Digitalisasi Monitoring Kehamilan dengan “TRIAWASI GEBRAK”
Oleh: Aisyah Febriani Eriano Putri, Diva Aulia Roisyabillah, Nabilah Syifa Islami
Pendahuluan
“Membangun generasi unggul melalui peran esensial bidan” bukan sekadar slogan, melainkan panggilan nyata bagi tenaga kesehatan dan profesional bidan di Indonesia. Kehamilan sehat dilewati tanpa komplikasi, persalinan aman, serta tumbuh kembang anak yang optimal harus dimulai dari proses serta pemantauan oleh bidan, jadi bidan adalah garda terdepan pelayanan Ibu dan anak. Bidan bukan sekadar pelaksana clinical semata, tetapi seorang edukator, motivator, serta pelindung bagi kehidupan baru. Oleh sebab itu, upaya membangun generasi unggul harus dimulai dari penguatan sistem pemantauan kehamilan yang efektif dan memiliki koordinasi daemonologi.
Peran bidan memang sangat penting. “Profil Kesehatan Indonesia 2023” mencatat, kematian ibu masih terjadi sebesar 4.129, atau 189 per 100.000 kelahiran hidup (1). Angka kematian bayi juga tidak terlepas dari hal ini. Di “Profil Statistik Kesehatan 2023” yang dikeluarkan BPS mencatat, angka kematian bayi sebesar 20 per 1.000 kelahiran hidup. Sebanyak 11 ibu rata-rata masih terpaksa meninggal setiap harinya karena komplikasi kehamilan atau persalinan (2). Hal ini di sebabkan oleh keterlambatan identifikasi risiko kehamilan, pelayanan kehamilan yang kurang berkualitas, dan tidak adanya sistem pelaporan digital yang efisien (3). Sehingga perlu adanya penegasan sistem pelayanan yang baru untuk pengawasan kesehatan ibu.
Di sisi lain, Indonesia menghadapi fenomena paradoks digital. Menurut “Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia” mencatat, lebih dari 79,5% penduduk Indonesia, termasuk ibu hamil, menggunakan smartphone (4). Namun, penggunaan teknologi digital dalam layanan kebidanan masih sangat minim. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar aplikasi kehamilan yang digunakan oleh masyarakat tidak terhubung dengan sistem layanan bidan, sehingga data yang dihasilkan tidak dapat dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan klinis (5) .
Berdasarkan kondisi tersebut, masalah utama yang dihadapi adalah sistem pemantauan kehamilan yang belum berjalan secara optimal, yang berdampak pada kesejahteraan ibu dan janin, serta menjadi dasar untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Pada penelitian diperoleh informasi bahwa dalam pengumpulan data masih dilakukan secara konvensional, yaitu belum memanfaatkan sistem basis data elektronik, yang mengakibatkan pencarian kembali data yang dibutuhkan memerlukan waktu yang lama dan melahirkan sistem pencatatan yang redundan (6). Oleh karena itu, fokus dari kajian ini adalah bagaimana digitalisasi pemantauan kehamilan melalui program “TRIAWASI GEBRAK” dapat membantu bidan dalam mendeteksi risiko kehamilan secara dini, memantau perkembangan janin secara real-time, dan meningkatkan kesejahteraan ibu serta janin dalam upaya menciptakan generasi yang unggul.
Sistem konvensional yang menggunakan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) masih menjadi metode utama untuk memantau kehamilan di Indonesia. Namun, pencatatan secara manual ini memiliki banyak kekurangan, seperti kemungkinan kehilangan buku, kesalahan dalam penginputan data, dan informasi yang tidak diperbarui secara real-time. Hal ini menyebabkan adanya bias ingatan, di mana ibu mungkin lupa melaporkan keluhan atau hasil pemeriksaan sebelumnya. Akibatnya, bidan sering kali terlambat dalam memberikan intervensi pada kasus-kasus yang berisiko tinggi. Suatu penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode pencatatan manual menghambat koordinasi antar tenaga kesehatan dan tidak efisien dalam mengumpulkan data kasus risiko tinggi (7). Dengan demikian, sistem konvensional ini sudah tidak memadai lagi untuk mendukung pelayanan kebidanan yang berbasis data dan responsif terhadap komplikasi kehamilan.
Aplikasi kehamilan yang digunakan ibu hamil juga jarang yang memenuhi standar Kementerian Kesehatan. Ketidakseragaman format dan algoritma menyebabkan data tidak bisa diintegrasikan dengan sistem pelayanan kesehatan, menciptakan kec fragmentasi digital dan beban yang tidak seimbang bagi bidan, yang akibatnya berpotensi membuat informasi klien menjadi tidak konsisten. Studi menunjukkan bahwa, tanpa integrasi data secara nasional, rendahnya efektivitas inovasi digital mendegradasi nilai klinis yang bisa diberikan oleh inovasi tersebut (8). Untuk itu, diperlukan sistem digital kebidanan yang terintegrasi dan terverifikasi berkualitas agar bidan bisa berperan optimal dalam membantu menciptakan generasi yang lebih sehat, dimulai dari masa kehamilan.
Pembahasan
Inovasi yang cerdas dan realistis diperlukan untuk mengatasi tantangan digital yang memengaruhi kinerja bidan. Ada banyak inovasi dalam kesehatan yang tidak memperhatikan kebutuhan bidan yang cepat dan responsif di tengah segala bentuk digitalisasi. Program “TRIAWASI GEBRAK” tidak bertujuan untuk menambah aplikasi baru. Sebaliknya, mengintegrasikan langkah kerja bidan ke dalam sistem yang lebih komprehensif. Program ini membantu bidan mengubah catatan klinis terarah dari catatan pribadi ibu. Maka, TRIAWASI GEBRAK menghubungkan sentuhan kemanusiaan dengan teknologi, menyeimbangkan empati dan data dalam pelayanan kebidanan. Nama TRIAWASI GEBRAK adalah suatu filosofi. “Tri” berarti tiga dan “Awasi” berarti mempertahankan. Secara literal kata ini mencerminkan peran bidan sebagai orang yang melihat dan melindungi serta bertanggung jawab moral kepada anak. TRIAWASI menggambarkan bidan yang mengelola emosi dan data. Dalam kebidanan, ada tiga hal yang harus diambil saat bersamaan, yaitu janin, ibu, dan persalinan. Dengan teknologi, bidan dapat lebih fokus dan bertindak cepat untuk keselamatan ibu dan bayi.
Mengambil arti namanya, TRIAWASI adalah 3 pilar kewaspadaan yang menjadi landasan pengetahuan dan pegangan praktik bidan di lapangan. Kewaspadaan terhadap janin adalah pilar pertama, yang dimulai dari ibu dengan mengamati gerakan janin. Penurunan gerakan dapat merupakan indikasi stres atau bahkan kematian janin (9). Ibu yang terdidik dapat memahami kondisinya sementara bidan menafsirkan dan menindaklanjuti setiap perubahan. Pemantauan kenaikan berat badan ibu selama kehamilan adalah pilar kedua. Bayi dengan berat lahir rendah berisiko mengalami kenaikan yang tidak proporsional atau berlebihan (10). Kewaspadaan terhadap persalinan adalah pilar ketiga. Ini dilakukan dengan memantau kontraksi dan gejala bahaya lainnya. Perubahan dalam pola kontraksi dapat menjadi indikasi bahwa ada masalah serius yang sedang terjadi (11). Ketiga pilar ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini untuk membantu ibu dan bidan menghentikan keadaan menjadi lebih buruk. Untuk melindungi nyawa ibu dan bayi, pengawasan pun berubah dari rutinitas yang diam-diam menjadi tindakan aktif.
“GEBRAK” adalah simbol gerakan perubahan yang memiliki arti lebih dari sekedar kata “TRIAWASI”. Secara fungsional, “GEBRAK” adalah akronim dari tiga elemen utama yang dipantau: “gerakan janin, berat badan, dan kontraksi.” GEBRAK dikatakan sudah berhasil melakukan pelayanan kebidanan dengan paradigma yang baru, yaitu melakukan pelayanan kebidanan secara proaktif bukan reaktif. Dengan cara ini, bidan tidak perlu hanya menunggu pasien yang mengeluh, tetapi bisa berinisiatif untuk memantau perubahan yang terjadi pada pasien, dan melakukan intervensi yang diperlukan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa intervensi dengan menggunakan mobilteknologi kesehatan bisa berdampak positif terhadap perilaku kesehatan dan juga berdampak positif terhadap outcome janin (12). Dengan demikian, “TRIAWASI GEBRAK” merupakan kombinasi antara inovasi teknologi dan intervensi sosial yang bisa menumbuhkan empati dan solidaritas antara ibu dan bidan.
Selain itu, proses pelaksanaan TRIAWASI GEBRAK dirancang dengan teliti agar mudah digunakan di dunia nyata. Pada tahap pertama, bidan bertindak sebagai pendidik dan penganjur; mereka memberikan instruksi dan menunjukkan aplikasi dan alat bantu untuk pemantauan mandiri. Pada tahap kedua, bidan bertindak sebagai penentu standar, menetapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pelaporan digital untuk membuat data dari berbagai ibu hamil seragam dan mudah dianalisis. Pada tahap ketiga, bidan bertindak sebagai pengawal proaktif, memantau data yang masuk dan melakukan tindakan jika ada anomali, seperti gerakan janin yang menurun atau kenaikan berat badan yang tidak normal. Menurut penelitian oleh Pangestuti, pemantauan sistematis yang dilakukan melalui aplikasi seluler dapat mempercepat identifikasi risiko dan intervensi yang tepat waktu (13). TRIAWASI GEBRAK menggunakan mekanisme ini untuk menjadikan bidan bukan sekadar tenaga kesehatan tetapi juga pelindung aktif kehidupan di setiap tahap kehamilan. Dengan cara ini, mereka mewujudkan tujuan sejati untuk menjaga dua nyawa dengan satu hati.
Penutup
Program “TRIAWASI GEBRAK” berfokus pada penguatan peran bidan agar mereka dapat didigitalisasi dalam memantau 3 aspek penting kehamilan: gerakan janin, berat badan ibu, dan kontraksi. Pendekatan ini memungkinkan deteksi risiko dini dan intervensi yang tepat waktu. Ibu hamil diberdayakan sebagai mitra aktif melalui aplikasi Android yang memungkinkan pemantauan kesehatan mandiri. Penelitian menunjukkan bahwa dengan pelatihan pendidikan, aplikasi ini memfasilitasi pemantauan kesehatan mandiri dan pemeliharaan kesehatan mandiri yang pada gilirannya membantu bidan dalam pengawasan (14). Melalui pengawasan yang terstruktur dan sistematis, “TRIAWASI GEBRAK” memfasilitasi terbentuknya generasi yang sehat sejak awal.
Pengawasan terintegrasi pada tiga indikator vital membantu dalam mengurangi risiko komplikasi kehamilan dan secara optimal mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. Tidak hanya pemantauan kehamilan yang terdigitalisasi meningkatkan kualitas hidup ibu dan bayi, tetapi juga berdampak positif pada kualitas hidup ibu. Pemantauan kehamilan yang terdigitalisasi ini berfungsi sebagai investasi dalam generasi yang tidak diawasi yang sehat dan luar biasa untuk generasi masa depan.
Optimalisasi peran bidan secara digital adalah kunci penting dalam mewujudkan generasi unggul mulai dari masa kehamilan. Program “TRIAWASI GEBRAK” merupakan solusi aplikatif dan hemat biaya yang mengintegrasikan teknologi dengan aspek humanis, mengubah bidan menjadi pengawal aktif yang memastikan kesehatan ibu dan janin demi masa depan bangsa yang lebih baik. Untuk implementasi keberlanjutan program ini, disarankan:
- Praktisi Kesehatan, terutama bidan dan organisasi profesi, mengadopsi model “TRIAWASI GEBRAK” sebagai standar baru pemenuhan peran esensial bidan di era digital.
- Pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan dan Kementerian Kesehatan, mengkaji model ini sebagai panduan nasional strategis untuk memperkuat upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi.
- Akademisi didorong melakukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi efektivitas dan dampak program terhadap kesehatan ibu dan anak serta optimalisasi peran bidan di era digital.
Dengan demikian, “TRIAWASI GEBRAK” tidak hanya menjadi inovasi digital, tetapi ikon utama transformasi peran bidan yang vital bagi masa depan kesehatan ibu dan anak Indonesia.
Daftar Pustaka:
[1] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia
2023 [Internet]. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2023 [cited 2025
Oct 14]. Available from:
https://kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/172231123666a8
6244b83fd8.51637104.pdf
[2] Badan Pusat Statistik (BPS). Profil Statistik Kesehatan 2023 [Internet].
Jakarta: BPS; 2023 [cited 2025 Oct 14]. Available from:
https://www.bps.go.id/id/publication/2023/12/20/feffe5519c812d560bb1
31ca/profil-statistik-kesehatan-2023.html
[3] Permata Sari R, Amelia D, Sari N. Faktor penyebab angka kematian ibu dan
bayi di Indonesia. Jurnal Prepotif [Internet]. 2023 [cited 2025 Oct
14];7(1):45–53.
[4] Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Laporan Survei
Internet Indonesia 2024 [Internet]. Jakarta: APJII; 2024 [cited 2025 Oct
14]. Tersedia dari:
https://apjii.or.id/berita/d/apjii-jumlah-pengguna-internet-indonesia-temb
us-221-juta-orang
[5] Saputra A, Wulandari N. Digitalisasi kesehatan prenatal sebagai media
panduan dan monitoring kehamilan berbasis mobile. Edumatic Journal
[Internet]. 2023 [cited 2025 Oct 14];7(3):201–12.
[6] Gunarso, B., & Iswari, L. (2017, October). Pemanfaatan Data Spasial Untuk
Monitoring Penyebaran Status Kehamilan. In Seminar Nasional Ilmu
Komputer (SOLITER) [Internet]. 2017 [cited 2025 Oct 16];1:56-62.
[7] Hartati M, Inayah M, Harnany AS. Efektivitas penggunaan aplikasi
“Mother” dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang kehamilan risiko
tinggi dan kegawatan janin. Jurnal Ilmu Kesehatan Poltekkes Semarang
[Internet]. 2023 [cited 2025 Oct 14];14(1):56–64.
[8] Wardhina Y, Poernareksa D, Gunarti R. Perancangan sistem informasi
pemantauan status kesehatan dan gizi ibu hamil cegah stunting. Jurnal
Rekayasa dan Manajemen Informasi [Internet]. 2024 [cited 2025 Oct
14];4(2):77–86.
[9] Alfiya Fauzani M, Widiawati I, Ulfah Fatimah Y, Karjatin A. Pengaruh
media edukasi audiovisual terhadap perilaku ibu dalam menghitung
gerakan janin. JKI. 2025 Jan 27;16(1):62.
[10] Mulyatun S, Migang YW, Trisaba T. Hubungan kenaikan berat badan ibu
selama hamil dengan berat badan bayi baru lahir di UPT Puskesmas
Muara Tuhup. Jurnal Forum Kesehatan. 2023 Feb 26;13(1):13–8.
[11] Dita Retno Pratiwi, Rofina Sufiyati, Hardiyanti Kustrini, Nunung Suryani.
Edukasi tanda bahaya persalinan pada ibu hamil di Desa Prai Meke
wilayah kerja UPTD Puskesmas Pengadang. SAMBARA: PKM. 2025
Mar 21;3(2):296–304.
[12] Ameyaw EK, Amoah PA, Ezezika O. Effectiveness of mHealth Apps for
Maternal Health Care Delivery: Systematic Review of Systematic
Reviews. J Med Internet Res. 2024 May 29;26:e49510.
[13] Pangestuti R, Ratrikaningtyas PD, Sutomo AH. Monitoring of pregnant
women using the “Risk Identification, Evaluation Counseling,
Systematic Monitoring, Troubleshooting” (REST) mobile app: protocol
for a cluster randomized controlled trial. JMIR Res Protoc. 2025 Aug
6;14:e66774.
[14] Rosita E. Studi kualitatif evaluasi pelaksanaan program GEBRAK
(Gerakan Bersama Amankan Kehamilan dan Persalinan) di Kabupaten
Jombang Jawa Timur. Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia. 2023;7(2).
https://doi.org/10.52488/jnh.v7i2.186
