Bidan, 1000 Hari Pertama Kehidupan, dan Imunisasi: Tiga Pilar Membangun Generasi Indonesia Sehat
Oleh: Sri Lestari dan Karin Muji Rahayu
Pendahuluan
Kualitas kesehatan seorang anak di masa depan ditentukan sejak awal kehidupannya, khususnya dalam periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun (1–4). Periode ini dikenal sebagai masa emas karena pada fase terjadi pertumbuhan otak yang sangat pesat serta pembentukan sistem kekebalan tubuh yang menjadi dasar bagi kesehatan jangka panjang. Salah satu langkah penting pada periode ini adalah imunisasi, yaitu dengan pencegahan penyakit menular melalui pemberian imunisasi guna merangsang pembentukan kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi terbukti efektif menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Meskipun demikian, tantangan dalam pelaksanaan imunisasi di Indonesia masih cukup besar. Salah satu contohnya adalah meningkatnya kasus campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang menunjukkan adanya kesenjangan dalam cakupan imunisasi dasar lengkap. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, tercatat 2.268 kasus suspek campak, dengan 205 kasus terkonfirmasi positif dan 17 anak meninggal dunia (5,6). Analisis dinas kesehatan mengungkapkan bahwa 90% pasien campak tidak mendapatkan imunisasi campak. Rendahnya cakupan imunisasi ini sebagian besar disebabkan oleh ketakutan masyarakat terhadap efek samping imunisasi dan isu palsu mengenai keharaman vaksin.
Fenomena tersebut menunjukkan masih kurangnya edukasi kesehatan masyarakat tentang pentingnya imunisasi, terutama pada 1000 HPK. Hal ini sangat berkaitan dengan kualitas kesehatan anak yang ditentukan oleh rendahnya pengetahuan orang tua mengenai imunisasi dan kedisiplinan dalam pemberian imunisasi dasar yang menyebabkan anak kehilangan perlindungan terhadap penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi. Hal ini tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga pada ketahanan kesehatan masyarakat secara luas. Dalam konteks ini, bidan memiliki peran yang sangat penting. Sebagai tenaga kesehatan yang paling dekat dengan orang tua dan anak, bidan berperan besar dalam memberikan edukasi, konseling, dan dukungan terhadap pelaksanaan imunisasi dasar lengkap. Melalui pendekatan yang berbasis teknologi, bidan dapat menjadi jembatan antara kebijakan kesehatan pemerintah dan pemahaman masyarakat, sehingga mampu meningkatkan cakupan imunisasi dan membangun generasi Indonesia sehat. Oleh karena itu, esai ini membahas mengenai bagaimana peran bidan dalam mengoptimalkan pemberian imunisasi dasar lengkap pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan sebagai salah satu upaya strategis dalam membangun generasi Indonesia yang sehat dan berkelanjutan
Pembahasan
Meningkatnya kasus campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menjadi alarm serius bagi dunia kesehatan Indonesia, khususnya dalam hal cakupan imunisasi dasar lengkap. Fenomena ini menegaskan bahwa imunisasi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan penting dalam upaya melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Imunisasi adalah suatu upaya dalam pencegahan penyakit dengan memberikan vaksin untuk membentuk kekebalan tubuh seseorang terhadap suatu penyakit. Dengan imunisasi, seseorang yang terpapar penyakit tertentu tidak akan jatuh sakit atau hanya mengalami gejala ringan. Program imunisasi telah terbukti dapat mencegah dan menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) seperti tuberkulosis, difteri, pertussis, tetanus, hepatitis B, campak, polio, pneumonia, hingga kanker serviks (7).
Imunisasi dasar lengkap pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sangat penting karena masa ini merupakan periode emas perkembangan anak, ketika sistem kekebalan tubuh sedang dibentuk dan berkembang pesat. Pemberian imunisasi tidak hanya melindungi individu, tetapi juga memberikan manfaat lain berupa terciptanya kekebalan kelompok (herd immunity) yang mencegah penularan penyakit secara luas dalam masyarakat. Dengan demikian, imunisasi menjadi salah satu pilar utama dalam pembangunan kesehatan masyarakat (8).
Namun, tantangan terhadap keberhasilan program imunisasi di Indonesia masih kompleks. Di era digital saat ini, informasi tersebar dengan sangat cepat, termasuk berita hoaks yang beredar luas mengenai efek samping imunisasi yang berlebih hingga isu keharaman vaksin. Berita hoaks semacam ini menyebabkan sebagian orang tua ragu bahkan terjadi penolakan dari orang tua dalam program wajib imunisasi di 1000 Hari Pertama Kehidupan (9). Selain itu, rendahnya tingkat literasi kesehatan, keterbatasan akses ke fasilitas pelayanan kesehatan, dan kekurangan tenaga kesehatan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) turut memperparah masalah. Akibatnya, banyak anak tidak mendapatkan imunisasi tepat waktu, sehingga menurunkan derajat kesehatan anak bahkan meningkatkan risiko terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti campak di Kabupaten Sumenep. Dalam situasi ini, bidan memiliki peran sentral sebagai tenaga kesehatan terdepan yang berinteraksi langsung dengan orang tua dan anak. Bidan berperan dalam memberikan edukasi tentang pentingnya imunisasi, meluruskan berita hoaks yang beredar, dan memastikan setiap anak memperoleh imunisasi dasar lengkap sesuai jadwal. Namun, untuk menghadapi tantangan era globalisasi, bidan juga dituntut untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi sebagai sarana memperluas jangkauan edukasi dan pelayanan kesehatan masyarakat.
Salah satu bentuk inovasi yang dapat diterapkan untuk mendukung keberhasilan program imunisasi adalah pemanfaatan teknologi digital melalui aplikasi “E-Munisasi”. Aplikasi ini berfungsi untuk memantau status imunisasi anak secara real time, memberikan pengingat otomatis mengenai jadwal imunisasi dan sebagai sarana telekomunikasi yang telah terbukti efektif mempermudah membuat janji temu kunjungan imunisasi dengan bidan maupun tenaga kesehatan terdekat. Penerapan program ini telah diterapkan di Kota Depok, Jawa Barat, pada tahun 2021, guna memudahkan akses pelayanan imunisasi pada masa pandemi COVID-19 (10).
Melalui aplikasi E-Munisasi, orang tua dapat dengan mudah mengakses informasi mengenai jenis vaksin, jadwal pemberian, serta manfaat imunisasi dasar. Aplikasi ini juga berperan sebagai sarana edukasi berbasis digital yang mampu menekan dampak negatif berita hoaks dengan menyajikan informasi yang valid dan mudah dipahami. Dengan demikian, E-Munisasi berpotensi meningkatkan kesadaran dan kedisiplinan orang tua dalam memberikan imunisasi dasar lengkap kepada anak.
Untuk memperkuat manfaatnya, aplikasi E-Munisasi dapat dikembangkan dengan menambahkan fitur inovatif yaitu “Cek Tumbang Si Kecil”. Fitur ini memungkinkan orang tua, bidan, maupun tenaga kesehatan memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara mandiri. Orang tua cukup memasukkan data berat badan dan panjang badan anak, kemudian sistem akan menampilkan klasifikasi status gizi mulai dari gizi buruk, gizi kurang, gizi normal, gizi berisiko lebih, gizi lebih, hingga obesitas. Selain itu, aplikasi dapat memberikan saran tindak lanjut atau rujukan apabila ditemukan kelainan tumbuh kembang.
Integrasi antara pemantauan imunisasi dan status tumbuh kembang anak dalam satu platform digital akan memberikan manfaat ganda, yaitu memudahkan pemantauan kesehatan anak di 1000 Hari Pertama Kehidupan sekaligus membantu deteksi dini risiko stunting atau gangguan gizi lainnya. Melalui fitur komunikasi interaktif, orang tua juga dapat berkonsultasi langsung dengan bidan atau tenaga kesehatan, sehingga tercipta hubungan yang lebih dekat dan saling percaya.
Dengan adanya inovasi digital seperti E-Munisasi ini, bidan tidak hanya berperan sebagai pemberi layanan kesehatan, tetapi juga sebagai pendidik digital dan penggerak literasi kesehatan masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi menjadi langkah strategis untuk mengatasi kesenjangan cakupan imunisasi, memperluas jangkauan edukasi, dan meningkatkan partisipasi keluarga dalam menjaga kesehatan anak. Pada akhirnya, sinergi antara bidan, 1000 Hari Pertama Kehidupan, dan imunisasi melalui dukungan inovasi digital akan menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan generasi Indonesia yang sehat.
Penutup
Meningkatnya kasus campak di Indonesia, khususnya di Kabupaten Sumenep, menjadi pengingat penting bahwa imunisasi dasar lengkap pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan salah satu pilar utama dalam membangun generasi Indonesia yang sehat. Rendahnya cakupan imunisasi yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, banyaknya berita hoaks, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan menunjukkan bahwa masalah imunisasi tidak hanya bersifat medis, tetapi juga sosial dan edukatif.
Imunisasi merupakan langkah preventif yang efektif dalam membentuk sistem kekebalan tubuh anak sejak dini dan mencegah berbagai penyakit menular berbahaya. Dalam konteks ini, peran bidan sebagai tenaga kesehatan terdepan sangatlah penting tidak hanya dalam memberikan pelayanan imunisasi, tetapi juga dalam mengedukasi masyarakat dan membangun kepercayaan terhadap program kesehatan. Untuk menjawab tantangan zaman, diperlukan inovasi berbasis teknologi seperti aplikasi E-Munisasi, yang dapat berfungsi sebagai alat pemantau status imunisasi, media edukasi, serta sarana deteksi dini tumbuh kembang anak melalui fitur “Cek Tumbang Si Kecil.”
Melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat, serta dukungan teknologi yang adaptif, upaya peningkatan cakupan imunisasi dapat menjadi lebih efektif dan berkelanjutan. Sinergi antara bidan, 1000 HPK, dan imunisasi merupakan fondasi penting untuk menciptakan generasi Indonesia yang sehat.
Untuk mewujudkan generasi Indonesia yang sehat dan bebas dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, dibutuhkan sinergi nyata antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat. tenaga kesehatan, khususnya bidan, perlu terus mengembangkan kemampuan dalam memberikan edukasi yang efektif dan memanfaatkan teknologi informasi untuk memperluas jangkauan layanan.
Di sisi lain, pemerintah diharapkan memperkuat kebijakan imunisasi nasional dengan memastikan ketersediaan vaksin yang merata hingga ke daerah 3T, serta mendukung pengembangan sistem digital seperti E-Munisasi secara nasional agar dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Program literasi kesehatan yang terstruktur juga perlu digencarkan untuk melawan hoaks dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya imunisasi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan. Sementara itu, masyarakat dan orang tua diharapkan aktif berpartisipasi dalam menjaga kesehatan anak dengan mengikuti jadwal imunisasi dasar lengkap, mencari informasi kesehatan dari sumber terpercaya, dan menjalin komunikasi terbuka dengan bidan maupun tenaga kesehatan lainnya. Dengan keterlibatan aktif seluruh pihak, dukungan kebijakan yang kuat, serta pemanfaatan inovasi teknologi yang berkelanjutan, Indonesia dapat memperkuat ketahanan kesehatan anak sejak dini dan melangkah lebih pasti menuju generasi emas yang sehat.
Daftar Pustaka:
[1] Abanto J, Oliveira LB, Paiva SM, Guarnizo-Herreño C, Sampaio FC, Bönecker M.
Impact of the first thousand days of life on dental caries through the life course:
atransdisciplinary approach. Braz Oral Res. 2022;36.
[2] Gabrielli S, Ibarra OM, Forti S. A Holistic Digital Health Framework to Support
Health Prevention Strategies in the First 1000 Days. JMIR Pediatr Parent. 2025;8.
[3] Scientific Evidence for Brain Development and Nutrition in the First 1000 Days of
Life. Journal of Chinese Institute of Food Science and Technology. 2023;23(10):403–
19.
[4] Onsomu LK, Ng’eno H. The Importance of Investing in the First 1000 Days of
Life: Evidence and Policy Options. Economies. 2025;13(4).
[5] Kemenkes RI. KLB Campak Meningkat, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Imunisasi
Lengkap [Internet]. Jakarta: Kemenkes; 2025 [dikutip 14 Okt 2025]. Tersedia dari:
https://kemkes.go.id/id/klb-campak-meningkat-kemenkes-ingatkan-pentingnyaimunisasi-lengkap
[6] Hanum YN. KLB Campak Ditetapkan, Dinkes Sumenep Minta Dukungan Ulama
dan Masyarakat [Internet]. Jawa Timur: Nahdatul Ulama Jawa Timur 2025 [dikutip 11
Okt 2025]. Tersedia dari: https://jatim.nu.or.id/metropolis/klb-campak-ditetapkandinkes-sumenep-minta-dukungan-ulama-dan-masyarakat-OtuUw
[7] Darmin, Rumaf F, Ningsih SR, Mongilong R, Arie M, Goma D, et al. Pentingnya
Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi Dan Balita. Jurnal Pengabdian Masyarakat.
2023;1.
[8] Aswan Y, Harahap MA. Pendidikan Kesehatan Tentang Pentingnya Imunisasi
Dasar Lengkap Pada Bayi di Posyandu Desa Sigumuru Kecamatan Angkola Barat.
Jurnal Pengabdian Masyarakat Aufa (JPMA). 2020;2.
[9] Rahmatina dr. S. Universitas Gadjah Mada (Rumah Sakit Akademik). Campak
Merebak, Berbahayakah? Ayo bersama cegah Wabah Campak [Internet]. Yogyakarta:
RSA UGM; 2025 [dikutip 11 Oktober 2025]. Tersedia dari:
https://rsa.ugm.ac.id/campak-merebak-berbahayakah-ayo-bersama-cegah-wabahcampak/
[10] Ramadhani PA, Muallifah H, Aushariyah R A, Astuti I, Munigar M, Yulianti ND.
Penggunaan Aplikasi E-Munisasi Terhadap Peningkatan Kunjungan Imunisasi Pada
Masa Pandemi Covid-19 Di Wilayah Kota Depok. Journal of Midwifery Science and
Women’s Health. 2021;2(1):31–6.
