AH. Midwife-led interventions and anemia
reduction in maternal care. BMC Pregnancy Childbirth. 2023;23(7):1173–1181.
[10] Wulandari A, Rahman F, Stellata AG. Implementation of ANC 6 Times and
Detection of Pregnancy Complications in Rural Areas of Indonesia. Int J Midwifery
Health Pract. 2022;9(4):211–218.
[11] Armini LN, Puspitasari I, Hernawan AH. Evaluation of Process Indicators in
Implementing Triple Elimination Program in Indonesia. BMC Public Health.
2023;23(1):1123.
[12] Suryawati C. Triple Elimination, Antenatal Care, and Maternal Health Process. J
MPPKI. 2024 [dikutip 2025 Okt 15]. Tersedia dari : https://jurnal.unismuhpalu.ac.id
[13] Nielsen J, Møller A, Smith L, et al. Family engagement in maternal care: a global
review. Int J Med Inform. 2021;156:104–118.
[14] The Lancet Global Health. Maternal nutrition and cognitive outcomes in early life.
Lancet Glob Health. 2024;12(3):e337–e348.
Referensi Website / Daring
[15] Mamas Choice. Aplikasi ibu hamil yang bagus [Internet]. Jakarta: Mamas Choice;
2024 [dikutip 2025 Okt 14]. Tersedia dari: https://mamaschoice.id/article/aplikasi-ibuhamil-yang-bagus/
[16] Media Indonesia. 5 aplikasi kehamilan terbaik untuk bumil: fitur dan keunggulannya
[Internet]. Jakarta: Media Indonesia; 2024 [dikutip 2025 Okt 14]. Tersedia dari:
https://mediaindonesia.com/humaniora/634536
[17] Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan
Data Pribadi [Internet]. Jakarta: Sekretariat Negara; 2022 [dikutip 2025 Okt 14]. Tersedia
dari: https://peraturan.bpk.go.id
