Realitas Profesi Dokter di Indonesia: Tuntutan Berat di Balik Kurangnya Penghargaan

Oleh: Muhammad Abstract

Kalian pasti tahu bahwa profesi dokter sering kali menjadi sorotan di media sosial,
terutama ketika ada cerita-cerita tentang kesuksesan beberapa orang yang memiliki profesi ini.
Citra yang dimiliki profesi ini sangat positif hingga tidak sedikit orang Indonesia yang
menjadikan profesi ini sebagai cita-cita impian sejak kecil, bahkan sampai orang tua juga
banyak yang mendorong anak-anak mereka untuk menjadi seorang dokter. Memang, menjadi
dokter sering kali dianggap sebagai pekerjaan yang sukses dan dihormati. Namun, apakah
benar hidup menjadi seorang dokter selalu berjalan mulus tanpa hambatan? Tentu saja tidak.
Di balik citra positif tersebut, ada realita negatif yang harus ditanggung oleh profesi ini. Artikel
ini membahas tentang sebuah tantangan dibalik profesi dokter yang banyak diidamkan.

Tuntutan Berat Profesi Dokter: Beban Kerja dan Ekspektasi yang Tinggi
Menjadi dokter bukan hanya sekadar menjadi konsultan kesehatan, melainkan juga
bertanggung jawab terhadap kualitas layanan kesehatan dalam masyarakat. Tanggung jawab
ini membawa tuntutan yang sangat berat, karena seorang dokter diwajibkan untuk selalu siap
melayani siang dan malam. Beban kerja yang tinggi tercermin dari tuntutan dokter yang harus
siaga 24 jam untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tidak ada ruang bagi seorang
dokter untuk beristirahat saat masyarakat membutuhkan pertolongan medis.
Lebih jauh lagi, seorang dokter juga dibebani oleh ekspektasi yang sangat tinggi dari
masyarakat terkait kesehatan dan kesembuhan pasien. Masyarakat cenderung melihat dokter
sebagai pihak yang memiliki kemampuan penuh untuk memberikan solusi dan harapan.
Kegagalan dalam dunia medis dapat dianggap sebagai bencana yang mengarah pada
konsekuensi besar, baik bagi pasien maupun reputasi profesional dokter tersebut. Beratnya
tuntutan yang dihadapi oleh profesi ini sangat besar mengingat tekanan yang berasal dari
tanggung jawab terhadap kesehatan individu dan ekspektasi masyarakat yang tinggi.
Namun, selain ekspektasi tinggi yang dihadapi oleh dokter, tantangan lain yang tak
kalah besar adalah kekurangan sumber daya manusia yang semakin memperburuk beban kerja
mereka. Seiring dengan pesatnya perkembangan penyakit dan ancaman kesehatan baru, jumlah
dokter yang ada belum mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Waktu yang
dibutuhkan untuk melatih seorang dokter menjadi profesional yang terampil sering kali tidak
sebanding dengan cepatnya perubahan dan perkembangan ilmu dalam dunia kedokteran.
Dampak dari kekurangan sumber daya manusia ini sangat terasa bagi dokter yang sudah
ada. Mereka yang telah menguasai ilmu kedokteran merasa dihadapkan pada tuntutan untuk
terus beradaptasi dengan penyakit baru yang terus berkembang. Tantangan ini menuntut dokter
yang sudah ada untuk meningkatkan kompetensi mereka, sementara kekurangan jumlah dokter
mempengaruhi kualitas pelayanan yang bisa diberikan kepada masyarakat. Dengan demikian,
seorang dokter tidak hanya bertanggung jawab atas kesehatan pasien, tetapi juga menghadapi
tantangan besar dalam memenuhi kekurangan sumber daya manusia dalam profesi ini.

Upah dan Penghargaan yang Tidak Seimbang
Berbagai tuntutan yang telah dijelaskan di atas mengarah pada satu pertanyaan
mendasar yaitu “Seberapa besar penghargaan yang diberikan pada seorang dokter di Indonesia
atas jasanya dalam menghadapi berbagai tuntutan tersebut?” Kita mungkin berpikir bahwa
penghargaan yang diterima seorang dokter sangat besar, mengingat peran dan kontribusinya
yang krusial dalam masyarakat. Namun, kenyataannya di lapangan sering kali berbeda.
Meskipun media sosial sering menampilkan cerita sukses dokter tertentu, kisah tersebut hanya
mencakup sebagian kecil dari keseluruhan tenaga medis di Indonesia. Mayoritas dokter yang
ada justru tidak menerima penghargaan yang sebanding dengan pengorbanan dan kontribusi
mereka. Salah satu contohnya adalah upah yang diterima oleh sebagian besar dokter, yang jauh
dari kata memadai.
Ketimpangan ini semakin terasa ketika melihat kondisi dokter di daerah terpencil.
Meski mereka bekerja keras, terkadang penghargaan yang mereka terima sangat minim. Akses
yang terbatas dan jaraknya yang jauh dari pusat-pusat kota seharusnya membuat jasa mereka
lebih dihargai, namun pada kenyataannya tidak seperti itu. Semua pengorbanan yang mereka
lakukan seharusnya berbanding lurus dengan penghargaan yang diterima, tapi hal itu belum
sepenuhnya terwujud. Pada akhirnya, penghargaan terhadap tenaga medis di Indonesia masih
jauh dari harapan, menjadikannya sebuah mimpi yang belum terealisasi.

Dampak Kurangnya Penghargaan terhadap Kesejahteraan Dokter
Setiap situasi pasti membawa sebuah dampak, begitu juga dengan kurangnya
penghargaan terhadap dokter di balik banyaknya tuntutan dalam profesinya. Hal ini dapat
berdampak kepada seorang dokter, baik secara psikologis maupun fisik. Seorang dokter dapat
rentan mengalami stres akibat beban kerja yang tinggi dan tuntutan yang terus menerus. Selain
itu, tanggung jawab besar sebagai penjaga kesehatan masyarakat membuat dokter sering kali
merasa kelelahan fisik dan mental, yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas kinerja
dokter dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Kelelahan yang terus-menerus juga dapat
mempengaruhi kesejahteraan dokter itu sendiri, yang berisiko pada gangguan kesehatan fisik
dan psikologis, seperti gangguan tidur, depresi, atau kecemasan.

Solusi untuk Meningkatkan Penghargaan dan Kesejahteraan Dokter
Setiap masalah tentunya diikuti dengan harapan dan solusi untuk segera mengatasinya.
Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah peningkatan penghargaan terhadap dokter,
seperti pemberian insentif atau dana tambahan dari pemerintah. Hal ini akan memberikan
apresiasi yang lebih tinggi terhadap kontribusi dokter dalam menjaga kesehatan masyarakat.
Selain itu, penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai peran dokter
sebagai manusia biasa yang berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan
terbaik. Edukasi ini akan membantu mengurangi ekspektasi yang terlalu tinggi dan membebani
dokter, serta mendorong masyarakat untuk lebih memahami keterbatasan yang ada.

Kesimpulan
Peran dokter di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari beban kerja yang
berat hingga ekspektasi masyarakat yang terlalu tinggi. Situasi ini semakin diperburuk dengan
kurangnya penghargaan yang diterima dokter, yang berdampak negatif terhadap kesejahteraan
mereka. Kurangnya penghargaan ini berisiko menurunkan kinerja dokter dalam memberikan
pelayanan medis yang optimal. Oleh karena itu, penting untuk mengimplementasikan solusi
yang dapat memberikan penghargaan yang sebanding dengan kontribusi dokter, agar mereka
dapat menghadapi tuntutan masyarakat dengan lebih baik. Hal ini sangat diperlukan untuk
memastikan bahwa para dokter di Indonesia dihargai sesuai dengan pengorbanan yang telah
mereka berikan.

Referensi :
Attriani, A.N., 2022, ‘TANTANGAN DAN ISU STRATEGIS SUMBER DAYA KESEHATAN MANUSIA
KESEHATAN PADA PUSKESMAS DI INDONESIA’, 3(3).
Frenk, J., Chen, L.C., Chandran, L., Groff, E.O.H., King, R., Meleis, A. & Fineberg, H. V., 2022,
Challenges and opportunities for educating health professionals after the COVID-19 pandemic,
The Lancet, 400(10362), 1539–1556.
Nurul Hikmah B, K., Rahman, H., Puspitasari, A., Masyarakat, I.K. & Masyarakat, K., 2020,
MEMBANDINGKAN KETIMPANGAN KETERSEDIAAN TENAGA KESEHATAN PUSKESMAS DI
WILAYAH INDONESIA TIMUR, vol. 1.

[/cmsmasters_text][/cmsmasters_column][/cmsmasters_row]