“Bus Flash Unair: Kuota Selalu Penuh dari Kampus B, Mahasiswa Kampus A Minta Keadilan”
Oleh: Siti Aliya Fitasari
Siapa yang tak kenal dengan Bus Fast Local Area Shuttle (Flash) UNAIR?. Alat transportasi
andalan mahasiswa Universitas Airlangga yang menjadi solusi alternatif untuk menuju antar
kampus. Bus Flash UNAIR yang disediakan oleh pihak universitas memiliki jam operasional
mulai 05.30 hingga 17.00 WIB. Transportasi ini sangat membantu mengurangi biaya transportasi
khususnya mahasiswa PDB dalam akses menuju kampus karena fasilitas yang diberikannya
secara gratis. Namun sayangnya, ketersediaan kuota bus akhir-akhir ini menjadi keluhan
mahasiswa kampus A Universitas Airlangga. Apa penyebabnya?
Keluhan ini disebabkan karena bus sering penuh. Keluhan kesulitan mendapatkan tempat duduk
atau bahkan terpaksa menunggu lama. Hal tersebut terjadi, karena mayoritas penumpang di bera
oleh mahasiswa kampus B. Kondisi ini membuat tingkat kenyamanan mahasiswa kampus A
mulai memudar, sehingga menghambat efisiensi waktu dan aktivitas akademik mahasiswa.
Rizky Ardya, salah satu mahasiswa kampus A menyampaikan kekecewaannya. “ Saya sering
kali tidak kebagian tempat duduk, sering berdiri bahkan sering ditolak. Ini sangat merepotkan,
apalagi jika ada kelas pagi. Padahal saya sudah berada di halte dari pagi buta. Siapa yang tidak
kecewa coba. Rasanya tidak adil jika anak kampus A diperlakukan seperti ini”.
Pendapat serupa disampaikan Dina Aliyani, Mahasiswa Kampus A lainnya. Ia menyoroti
dominasi penumpang dari kampus B. “Setiap hari bus selalu penuh anak kampus B, kadang juga
bus datang tidak sesuai jadwal. Mahasiswa kampus b harusnya juga memiliki sikap empati
kepada kami. Jangan kuotanya dipenuhi semua. Sementara kami yang menunggu lama tidak
kebagian dan tetap tidak bisa naik.” ujar Dina Aliyani.
Faktor yang diduga menjadi penyebab kuota bus flash UNAIR di dominasi mahasiswa kampus
B, antara lain :
1. Jumlah Mahasiswa
Jumlah Mahasiswa Kampus B cenderung memanfaatkan fasilitas transportasi, dibanding
Mahasiswa Kampus A yang bisa dihitung dengan jari saja.
2. Lokasi Penjemputan
Kampus B menjadi lokasi pemberhentian tetap bus, memberikan kemudahan lebih mahasiswa
kampus B, dibandingkan kampus A hanya tempat singgah sementara bus.
3. Kapasitas Bus
Kapasitas bus yang terbatas tidak mampu menngakomodasi dengan jumlah mahasiswa yang
menggunakan layanan transportasi ini.
Dampak yang dirasakan mahasiswa dari permasalahan ini meliputi terlambat mengikuti
perkuliahan, rasa kecewa dan tidak nyaman, suasana bus yang sesak, efisiensi waktu terganggu,
serta meningkatnya biaya transportasi alternatif.
Lalu, langkah konkrit apa dalam menyikapi permasalahan tersebut?
Mahasiswa berharap pihak Universitas Airlangga segera tanggap dalam menyelesaikan
permasalahan yang terjadi. Beberapa solusi yang diusulkan antara lain :
1. Penambahan Jumlah Bus Unair
Menambah Jumlah Bus dapat mengakomodasi mahasiswa dari berbagai kampus.
2. Pembagian Kuota yang Adil
Mengalokasikan kuota khusus untuk mahasiswa kampus A agar layanan ini dapat
dirasakan secara merata.
3. Evaluasi Rute dan Penyesuaian jadwal
Melakukan evaluasi secara berkala terkait rute dan menambah frekuensi keberangkatan
bus dengan jadwal yang lebih disiplin.
Masalah ini memerlukan perhatian khusus dari pihak Universitas. Langkah-langkah strategis
harus segera diambil untuk memastikan mahasiswa mendapakan akses transportasi secara adil
dan nyaman. Sehingga kepuasan mahasiswa terhadap fasilitas yang ada dapat meningkat.
[/cmsmasters_text][cmsmasters_image shortcode_id=”9oodgv1o8x” align=”center” caption=”sumber: unair.ac.id” animation_delay=”0″]15010|https://lppmlingua.com/wp-content/uploads/2025/01/bus-flash-848×480-1-300×170.jpg|medium[/cmsmasters_image][/cmsmasters_column][/cmsmasters_row]
